Monday, May 31, 2010

H Muhidin Diperiksa Reskrim Polda

BANJARMASINÄ Ä © Pengusaha dan juga Calon Walikota Banjarmasin, H
Muhidin di tengah kesibukannya menjelang Pemilukada Banjarmasin
2010©2015 ternyata sempat menjalani pemeriksaan di Dit Reskrim
Polda Kalsel terkait kasus dugaan pemalsuan Sertikat Hak Milik
(SHM) sebuah tanah di Jl A Yani Gambut.
Á ÁHanya saja, kapasitas H Muhidin, petinggi Partai Bulan Bintang
(PBR) Kalsel ini sebatas saksi korban.
Á ÁMinggu (30/5), Kasat I Krimum Dit Reskrim Polda Kalsel
didampingi Kanit IV AKP Alex Soewardi membenarkan bahwa pihaknya
sedang menangani kasus dugaan pemalsuan SHM dengan tersangka Emmy,
warga Banjarbaru.
Á Á"Emmy sudah kita tetapkan sebagai tersangka pasal 263 ayat (1)
KUHP terkait dugaan pamlsuan SHM sebuah tanah di Gambut. H Muhidin
sudah kita periksa, kaitannya sebagai saksi korban," jelas Alex.
Á ÁH Muhidin disinyalir membeli lahan tersebut dengan harga Rp600
juta lebih, meskipun dari pengakuan Emmy, tanah itu dijual ke
Muhidin seharga Rp200 juta lebih. Dua pengakuan berbeda ini terang
saja membuat keanehan.
Á ÁSempat muncul dugaan kalau H Muhidin dan Emmy ada kerja sama
untuk menguasai sebuah bidang tanah yang diklaim pelapor, Nirwanati
sebagai hak miliknya itu.
Á ÁDugaan muncul mengingat tanah dijual begitu murah oleh Emmy,
meskipun tanah itu nilainya bisa miliaran rupiah. Namun, spekulasi
maupun dugaan ini langsung dimentahkan penyidik yang menganggap H
Muhidin justru sebagai korban dalam kasus tersebut.
Á ÁEmmy sendiri meski menjadi tersangka kasus yang ancaman
hukumannya lima tahun atau lebih, justru tidak ditahan. "Emmy tidak
kita tahan, dia kita kenakan wajib lapor," cetusnya.
Á ÁTanah di tepi Jl A Yani Km 17 itu sendiri, konon sempat diurug
H Muhidin, namun belakangan dihentikan karena adanya protes dari
pelapor, Nirwanati yang menganggap tanah tersebut masih miliknya.
Á ÁKamis (27/5) malam, terlapor, Emmy (50), warga Banjarbaru
dijemput polisi dan hingga Jumat (28/5) kemarin, dikabarkan masih
menjalani proses pemeriksaan oleh penyidik.
Á ÁEmmy dilaporkan Nirwanati (68), warga Jl Pulo Mas III A/9 RT
004 RW 012 Kelurahan Kayu Putih Kecamatan Pulau Gadung Jakarta
Timur karena diduga sudah merugikan pelapor, setelah memalsukan SHM
No 21/1972.
Á ÁJumat (28/5), kuasa hukum Nirwanati, Ketut Bagiada SH yang
berkantor Jl Hang Tuah No 34A Sanur, Denpasar, Bali menerangkan
kepada pers, setelah sekian lama, kasus LP No Pol: LP/Kª225/XII/2008/Dit Reskrim Polda Kalsel, tanggal 1 Desember 2008 yang
dilaporkan pihaknya mulai berjalan lagi.
Á ÁMenurutnya, akibat tindakan Emmy, kliennya mengalami kerugian
hingga Rp2 miliar, akibat tanah miliknya di Jl A Yani Km 17,45
Gambut, Kabupaten Banjar sesuai SHM Nomor 537, pengeluaran
Sertifikat Sementara tanggal 10 Nopember 1977, di Desa Gambut,
Kecamatan Gambut, Kabupaten Banjar, Gambar Situasi No 602/77 seluas
10.000 meter persegi atas nama Nirwanati, diserobot Emmy.
Á ÁMenurut Bagiada, kliennya Nirwanati melaporkan kasus
penyerobotan lahannya pada akhir tahun 2008 lalu. Kala itu,
penyidik bersama tim BPN Kalsel membentuk tim ad hoc untuk meneliti
keabsahaan SHM yang dikuasai Emmy, yakni SHM No 21/1972 atas namaÔ h) 0*0*0*° ° Ô Miansyah bin Tambi.
Á ÁDari hasil penelitian tim ad hoc yang ditandatangani Kepala
Bidang Pengkajian dan Penanganan Sengketa, Konflik dan Perkara
Pertanahan Amir Machmud Tjiknawi SH MH, diduga kuat SHM No 21/1972
atas nama Miansyah palsu atau hasil menyontek SHM SHM No 21/1972
atas nama L Koenoem yang letak tanahnya di Jl A Yani Km 13,600.
Á ÁPosisi SHM 21/1972 atas nama Miansyah yang digunakan Emmy,
justru lokasi tanahnya di Jl A Yani Km 17,700 yang di atas lahan
itu ada dua SHM yang sah, yakni SHM No 537 atas nama Nirwanati dan
SHM No 533 atas nama Shirle Oei.
Á ÁIndikasi yang memperkuat SHM 21 dipalsukan adalah, gambar
teknis tidak dapat dipertanggungjawabkan, sebab tanah itu sebelah
timur atas nama Tambi dan barat Djantera, padahal kedua nama tidak
ada di Buku Desa Kantor BPN Banjar.
Á ÁSelain itu, ejaan di SHM 21/1972 atas nama Miansyah yang
menurut Emmy adalah suaminya, terdapat kejanggalan ejaan, seperti
Miansyah seharusnya Miansjah. Demikian juga nama Djln A Yani
seharusnya Djl A Yani. Tulisan pada gambar ukur juga bukan
merupakan tulisan indah sebagaimana standar penulisan surat penting
dan berharga. Ã Ãadi

No comments: