Friday, May 14, 2010

Oknum Anggota DPRD HST Diadukan

BANJARMASIN © Seorang oknum anggota DPRD HST, H Sub, dilaporkan ke
Sat I Krimum Dit Reskrim Polda Kalsel karena dianggap telah
melakukan penipuan dan penggelapan uang senilai Rp221 juta milik
pengadu, H Abdul Latief ST SH MH.
Á ÁJumat (14/5), kuasa hukum Abdul Katief, Dana Hanura SH
membenarkan kalau pihaknya berdasar surat kuasa kliennya telah
melaporkan Sub ke Sat I Krimum Dit Reskrim Polda Kalsel.
Á Á"Pengaduan klien kami sudah didaftarkan ke Polda Kalsel.
Terlapor, yakni Sub diduga melanggar pasal 378 KUHP tentang
penipuan dan pasal 372 KUHP tentang tindak pidana penggelapan,"
ujar seorang pengacara dari Kantor Pengacara Dana Hanura, Jumat
(14/5).
Á ÁSebagaimana diceritakan pelapor, kronologis kejadian bermula,
ketika terlapor, Januari 2010 lalu yang merupakan Sekretaris DPD
PAN HST memberikan janji kepada pelapor untuk mengajukan mosi tidak
percaya ke DPW PAN Kalsel agar mengganti Ketua DPD PAN HST H Abdul
Hakim Halim. Pengajuan mosi tidak percaya dilakukan dengan cara
mengumpulkan persetujuan sembilan DPC PAN se©HST.
Á ÁDikatakan pelapor, untuk mengurus mosi tidak percaya itu,
terlapor meminjam dana dari pelapor sebesar Rp71 juta.
Á ÁNamun, lanjut pelapor, pengajuan mosi tidak percaya itu tidak
dilakukan apalagi diserahkan ke DPW PAN Kalsel.
Á ÁSelanjutnya, pada bulan Maret 2010, kembali terlapor
memberikan janji kepada pelapor untuk tidak ikut menandatangani
pencalonan Ketua DPD PAN HST, H Abdul Hakim Halim sebagai calon
bupati dalam Pilkada HST yang akan diajukan ke Tim Verifikasi
Pilkada DPW PAN Kalsel.
Á ÁUntuk melaksanakan janji tersebut, terlapor, yakni H Sub
meminjam kembali dana sebesar Rp150 juta dari pelapor.
Á ÁDiterangkan oleh pelapor lagi, dari penelusurannya, ternyata
Sub tidak ada menyerahkan dana tersebut ke tim verifikasi, hal itu
sesuai informasi dari Rahmat Nopliardy sebagai ketua tim
verifikasi. Anehnya, lanjut pelapor, justru terlapor ada memberikan
tanda tangan persetujuan pencalonan H Abdul Hakim Halim sebagai
calon bupati yang berkasnya sudah diserhakan ke KPUD HST.
Á ÁMenurut pelapor, pengeluaran dana yang dipinjam terlapor,
sudah tercatat dalam dua kuitansi, masing©masing bernilai Rp71 juta
dan Rp150 juta yang ada tanda tangan terlapor. Proses pinjaman dan
penandatangan kuitansi dilakukan terlapor di Hotel Sempaga dan
disaksikan oleh Athaillah Hasbi SSos SH dan M Fansury SHut SH.
Á ÁMenurut pelapor, ia pernah menagih uang pinjaman tersebut dari
terlapor, namun terlapor menolaknya dengan alasan yang tersebut
telah diserahkan kepada pihak©pihak terkait. "Akibat perbuatan
terlapor, saya mengalami kerugian sebesar Rp221 juta," kata Abdul
Latief dalam laporan tertulisnya. adi

No comments: