Tuesday, June 29, 2010

Nasabah Tertarik Setelah Baca Buku Tentang Lihan

 
MARTAPURAÄ Ä © Sidang lanjutan perkara terdakwa Lihan, seorang
pengusaha intan asal Cindai Alus Martapura di Pengadilan Negeri
(PN) Martapura semakin menarik. Sepertinya, fakta yang didapat di
persidangan, baik berupa barang bukti maupun keterangan saksi bakal
menentukan nasib terdakwa, apakah akan divonis atau bahkan
dibebaskan dengan hanya tersandung kasus perdata.
Á ÁDalam sidang Senin (28/6) siang, tadinya akan dihadirkan lima
orang saksi dari nasabah, namun hanya tiga orang yang bisa
dihadirkan, salah satunya saksi Nasrullah yang dulunya saat
berinvestasi merupakan honorer di salah satu madrasah Banjarmasin,
kini menjadi sopir.
Á ÁDalam keterangan saksi terungkap, kalau buku tentang terdakwa
yang diterbitkan dan beredar di pasaran, cukup mempengaruhinya
untuk berinvestasi. Bahkan dia percaya dengan bisnis terdakwa
selama ini, di antaranya bisnis intan, rental helikopter,
penerbangan Merpati, dan masih banyak lagi, meskipun dia sendiri
tidak pernah menyaksikannya langsung.
Á ÁBahkan dia tidak ragu©ragu menanamkan modalnya karena
terkenalnya nama terdakwa sejak memiliki intan putri malu, dan
memandangnya sebagai orang dermawan, suka membantu masjid dan
sesamanya, apalagi dengan keuntungan sepuluh persen dari modal yang
selama ini didapat.
Á ÁMajelis hakim yang diketuai Edy Suwanto SH MH memberi
kesempatan kepada terdakwa untuk menyanggah apa yang diutarakan
saksi. Menurut terdakwa Lihan, hasil sepuluh persen yang didapat
nasabah tidak pernah ada dalam perjanjian.
Á Á"Yang benar bagi hasil 60 dan 40 persen, sepuluh persen adalah
anggapan atau persepsi nasabah selama ini, angka tersebut muncul
karena saya punya hitung©hitungannya," ujarnya terdakwa.
Á ÁMengenai buku tentang dirinya, terdakwa menyatakan, dirinya
tidak pernah membuat orang tertarik atau mempengaruhi orang melalui
isinya. Buku itu sendiri merupakan tulisan dari penulisnya, bukan
dirinya yang menulis dan bukan atas kemauannya.
Á ÁMenanggapi pertanyaan hakim kepada saksi, di mana perusahaan
mestinya tetap bisa dijalankan dan bisa membagi hasil tanpa dia
harus turun ke lapangan, terdakwa berkilah bahwa semua perusahannya
sudah diblokir Polda Kalsel.
Á ÁSidang kembali dilanjutkan pada pekan depan, dengan agenda
tetap keterangan saksi, karena rencananya total 25 saksi bakal
dihadirkan secara bertahap.
Á ÁTerdakwa didakwa jaksa penuntun umum (JPU) Fadlan SH
sebagaimana diatur dan diancam pidana berdasarkan pasal 3 ayat (1)
huruf a, b, c, d, e UU RI No 25 Tahun 2003 tentang perubahan atas
UU RI No 15 Tahun 2002 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang. Selain
mengenakan dakwaan tindak pidana pencucian uang, JPU juga mendakwa
Lihan melakukan perbuatan sebagaimana diatur dan diancam pidana
berdasarkan pasal 59 ayat (1) UU RI No 21 Tahun 2008 tentang
Perbankan Syariah.
Á ÁSedang dakwaan primernya pada terdakwa yang didampingi tim
penasehat hukum dari kantor pengacara Masdari Tasmin SH, adalah
pasal 46 ayat (1) UU RI No 10 Tahun 1998 tentang Perubahan Atas UU
RI No 7 Tahun 1992 tentang Perbankan.
Á ÁDakwaan primer itu dikenakan JPU karena terdakwa didugaÔ h) 0*0*0*° ° Ô menghimpun dana masyarakat dalam bentuk simpanan tanpa izin usaha
dari Pimpinan Bank Indonesia sebagaimana dimaksud pasal 16. Untuk
dakwaan subsider, jaksa mengenakan terdakwa melanggar pasal 387
KUHP dan lebih subsider melanggar pasal 372 KUHP. Ã Ãdio/adi

No comments: