Tuesday, May 25, 2010

Diobservasi 14 Hari Di RSJ

BANJARMASINÄ Ä © Dika (18), tersangka kasus pembunuhan terhadap ibu
kandung, diobservasi kejiwaannya di Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Sambang
Lihum, Gambut, Kabupaten Banjar selama 14 hari.
Á Á"Mengingat kondisi psikologi tersangka sedang tidak stabil,
tersangka selama 14 hari diobservasi di RSJ Sambang Lihum. Jadi
kejiwaan tersangka dikonsultasikan dengan dokter ahli jiwa," ujar
Kasat I Krimum Dit Reskrim Polda Kalsel AKBP Helfi Assegaff, Senin
(24/5).
Á ÁMenurutnya, setelah 14 hari diharapkan dokter yang menangani
Dika sudah bisa melaporkan bagaimana hasil pemeriksaannya terhadap
kejiwaan tersangka.
Á Á"Jika ternyata hasil observasi, Dika dinyatakan memang
mengalami sakit jiwa, maka kita akan mencari lagi saksi ahli untuk
memastikan kondisi kejiwaan Dika yang sebenarnya," jelasnya.
Á ÁHelfi menambahkan, sementara dari hasil pemeriksaan penyidik,
Dika membunuh Darmatasiah (37), ibunya sendiri, disebabkan hanya
karena perasaan jengkel.
Á Á"Dari pengakuannya, tersangka merasa jengkel karena beberapa
kali mengambil air wudhu dan hendak shalat isya selalu buang angin
sehingga batal. Akibat beberapa kali batal, tersangka jengkel dan
untuk menumpahkan kejengkelannya, tersangka menebaskan senata tajam
jenis mandau kepada korban," ungkapnya.
Á ÁMeski kurang masuk akal, ujarnya, hal itu baru sebatas
pengakuan tersangka. "Ini masih perlu diperdalam lagi, makanya kita
masih menunggu sampai kondisi kejiwaan tersangka kembali stabil,"
cetusnya.
Á ÁDitambahkan, antara tersangka dengan korban sejauh informasi
yang diterima, sebenarnya biasa©biasa saja. "Tak pernah ada
pertengkaran yang hebat. Kalau pun korban marah terhadap tersangka,
cuma sekadar mencubit paha tersangka sebagai bentuk rasa sayang dan
ini masih normal. Penyidik masih kesulitan mengungkap motif
sebenarnya," akunya.
Á ÁSelain itu, lanjutnya, diketahui, korban yang mengetahui kalau
tersangka sangat potensial dan cerdas di sekolahnya, MAN Martapura,
berkehendak Dika menjadi seorang dokter, sehingga mesti kuliah di
fakultas kedokteran.
Á ÁMeski demikian, sang ayah, Bripka Agung W, anggota Brimobda
Polda Kalsel, menghendaki agar Dika cukup menjadi seorang perawat.
Bahkan, oleh sang ayah, Dika sudah didaftarkan di salah satu
akademi keperawatan.
Á Á"Korban ingin anak tunggalnya menjadi dokter, smentara sang
ayah ingin anaknya jadi perawat. Dika mungkin saja lebih memahami
keinginan sang ayah, mengingat kondisi keuangan keluarga yang
memang tidak seberapa. Mungkin saja, korban kurang puas atas
pilihan korban, sehingga ada hal yang membuat tersangka jengkel.
Namun, sekali lagi itu baru praduga, karena masih perlu diselidiki
lagi," ungkapnya.
Á ÁHanya saja, tambahnya, Dika berdasar keterangan saksi memang
remaja yang tertutup dan tidak banyak bergaul (introvert). Bahkan,
shalat berjamaah ke masjid, kerap didampingi ibunya alias si
korban.Á ` ` ÁÔ h) 0*0*0*° ° ÔŒ™Á ÁGuna lebih memperdalam dan mengungkap apa sebenarnya motif
tersangka, penyidik akan memintai keterangan tiga teman Dika yang
dianggap lumayan dekat dengan Dika, sesama siswa MAN Martapura.
Á ÁSebagaimana diketahui, Dika (18) membunuh Darmatasiah (37)
yang merupakan ibunya sendiri di rumah dinas Kompleks Brimob, Jl
Kenanga RT 1 RW 1 Guntung Payung Banjarbaru, pada Kamis (20/5)
malam sekitar pukul 20.00 Wita.
Á ÁKorban yang merupakan istri seorang anggota Brimobda Kalsel
Bripka Agung W, mengalami luka tak beraturan di bagian kepala
hingga otaknya berhamburan dan kedua tangan putus akibat sabetan
mandau tersangka.Ã ÃÄ Ä
Á ÁSebelumnya, korban sempat mengajak anaknya itu untuk shalat
berjamah di masjid tak jauh dari rumah. Mereka berdua berangkat ke
masjid untuk shalat maghrib berjamah, dilanjutkan mengaji, dan
selanjutnya shalat isya.
Á ÁKorban usai shalat kemudian pulang duluan, sementara Dika
masih bersalam©salaman dengan sesama jamaah shalat.
Á ÁSesampai di rumah, korban diduga beristirahat di kamar. Meski
rebahan, korban masih berdzikir dan wiridan. Dika kemudian datang
ke rumah, namun langsung ke pemandian untuk mengambil air wudhu.
Á ÁDiduga, Dika mesti berwudhu lagi, karena wudhu yang pertama
batal setelah buang angin (belakangan diketahui wudhu berulangªulang). Selepas itulah diduga Dika mengambil senjata tajam jenis
mandau dan langsung menghampiri ibu yang telah melahirkannya itu.
Á ÁEntah kenapa, Dika diduga secara membabi©buta mengayunkan
mandau itu ke arah ibunya yang sedang rebahan sedang berdzikir.
Teriakan korban tak dihiraukan, dan Dika diduga berkali©kali
menebaskan mandau itu, sehingga kedua tangan korban putus, bahkan
kepala bahu dan tubuh korban terluka parah. Ironisnya, otak korban
sampai berhamburan akibat kepalanya dicincang beberapa kali.
Á ÁKetika Dika beraksi, korban sempat berteriak minta tolong dan
didengar tiga orang tetangga. Bahkan, salah satu tetangga,
memberanikan diri menengok lewat ventilasi kamar dan melihat
tersangka sedang menebas korban.
Á ÁPetugas Brimobda kemudian mendobrak pintu di TKP yang sengaja
dikunci dari dalam oleh tersangka. Begitu berhasil, korban terlihat
melarikan diri lewat pintu belakang, hingga akhirnya tertangkap di
rumah pembelian suami korban di Kompleks Wengga Banjarbaru. Ã Ãadi

No comments: