Friday, June 26, 2009

Suar Ambang Barito Dikutili

BANJARMASIN - Sebagian suar di Ambang Barito yang sangat berguna untuk membantu navigasi pelayaran, disinyalir banyak rusak dan hilang. Bahkan, selain diduga kuat tertabrak tongkang, sebagian rusak justru karena dikutili oleh tangan-tangan jahil tak bertanggungjawab.
Parahnya, Sistem Bantu Navigasi Pelayaran (SBNP) yang rusak dan hilang ini diperkirakan membuat sang pemilik PT Ambang Barito Nusa Persada (Ambapers) merugi lebih dari Rp1 miliar atau tepatnya Rp1.122.000.000.
Secara garis besar, kerugian Rp715 juta akibat rambu suar yang hilang dan rusak mencapai lima buah, kemudian kerugian Rp132 juta akibat hilangnya manhole (tutup pintu palka) pelampung suar sebanyak tujuh buah. Bahkan, satu diantara pelampung suar tersebut, selain manhole-nya hilang, juga lampu suarnya juga raib.
Dirut PT Ambapers, Irhamsyah, dihubungi Senin (22/6) kemarin, tidak membantah kalau sebagian rambu suar dan pelampung suar mengalami kerusakan, baik akibat tertabrak kapal dan tongkang, juga akibat digerogoti oleh pencuri. Pasalnya, dari tujuh pelampung suar, baut manhole bahkan manhole-nya turut raib.
Diduga, pencuri sudah paham kalau baut dan manhole yang terbuat dari besi tersebut berharga sangat mahal. Selain itu, lampu suar pun harganya tidak main-main, mencapai puluhan juta rupiah.
"Padahal, suar-suar tersebut sangat berguna untuk menuntut kapal-kapal dan tongkang dalam berlayar menyusuri Ambang Barito. Jika suar banyak yang rusak dan hilang, justru akan menyulitkan pengguna alur dan bisa berimbas kapal sesat jalur dan akhirnya kandas," cetus.
Dijelaskannya, untuk sebuah rambu suar berbahan besi yang terpasang ke dalam laut sedalam 25 meter, harganya mencapai Rp50 juta plus harga pemasangan mencapai Rp130 juta.
Sementara untuk sebuah pelampung suar yang bermetode bola mengapung dipatri ke dasar laut dengan rantai jangkar, berharga Rp203,5 juta plus biaya pemasangan sebesar Rp28 juta.
Kronologis, pada 5 Maret 2008, SBNP selesai terpasang di alur Barito yang panjangnya 15.000 meter (15 km), lebar 100 meter dan dalam 5 meter, terdiri dari delapan buah rambu suar dan delapan buah pelampung suar. Masing-masing rambu suar maupun pelampung suar dipasang di kiri dan kanan alur Barito.
Hanya saja, pada Februari 2009, ada dua pelampung suar yang tergeser oleh tongkang dan ironisnya, cuma sebuah saja dapat pergantian oleh pemilik tongkang sebesar Rp30 juta. Ambapers, sudah mereposisi pelampung suar nomor 1 di titik 15.000 meter (Muara Barito) dan nomor 15 di titik nol meter (alur terdekat dengan Trisakti).
Kemudian, pada 7 Mei 2009 ketika dilakukan pengecekan ke lapangan bersama Adpel Banjarmasin, kembali ditemukan pelampung suar yang kehilangan manhole-nya, sebanyak enam unit. Selain itu lima buah rambu suar telah roboh dan hilang dari permukaan alur Barito.
Roboh dan hilang
Rambu suar yang roboh dan hilang antara lain, rambu suar nomor 2 di titik 13.000 meter, nomor 4 di titik 11.000 meter, rambu suar nomor 6 di titik 9.000 meter, nomor 8 di titik 9.000 meter, rambu suar nomor 8 di titik 7.000 meter dan nomor 9 di titik 6.000 meter.
Adapun rambu suar nomor 5 di titik 10.000 meter mengalami miring diduga akibat tertabrak tongkang, sementara lampu suar dan plat nomor pelampung suar no 15 di titik nol meter hilang.
Adapun pelampung suar yang hilang manhole-nya mencapai tujuh buah, antara lain no 1 titik 14.000 meter, nomor 12 di titik 3.000 meter, no 15 di titik nol meter, nomor 13 titik 2.000 meter, nomor 11 titik 4.000 meter serta pelampung suar nomor 10. Bahkan, pelampung suar nomor 14, selain manhole hilang juga lampu suarnya.
"Sementara, untuk mencegah tenggelamnya pelampung suar akibat manhole-nya hilang, kita terpaksa menggantinya dengan plat besi yang kemudian dilas. Hanya saja, cara ini akan menggangu jika lambung pelampung mengalami kerusakan, sulit untuk membukanya kembali. Jelas sekali kalau baut dan manhole ini sengaja dicuri orang-orang tidak bertanggung-jawab," tegasnya. adi







No comments: