Wednesday, June 2, 2010

Soal Unlam Polda Koordinasi BPKP

BANJARMASIN © Kasus dugaan penyimpangan bantuan pendidikan S2 dan
S3 di Unlam terus diselidiki Dit Reskrim Polda Kalsel. Kabar
terkini, Polda telah melakukan koordinasi dengan Badan Pengawas
Keuangan dan Pembangunan (BPKP) Kalselteng.
Á ÁRabu (2/6), Dir Reskrim Polda Kalsel Kombes Pol Achmat Juri
mengakui, pihaknya masih terus berupaya meminta keterangan pihak
terkait dengan bantuan serta mengumpulkan data dan dokumen yang
diperlukan guna kepentingan penyelidikan.
Á Á"Kita juga sudah berkoordinasi dengan BPKP untuk meminta
bantuan mengaudit keuangan dalam program bantuan tersebut. Mungkin
beberapa waktu lagi, hasilnya sudah turun," tukasnya.
Á ÁMenurut Juri, kasus tersebut memang terindikasi ada
penyimpangan. Hanya saja, untuk maju ke tingkat penyidikan,
pihaknya memerlukan kepastian tentang adanya kerugian negara dari
lembaga berkompeten seperti BPKP.
Á ÁDikatakan, mustahil melanjutkan ke tingkat penyidikan jika
ternyata dari hasil audit investigasi BPKP ternyata tak ada
ditemukan kerugian dalam pelaksanaan program bantuan pendidikan di
Unlam.
Á ÁPolda sendiri begitu gencar melakukan penyelidikan ke Unlam
Banjarbaru, seperti ke Fakultas Perikanan, Fakultas Kehutanan dan
Fakultas Teknik, sehubungan adanya pengaduan dari masyarakat
tentang adanya penyimpangan bantuan pendidikan ke jenjang S2 dan S3
dari Pemprov Kalsel.
Á ÁPetugas penyelidik juga sudah membawa sejumlah berkas dan
dokumen di sejumlah fakultas tersebut. Demikian juga sejumlah dosen
yang menerima bantuan, beberapa sudah dimintai keterangan.
Á ÁBahkan, masih terkait kasus tersebut, sempat terjadi insiden
memalukan di Fakultas Perikanan, seorang guru besar wanita di
Fakultas Perikanan Agribisnis Unlam Banjarbaru, Prof Emmy Sri
mengaku dipukul bahkan diancam oleh sesama guru besar pria
berinisial ASH. Kasusnya diakui Sat Reskrim Polresta Banjarbaru
sudah ditangani.
Á ÁMenurut keterangan Emmy, beberapa waktu lalu, dirinya terpaksa
mengadukan ASH karena sudah bertindak tidak wajar, yakni memukul
dengan kepalan tangan ke arah kepala sebanyak tiga kali.
Á ÁKejadian itu pada Rabu (11/5) siang. Ketika itu, lanjutnya, ia
baru saja selesai mengajar di Fakultas Perikanan Agribisnis dan
masuk ke ruang guru besar.
Á Á"Tiba©tiba tanpa saya ketahui sebabnya, dia datang sambil
teriak©teriak disertai ancaman dan memukul tiga kali pakai kepalan
tangan ke kepala saya. Untung saya masih sempat menghindar,"
ucapnya. "Awas pian bu ai," ucap Emmy menirukan ancaman ASH.
Á Á"Padahal saya tidak diberitahu masalahnya dan duduk
persoalannya, apalagi mengklarifikasi," tambahnya.

Kejadian yang cukup cepat tersebut tentu saja mengagetkan korban,
bahkan seorang guru besar lagi yang kebetulan menyaksikan kejadian
tersebut. Sementara dua dosen lainnya sempat mendengar kegaduhan
tersebut dari balik bilik.
Á ÁDisinggung apakah kejadian tersebut dipicu soal masuknya
penyelidikan Sat III Tipikor Polda Kalsel ke fakultas tersebut,
Emmy mengaku tidak bisa memastikannya.Ô h) 0*0*0*° ° ÔŒ™Á Á"Kayaknya ada hubungannya. Karena waktu dia menggerutu dan
teriak©teriak, seperti ada menyebutkan Polda. Sepertinya ada
indikasi menyangka saya yang telah melaporkan (ke Polda). Sumpah
saya tidak tahu apa©apa," ucapnya.Ã Ã adi

No comments: