Monday, May 3, 2010

10 Pelsus Batubara Ditutup

BANJARMASIN © Sekitar sepuluh pelabuhan khusus (pelsus) tambang
batubara yang ada di dalam kawasan hutan dan kawasan konservasi
hutan di Kalsel ditutup karena diduga kuat merusak alam dan kawasan
mangrove.
Á ÁKepala Dinas Kehutanan Kalsel Suhardi Atmorejo di Banjarmasin,
baru©baru tadi mengatakan, lebih dari 30 persen tanaman mangrove
dalam kawasan hutan dan konservasi rusak berat akibat alih fungsi
lahan.
Á ÁAlih fungsi tersebut, kata dia, antara lain adalah untuk
pelsus), kegiatan tambak warga sekitar kawasan dan sebagai bahan
baku bangunan rumah pengganti ulin.
Á Á"Saat ini penebangan mangrove mulai banyak merambah kawasan
hutan sehingga pengawasan harus benar©benar ditingkatkan," katanya.
Á ÁMengantisipasi kerusakan kawasan hutan yang lebih parah, kata
dia, Dishut telah menutup pelsus©pelsus yang didirikan tanpa izin
pinjam pakai kawasan hutan.
Á ÁPada dasarnya, kata dia, membangun pelsus dalam kawasan hutan
tidak masalah asalkan memiliki izin pinjam pakai kawasan dan
memenuhi beberapa ketentuan yang disyaratkan.
Á Á"Kecuali yang di areal konservasi atau cagar alam tidak kita
berikan peluang untuk kegiatan apapun," katanya.
Á ÁSedangkan 10 pelsus yang telah ditutup, kata dia, merupakan
pelsus yang operasionalnya tanpa menggunakan izin pinjam pakai
kawasan sebagaimana peraturan menteri kehutanan.
Á ÁPernyataan yang sama disampaikan Kepala Badan Lingkungan Hidup
Daerah (BLHD) Kalsel Rakhmadi Kurdi, luas hutan mangrove yang
berada di luar kawasan hutan mencapai 18.460 hektare.
Á ÁDari luasan tersebut 2.750 hektare atau sekitar 15 persen
rusak berat karena dimanfaatkan untuk kegiatan lain seperti tambak,
bahan baku pembangunan rumah dan lainnya.
Á ÁKerusakan mangrove tersebut, kata dia, juga memicu kerusakan
terumbu karang terutama yang berada di Kabupaten Tanah Laut,
Kotabaru dan Tanah Bumbu.
Á ÁMenurut dia, luas terumbu karang di Kalsel mencapai 13 ribu
hektare sedangkan 200 hektare mengalami kerusakan antara lain
akibat sendimentasi dari aktivitas pertambangan batu bara.
Á ÁSehingga kini banyak spicies diterumbu karang punah begitu
juga dengan biota laut lainnya.
Á ÁDitambahkan, kondisi bawah laut dan terumbu karang di daerah
Bunati Kabupaten Kotabaru cukup indah dan masih segar bahkan
keindahannya mengalahkan Bunaken.
Á Á"Karena kurang terawat dan tidak ada promosi serta akses
transportasi yang belum mendukung akhirnya potensi wisata tersebut
belum bisa muncul kepermukaan," katanya. Ã Ãant/adi

No comments: