Wednesday, May 5, 2010

Tersangka Hadiri Pemeriksaan

BANJARMASINÄ Ä © Tersangka kasus dugaan korupsi proyek distribusi
listrik di Dinas Pertambangan dan Eenergi (Distamben) Tapin,
menghadiri pemeriksaan di Kejati Kalsel. Selasa (4/5), giliran Hel
dan Suk yang menemui penyidik.
Á ÁSedangkan Senin (3/5) lalu, lima anggota panitia lelang
proyek, masing©masing Mas (ketua panitia) dan anggotanya, Hsn, Sug,
Rah, dan Neta sudah terlebih dahulu menghadiri panggilan penyidik
untuk menjalani pemeriksaan terkait proyek yang bernilai Rp5,5
miliar itu.
Á ÁMenurut sumber di Kejati Kalsel, kedua tersangka yang berkas
pemeriksaannya terpisah, diperiksa mulai pukul 09.00 Wita dan
istirahat menjelang dzuhur, namun dilanjutkan lagi selepas itu.
Á ÁMenurut Kasi Penkum dan Humas Kejati Kalsel Johansyah SH
didampingi penyidik Rufina Ginting SH, masing©masing ada sekitar 16
pertanyaan yang disodorkan kepada para tersangka.
Á ÁPertanyaan sudah memasuki materi pemeriksaan. Kepada Hel yang
juga anggota DPRD HST ini dipertanyakan tentang peranannya sebagai
leader konsultan perencana.
Á ÁBaik Hel maupun kuasa hukumnya Dewi Hartiningsih SH tidak
banyak memberikan komentar. Sementara kuasa hukum Suk, Dian Corona
SH mengatakan, kliennya diperiksa kaitannya sebagai staf di
Distamben Tapin yang ikut membantu proses lelang. "Klien kami
mengikuti dan menghormati prosedur hukum yang sedang berjalan ini,"
jelasnya kepada pers.
Á ÁKejati Kalsel mengusut kasus dugaan korupsi pada proyek
distribusi listrik di Tapin senilai Rp5,5 miliar yang diduga
merugikan keuangan negara sebesar Rp1,1 miliar.
Á ÁHel, kader Partai Patriot dan anggota Fraksi Papadaan di DPRD
HST, turut dijadikan tersangka bersama enam tersangka lainnya.
Keenam tersangka itu, terdiri dari panitia lelang proyek, yakni Mas
(ketua panitia), Hsn, Sug, Rah dan Nita. Seorang lagi di berkas
terpisah adalah Suk, staf di Distamben Tapin.
Á ÁDikatakan, tersangka Hel ketika proyek terjadi di 2009,
bertindak selaku konsultan. Sedangkan lima lainnya Mas, Hsn, Sug,
Rah dan Nita merupakan panitia lelang. Sementara Suk, staf di
Distamben Tapin yang diduga turut terlibat dalam kasus ini.
Á ÁLelang dan pelaksanaan proyek distribusi listrik ini terjadi
tahun 2009 lalu dan dilaksanakan oleh Distamben Tapin. Nilai proyek
yang tercatat adalah Rp5,5 miliar, meski ada versi lain menyebutkan
Rp7 miliar.
Á ÁDalam pelaksanaan tender, tercatat ada sembilan perusahaan
yang memenangkan lelang. Hanya saja, dari desas©desus, kesembilan
perusahaan merupakan perusahaan yang dimiliki orang©orang dekat
dengan oknum di dinas tersebut.
Á ÁProyek pemasangan tiang dan kabel listrik di Desa Lokpaikat,
Salam Babaris, Hatungun, Binrang dan Tandui terindikasi di©Ã Ãmark upÄ Ä.
à Ãadi

No comments: