Wednesday, June 30, 2010

4 Oknum Polsek Alabio Diperiksa Provos

BANJARMASIN Ä Ä© Keempat oknum polisi anggota Polsek Alabio Resort HSU
masing©masing bernama, Aiptu M Tampubulon, Bripka K Lumban Toruan,
Briptu Nur Ananda, dan Briptu Muhammad K, menjalani pemeriksaan
oleh Provos Bid Propam Polda Kalsel, Rabu (30/6).
Á Á"Mereka ini akan kita periksa, apakah ketika melakukan
penangkapan sudah memenuhi prosedur ataukah tidak. Memang,
penggunaan senjata api, hanya untuk melumpuhkan pelaku yang akan
membahayakan keselamatan anggota atau karena akan melarikan diri,"
cetus Kapolda Kalsel Brigjen Pol Untung S Rajab.
Á ÁJika memang terjadi kesalahan prosedur, maka bisa saja keempat
oknum ditindak sesuai dengan tingkat kesalahannya, apakah akan
dikenakan sanksi disiplin atau malah bermuatan pidana.
Á Á"Saksi©saksi lain juga sedang kita periksa, apakah keempat
oknum begitu arogan ataukah memang karena terpaksa melakukan
penembakan," bebernya lagi.
Á ÁSebelumnya, pada Senin (28/6) malam sekitar pukul 21.30 Wita,
dikeroyok dan dikejar oleh ratusan warga Desa Sungai Buluh,
Balanti, Mantaas, Rantau Bujur, Kecamatan Labuan Amas Utara (LAU),
Kabupaten HST.
Á ÁUntungnya, keempat anggota polisi itu berhasil menyelamatkan
diri. Akibatnya luapan kekesalan mereka berujung dengan pembakaran
sebuah mobil Kijang tim Buser Polres HSU.
Á ÁBerdasarkan keterangan warga, pada malam kejadian tersebut,
ratusan warga dari empat desa yang melengkapi diri dengan senjata
tajam berupa parang panjang, mandau, serta berbagai jenis senjata
tajam lainnya mencari oknum polisi yang menembak Idrus (44), warga
Jl Antasari Desa Sungai Buluh RT 2 Kecamatan LAU HST yang ditangkap
di rumahnya, dan bukan di pengajian.
Á ÁDari informasi yang berhasil dihimpun dari berbagai sumber
hingga Rabu (29/6) dini hari sekitar pukul 04.00 Wita, warga masih
berjaga©jaga untuk mencari lima oknum polisi yang berasal dari
Polsek Alabio.
Á ÁSeorang warga masyarakat yang bersasal dari Desa Galagah RT 3
Kecamatan Sungai Tabukan HSU menuturkan, awalnya anggota polisi
asal Alabio itu ingin menangkap Idrus di rumahnya dan waktu itu
anggota polisi ini memarkir mobil jenis Kijang Grand di salah satu
rumah milik warga Sungai Buluh tepatnya di depan Masjid Shalihin.
Kala itu bertepatan adanya pemadaman aliran listrik.
Á ÁEntah berapa lama, anggota polisi ini mengepung empat sudut
rumah Idrus dan ketika menanyakan keberadaan Idrus kepada salah
seorang anaknya dan kepada Jumiati (40), istri Idrus. Polisi
mengatakan, Idrus tersangkut kasus penganiayaan terhadap Yuni,
warga Desa Galagah.
Á ÁTak berapa lama Idrus yang sedang di pengajian dipanggil
anaknya. Begitu Idrus sampai di rumah ia langsung ditangkap.
Á ÁEntah kenapa secara tiba©tiba keluar suara tembakan tiga kali
ke udara, karena takut Idrus lari dan salah satu anggota polisi
menembak dan berhasil mengenai kaki kiri Idrus. Dari keterangan
ratusan warga, setelah Idrus ditembak dan diborgol oleh oknum
polisi, kemudian Idrus langsung diinjak©injak kakinya serta
diseret.
Á ÁKegaduhan itulah membuat warga sekampung kesal, setelah warga
melihat kejadian itu, langsung saja beberapa warga mengumumkan diÔ h) 0*0*0*° ° Ô corong masjid yang menyatakan bahwa ada polisi luar Barabai yang
main hakim sendiri.
Á ÁTak berselang lama ratusan warga mendatangi lokasi kejadian.
Sempat terjadi perdebatan serta saling main ancam, jika
menghalangi tugas polisi akan ditembak. Suara yang keluar dari
salah seorang okjnum tersebut, mengakibatkan warga marah.
Á ÁMelihat suasana sangat panas, keempat oknum polisi ini lari ke
semak berawa yang digenangi air. Setelah berhasil lari dan
menghilang di kegelapan malam, warga berusaha mencari.
Á ÁSebagian warga mendorong mobil sambil merusaknya hingga masuk
selokan. Tidak puas sampai di situ, warga kembali menarik mobil itu
keluar selokan menggunakan mobil truk dan menyeret mobil yang sudah
tidak berbentuk lagi. Mobil diseret sejauh 100 meter dari tempat
itu dan membawanya ke tanah lapang untuk dibakar. Setelah tingal
kerangka mobil itu kembali didorong beramai©ramai ke selokan
hingga hampir tenggelam.
Á ÁSalah satu tokoh masyarakat Sungai Buluh, H Fahruddin dalam
kejadian mengaku berusaha menenangkan warga yang sudah emosi dan
berhasrat menghakimi anggota polisi karena bertindak sewenangªwenang.
Á ÁH Fahruddin menasihati warga warga jangan sampai main hakim
sendiri karena semua bisa dibicarakan, mengingat Senin (28/6) dini
hari itu juga Kapolres HSU, HST, Kapolsek Alabio dan perwakilan
warga Sungai Buluh bertemu di Alabio untuk membicarakan kasus yang
sangat menggemparkan itu.
Á ÁMenurut Kapolres HSU AKBP Drs H Agus Irianto SH MSi, mulanya
Idrus dibuat kesal karena selalu dijanjikan akan dibayar tapi tidak
pernah ada realisasi. Idrus menagih ke rumah Yuni, ternyata Yuni
cuma sanggup membayar Rp1.050.000 dari Rp1.200.000 utangnya. Idrus
cs lalu memukul Yuni. Tak terima Idrus sudah main hakim sendiri,
Yuni lantas mengadu ke Polsek Alabio, 4 Juni 2010 lalu.
Á ÁSetelahÁ ¸ ¸ Á sempat 10 jam bersembunyi di hutan, keempat oknum
akhirnya berhasil dievakuasi di salah satu rumah warga Desa
Balanti, Selasa (29/6) sekitar pukul 05.00 Wita oleh satu pleton
Brimob dari Tanjung.
Á Á"Merekasudah berada di Mapolda Kalsel, selain untuk menjaga
netralitas, mereka juga akan dimintai keterangan," ucapnya.
Terkait penembakan, Agus juga menjelaskan bahwa posisi anggota
dalam menjalankan tugas, sudah sesuai prosedur. "Tersangka membawa
senjata tajam, dan anggota sangat mengerti
posisinya," katanya sembari menjelaskan bahwa tersangka dijerat
pasal 170 KUHP tentang penganiayaan dan saat ini sedang mengalami
perawatan di ruang Yakut kelas III B RSUD H Damanhuri Barabai HST.
à Ãwin/adi

No comments: