Sunday, May 30, 2010

Diduga Penyerobot Tanah Diperiksa

BANJARMASINÄ Ä © Setelah kasusnya sempat terhenti menyusul adanya
pemeriksaan dari majelis hakim Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN)
Banjarmasin, kini kasus dugaan pemalsuan Sertifikat Hak Milik (SHM)
dan dugaan penyerobotan lahan kembali ditangani Dit Reskrim Polda
Kalsel.
Á ÁBahkan, Kamis (27/5) malam, terlapor, Emmy (50), warga
Banjarbaru dijemput polisi dan hingga Jumat (28/5) kemarin,
dikabarkan masih menjalani proses pemeriksaan oleh penyidik.
Á ÁEmmy dilaporkan Nirwanati (68), warga Jl Pulo Mas III A/9 RT
004 RW 012 Kelurahan Kayu Putih Kecamatan Pulau Gadung Jakarta
Timur karena diduga sudah merugikan pelapor, setelah memalsukan SHM
No 21/1972.
Á ÁJumat kemarin, kuasa hukum Nirwanati, Ketut Bagiada SH yang
berkantor Jl Hang Tuah No 34A Sanur, Denpasar, Bali menerangkan
kepada pers, setelah sekian lama, kasus LP No Pol: LP/Kª225/XII/2008/Dit Reskrim Polda Kalsel, tanggal 1 Desember 2008 yang
dilaporkan pihaknya mulai berjalan lagi. "Terlapor, sudah dijemput
oleh penyidik Dit Reskrim, setelah cukup lama dicari©cari,"
terangnya.
Á ÁMenurutnya, akibat tindakan Emmy, kliennya mengalami kerugian
hingga Rp2 miliar, akibat tanah miliknya di Jl A Yani Km 17,45
Gambut, Kabupaten Banjar sesuai SHM Nomor 537, pengeluaran
Sertifikat Sementara tanggal 10 Nopember 1977, di Desa Gambut,
Kecamatan Gambut, Kabupaten Banjar, Gambar Situasi No 602/77 seluas
10.000 meter persegi atas nama Nirwanati, diserobot Emmy.
Á ÁIronisnya, setelah menyerobot lahan tersebut, lanjut Bagiada,
Emmy diduga menjual sebagian lahan tersebut kepada seorang
pengusaha yang juga Calon Walikota Banjarmasin, H Muhiddin.
Á Á"Dari informasi penyidik, sebagian tanah tersebut oleh Emmy
sudah dijual kepada H Muhiddin, kurang lebih Rp200 juta. Dan sejak
Februari 2010 lalu, lokasi tersebut sudah diurug sebagian. Makanya,
kami menyurati Kapolda Kalsel Brigjen Pol Untung S Rajab, meminta
perlindungan hukum agar lokasi tersebut dikosongkan menjadi status
quo," cetus Bagiada.
Á ÁMenurutnya, kliennya Nirwanati melaporkan kasus penyerobotan
lahannya pada akhir tahun 2008 lalu. Kala itu, penyidik bersama tim
BPN Kalsel membentuk tim ad hoc untuk meneliti keabsahaan SHM yang
dikuasai Emmy, yakni SHM No 21/1972 atas nama Miansyah bin Tambi.
Á ÁDari hasil penelitian tim ad hoc yang ditandatangani Kepala
Bidang Pengkajian dan Penanganan Sengketa, Konflik dan Perkara
Pertanahan Amir Machmud Tjiknawi SH MH, diduga kuat SHM No 21/1972
atas nama Miansyah palsu atau hasil menyontek SHM SHM No 21/1972
atas nama L Koenoem yang letak tanahnya di Jl A Yani Km 13,600.
Á ÁPosisi SHM 21/1972 atas nama Miansyah yang digunakan Emmy,
justru lokasi tanahnya di Jl A Yani Km 17,700 yang di atas lahan
itu ada dua SHM yang sah, yakni SHM No 537 atas nama Nirwanati dan
SHM No 533 atas nama Shirle Oei.
Á ÁIndikasi yang memperkuat SHM 21 dipalsukan adalah, gambar
teknis tidak dapat dipertanggungjawabkan, sebab tanah itu sebelah
timur atas nama Tambi dan barat Djantera, padahal kedua nama tidakÔ h) 0*0*0*° ° Ô ada di Buku Desa Kantor BPN Banjar.
Á ÁSelain itu, ejaan di SHM 21/1972 atas nama Miansyah yang
menurut Emmy adalah suaminya, terdapat kejanggalan ejaan, seperti
Miansyah seharusnya Miansjah. Demikian juga nama Djln A Yani
seharusnya Djl A Yani. Tulisan pada gambar ukur juga bukan
merupakan tulisan indah sebagaimana standar penulisan surat penting
dan berharga.
Á Á"Kasus ini kami laporkan menurut pasal tindak pidana pemalsuan
surat penting atau keterangan palsu yang merugikan orang lain,
sebagaimana diatur pada pasal 263 ayat (1) jo pasal 266 ayat (1)
KUHP," papar Bagiada. Ã Ãadi

No comments: