Thursday, June 24, 2010

Jaringan Pemalsu FAKO Ditangkap

BANJARMASIN © Tiga orang yang diduga berkomplot melakukan pemalsuan
faktur asal kayu olahan (FAKO), Mas alias Likhun, Rudy dan Wah,
ditangkap aparat Sat IV Tipiter Dit Reskrim Polda Kalsel, Rabu
(23/6) sekitar pukul 13.00 Wita.
Á ÁKamis (24/6), Kasat IV Tipiter AKBP Purwanto melalui Panit II
AKP Purianto membenarkan bahwa pihaknya sudah mengamankan dan
menahan ketiga tersangka yang diduga melakukan persekongkolan
melakukan pemalsuan FAKO.
Á Á"Mereka akan dijerat dengan pasal 263 KUHP dengan ancaman
hukuman enam tahun," tukas Purianto.
Á ÁMulanya, aparat melakukan patroli dan mendapat informasi kalau
ada pengusaha kayu olahan jenis galam yang memakai FAKO palsu untuk
mendampingi pengangkutan kayu olahan galam menggunakan KM Mahlufi
03A, di Sungai Martapura, Banjarmasin Selatan.
Á ÁKemudian, aparat memeriksa kapal motor tersebut yang ternyata
mengangkut sekitar 24 meter kubik kayu olahan jenis galam. Sang
pemilik, Mas, warga Mantuil RT 33 Banjarmasin Selatan memang
memperlihatkan FAKO No Seri CV DP.1810.A 000125 yang diterbitkan
oleh CV Duta Pasifik.
Á ÁNamun, setelah dicek secara seksama, ternyata kayu galam
olahan tersebut bukan berasal dari CV Duta Pasifik, melainkan
berasal dari hasil mengumpul yang dilakukan Mas sendiri.
Á ÁFAKO itu sendiri diduga keras adalah palsu, sehingga polisi
kemudian melakukan pengembangan.
Á ÁMas mengakui bahwa dirinya membeli FAKO itu dari seseorang
melalui perantaraan Rudy, warga Alalak. Polisi kemudian menciduk
Rudy. Di depan petugas, Rudy mengakui bahwa yang membuat FAKO
tersebut adalah Wah, seorang staf di CV Duta Pasifik.
Á ÁWah, warga Jl Kinibalu RT 67 Banjarmasin Tengah mengakui kalau
ia yang membuat FAKO palsu itu. "FAKO itu saya buat sendiri dengan
memanfaatkan FAKO kosong milik CV Duta Pasifik. Saya tahu ini
memang tidak boleh, karena bisa dimarahi pimpinan. Tetapi, karena
gaji saya kecil, jadi terpaksa cari usaha sampingan seperti ini.
Dalam enam bulan, paling banter sekali sebulan bisa menerbitkan
FAKO resmi. Untuk tiap meter kubik, saya minta tarif Rp30 ribu,"
akunya.
Á ÁSementara Rudy mengatakan, ia hanya sekadar ingin membantu Mas
yang juga adalah temannya. "Kebetulan saya mendengar dari teman,
kalau Wah bisa membantu membuatkan FAKO untuk kelancaran pengiriman
kayu," cetusnya.
Á ÁAdapun Mas menyatakan, ia tidak mengetahui kalau membeli FAKO
tersebut tidak dibenarkan. "Yah, saya pikir tidak mengapa, karena
sebelumnya pernah sekali buat dan di mana©mana ada juga yang pakai
seperti itu," bebernya.
Á ÁMas sudah menjalankan usahanya selama dua bulan, karena
penghasilan sebagai karyawan perusahaan tidak besar dan terpaksa
berhenti. Kayu olahan yang dimodalinya sebesar Rp20 juta ini
rencananya akan dikirim ke perusahaan di kawasan Trisakti. Ã Ãadi

No comments: