Wednesday, June 3, 2009

Warga Sei Danau Mengadu Ke Polda

BANJARMASIN - Warga Sei Danau yang merasa menjadi korban penipuan plasma kebun sawit yang diadakan KUD Nusantara dan PT BKB memenuhi janjinya. Mereka melakukan laporan resmi ke Dit Reskrim Polda Kalsel, akhir pekan tadi.
 Laporan tersebut dibenarkan oleh Kasat I Krimum Dit Reskrim AKBP Endro Kiswanto, Selasa (2/6). "Memang benar, perwakilan warga Sei Danau, ada melakukan laporan sebagai saksi korban. Namun, kasus ini kita limpahkan ke Sat IV Krimsus Dit Reskrim," tukas Endro kepada wartawan, kemarin.
 Sementara itu, kuasa hukum warga, Depransyah Klara SH, rekan Abdul Kadir SAg SH juga mengakui kalau pihaknya sudah mengajukan pengaduan resmi ke Dit Reskrim Polda Kalsel.
 "Perwakilan warga, Fahri sudah melaporkan kasus tersebut. Oleh petugas, Fahri dijadikan saksi korban. Korban juga sudah melampirkan bukti-bukti segel kepemilikan lahan termasuk menjelaskan kronologis, sampai puluhan warga tertipu, setelah lahan ternyata dipindahtangankan kepada pihak lain, sehingga sawit yang ditanam KUD Nusantara, warga pemilik asli tidak memperoleh hasilnya," jelasnya. 
 Kisruh pengrusakan kebun sawit di Desa Sungai Danau, Tanbu sampai pihak Dit Reskrim Polda Kalsel menelisik masalah tersebut, ternyata mulai jelas latar belakangnya. Ternyata, 50-an warga Sungai Danau mengklaim pengrusakan itu sah-sah saja, karena lahannya adalah lahan mereka sendiri.
 Jumat (15/5) lalu, sembilan perwakilan warga yang tergabung dalam Kelompok Tani Sumber Usaha, didampingi kuasa hukumnya, Abdul Kadir SAg SH melakukan klarifikasi terhadap masalah yang menurut pihaknya sudah memojokkan warga pemilik lahan.
 Menurut Kadir, sebenarnya warga yang seyogyianya menjadi petani plasma sawit, hanya ingin hak-haknya dikembalikan oleh PT BKB dan mitranya KUD Nusantara, sebab sekian lama, warga merasa telah ditipu.
 Sebelum 2003, 63 warga Sungai Danau bermusyawarah sehubungan akan dijadikannya mereka sebagai petani plasma sawit yang akan dikelola PT BKB bermitra dengan KUD Nusantara.
 63 warga sepakat membentuk kelompok tani dengan nama Sumber Usaha. Mereka kemudian masuk sebagai anggota KUD Pelita dan mulai mengumpulkan bukti kepemilikan lahan berupa segel, sehingga pada 2003, segel 63 warga terkumpul semua. Maksudnya, segel akan dibuatkan sertifikatnya (SHM).
 Belakangan, ketika tahun 2005, saat sawit sudah berbuah pasir, 63 warga mencoba mengecek SHM. Ternyata, cuma 13 orang yang keluar SHM-nya, sedangkan 50 warga tidak ada SHM-nya.
 Hal itu tentu saja mengejutkan warga. Apalagi SHM yang terbit justru namanya sudah berganti dengan nama orang lain yang masuk dalam kelompok tani Sumber Harapan. Anehnya, lahan garapan kelompok tani Sumber Harapan, sebenarnya berada berdampingan dengan Sumber Usaha.
 Kadir menduga, ada permainan dan pemalsuan data-data tanah sehingga bisa terjadi nama orang yang bukan pemilik ternyata menjadi pemilik lahan kliennya.
 Setelah dicek lagi, ternyata SHM yang terbit itu dibuat mundur tahunya, yakni tahun 2000. "Bagaimana mungkin SHM dibuat tahun 2000, kalau segel-segel warga atau klien kami baru terkumpul tahun 2003. Ini jelas ada pemalsuan sehingga klien kami tertipu," bebernya. adi



No comments: