Wednesday, April 7, 2010

Berkas Lihan P-21

BANJARMASINÄ Ä © Entah karena stres atau sengaja menghindari penyidik,
Lihan, tersangka kasus multi pasal, ternyata jarang mandi di
selnya. Akibatnya, tubuh mantan pengusaha top asal Martapura, bos
besar PT Tri Abadi Mandiri itu pun berbau.
Á ÁAlhasil lagi, penyidik yang hendak memeriksa Lihan jadi
kerepotan karena tidak tahan dengan baunya. Meksi pemeriksaan bisa
berjalan, namun tetap saja penyidik mesti esktra sabar dengan
baunya itu.
Á ÁInformasi itu sekelumit cerita menarik dari rentengan panjang
perhatian publik terhadap Lihan yang sempat membuat heboh Kalsel
akibat kasusnya itu.
Á ÁKemarin juga, Kejati Kalsel memastikan bahwa berkas Lihan
sudah lengkap alias P©21. "Berkas yang dikirimkan penyidik Dit
Reskrim Polda Kalsel sudah lengkap, sehingga tinggal menunggu
penyerahan tahap duanya," cetus Kasi Pra Penuntutan Pidum Kejati
Kalsel Sandy Risady SH, Selasa (6/4).
Á ÁMenurutnya, penyerahan berkas maupun tersangka Lihan dari
penyidik ke Kejati Kalsel akan berlangsung Senin (12/4) mendatang.
Á Á"Mengingat banyaknya item barang bukti, baik berupa rumah,
mobil, rekening dan lain©lain, maka diperkirakan, proses penyerahan
tahap duanya akan memakan waktu seharian," paparnya.
Á ÁDitanya mengenai kondisi Lihan yang agak aneh, menyusul jarang
mandinya tersangka yang pernah dijuluki ustadz ini, Sandy
mengatakan, informasi serupa juga ia peroleh dari penyidik di Polda
Kalsel.
Á Á"Kawan©kawan penyidik sampai kerepotan juga ketika mau
memeriksa Lihan. Ya terang saja bau, karena dia kabarnya jarang
mandi. Mungkin saja, ini akibat dia stres menghadapi kasusnya itu,"
bebernya.
Á ÁBahkan, lanjutnya, Lihan seperti enggan pindah sel dari sel
Polda Kalsel ke sel LP Martapura. Padahal, jika tahap dua
dilaksanakan, maka Kejati Kalsel akan menyerahkan Lihan ke Kejari
Martapura untuk selanjutnya dititipkan ke LP Martapura.
Á Á"Entah kenapa dia seperti enggan pindah sel. Mungkin saja ada
semacam ketakutan akan keamanannya ketika mesti pindah sel," cetus
Sandy.
Á ÁKetakutan Lihan mungkin beralasan, mengingat dalam kasus
hampir mirip, yakni kasus voucher sekitar tahun 2003 lalu,
tersangka penipuan voucher, Unyil, justru tewas di tangan korban
penipuan yang dendam ketika berada di LP Teluk Dalam.
Á ÁSebagaimana diberitakan sebelumnya, sebelum tanggal 14 April
ini, berkas tersangka penipuan dan penggelapan dan pelanmggaran UU
Perbankan ditarget selesai atau lengkap (P©21). Mengingat, pada 14
April tersebut, masa penahanan Lihan berakhir.
Á ÁLihan sendiri sebenarnya ditahan sejak November 2009 lalu.
Lihan memperoleh beberapa kali masa perpanjangan penahanan.
Penahanan Lihan sempat berakhir 15 Maret lalu, namun diperpanjang
lagi dengan izin pengadilan.
Á ÁLihan bersama istrinya dituduh telah melakukan tindak pidana
penipuan (pasal 378 KUHP), penggelapan (pasal 372), pasal 46 UU No
10 Tahun 1998 tentang Perbankan dan juga pasal 59 UU No 21 Tahun
2008 tentang Perbankan Syariah serta UU No 15 Tahun 2003 tentang
Pencucian Uang.Ô h) 0*0*0*° ° ÔŒÁ ÁHj Jum dikenakan pasal 55 KUHP, karena diduga turut serta
menyukseskan tindakan yang dilakukan suaminya, sehingga merugikan
3.700©an investornya senilai Rp817 miliar.
Á ÁIronisnya, dari hasil penyidikan, aset yang berhasil disita
dari tangan Lihan, baik berupa rekening, rumah, mobil dan lainªlain, totalnya hanya berkisar Rp30 miliar.

1 comment:

Anonymous said...

wah klu bgitu kasian para insvestornya dongk,sebnrtnya bisnisnya(dg pra insvestor) sdh brpa lma ya brjln nya?