Sunday, October 11, 2009

Datu Abdul Ghani, Padatuan Ulun


Datu Abdul Ghani

2010, pamanku, Anjang Marhan berkisah bahwa datu nenek kami sebenarnya seorang berpengetahuan agama yang baik. Anjang Marhan tidak begitu mengetahui siapa nama asli beliau. Hanya saja, para orang tua di Pelantau, Bangkuang, Kecamatan Karau Kuala, Kabupaten Barito Selatan, Kalteng menyebutnya Datu Abdul Ghani atau Datu Abdullah.
Datu Abdul Ghani berasal dari Teluk Kelayan, Banjarmasin, Kalsel sekarang. Beliau hidup di zaman penjajahan Belanda, mungkin termasuk juga zaman Jepang.
Dikisahkan, Datu sebenarnya bersahabat karib dengan Habib Basirih yang bernama asli Habib Hamid bin Abbas Al Bahasyim, keturunan Rasulullah ke-36 yang wafat tahun 1949.
Beliau terpisah dengan Habib Basirih diduga karena menghindari dari kejaran penjajah Belanda yang zaman itu tak segan menghukum penentang penjajahan.
Beliau lari ke kawasan sekitar Dayu, Kecamatan Dusun Hilir, Kabupaten Barito Timur, Kalteng.
Menurut riwayat, beliau hidup di hutan, bertani atau berkebun sambil berkhalwat. Tersebutlah seorang Raja Dayu yang bersuku Dayak sedang bersedih hati, karena adiknya, mengidap penyakit misterius. Sang putri mati suri sekian lama, meski belum benar-benar wafat.
Dukun Dayak sudah berupaya mengobati sang putri dengan prosesi adat seperti Balian. Namun, upaya itu tetap saja gagal.
Raja Dayu yang hampir putus asa lalu menyebarkan sayembara, bilamana ada yang sanggup menyembuhkan si putri, akan dinikahkan dengan sang putri tersebut.
Kemudian, Datu dengan niat membantu hanya karena Allah, mencoba mengobati sang putri. Beliau lalu shalat hajat, berdoa kepada Allah agar sudi kiranya menyembuhkan sang putri. Aneh bin ajaib, sang putri tidak berapa lama kemudian bisa siuman dan bangkit dari mati surinya.
Akhirnya sang raja menepati janjinya. Datu Abdul Ghani mau menikahi sang putri, bila sang putri mau masuk Islam. Mungkin karena memang suka, sang putri pun ikhlas masuk Islam. Raja Dayu pun tidak berkeberatan akan hal itu.
Kemudian menikahlah Datu Abdullah atau Abul Ghani dengan sang putri. Raja Dayu juga menghadiahkan tanah perwatasan kepada pengantin anyar ini di kawasan Sinambak, Barito Timur. Sayangnya, Anjang Marhan tidak mengetahui nama asli sang putri.
Lalu hidup berbahagialah Datu dengan putri Dayu yang menurut riwayat berparas cantik dan rambutnya berurai mayang itu.
Singkat cerita, Datu dan istrinya dikaruniai Allah SWT lima orang anak, berturut-turut, Maijel (mukim di Ketap, Barito Selatan), Asrakal (Bangkuang), Ahmit (Banjarmasin), Emeh (Banjarmasin) dan Idau (Banjarmasin).
Sekadar yang bisa diingat Anjang Marhan, keturunan Datu Abdul Ghani sebenarnya banyak. Hanya saja, yang bisa diingat dan bisa dikumpulkan, antara lain, anak Asrakal, yakni Syamsul, Bahagia, Diang Japang, Mastinah, Tarbiyah, Sata dan Inau.
Kemudian dari Ahmit menurunkan Jaunen, Jalesam, Minah, Anang dan Asari.
Selanjutnya, Tarbiyah binti Asrakal menikah dengan H Salit (kakek dan nenek penulis). Dari keduanya, lahir Lamsiah, Darlia Putra, Marhan (narasumber), Maskanah (ibu kandung penulis) dan Maskah.
Nah, dari pernikahan Maskanah dengan Ali Basrah (ayah kandung penulis), lahir Edi Dharma, Dewiyana, Adi Kencana, Adi Permana (penulis), Ashadi Jaya dan Andi Irawan.
Sementara dari Jaunen binti Ahmit bin Datu Abdul Ghani, lahir Sabri Noor Herman (pengacara top di Banjarmasin) dan Rita.
Alhamdulillah, sekitar setahun lalu, penulis bisa bertemu dan berkisah tentang riwayat ini dengan Sabri Noor. Sabri Noor membenarkan kalau kakeknya adalah Ahmit.
Dikisahkan Anjang Marhan, Datu wafat dan dimakamkan di Pelantau atau Sinambak. Kabarnya, makam Datu Abdul Ghani juga dikeramatkan oleh warga sekitar.  Semoga, kisah ini ada manfaatnya.

2 comments:

iyoong said...

waaahh gua baru tau niihh...
nice info... ;)

rony danuarta said...

kisahnya bagus tentunya bermanfaat untuk saya.