Tuesday, June 9, 2009

Suami Terdakwa Dijadikan Tersangka

BANJARMASIN - Episode gelap pasutri pengusaha air kemasan bakal berlanjut. Setelah sang istri, Hj Murniati sekarang menjadi terdakwa dan menghadapi tuntutan hukum, sang suami, Sut juga dijadikan tersangka dalam kasus yang sama.
 Informasi tersebut disampaikan Zulkhaidir SH, jaksa yang menyeret Murniati ke Pengadilan Negeri (PN) Banjarmasin. Menurut Zul, Rabu (3/6) lalu, setelah Murniati dijadikan terdakwa, ternyata penyidik Dit Reskrim Polda Kalsel juga menetapkan suami Murniati, yakni Sut, sebagai tersangka.
 "Berkasnya terpisah dari terdakwa. Saat ini, penyidik sudah menetapkan suami Murniati, Sut, sebagai tersangka. Kita sudah jelaskan ke hakim," ujar Zulkhaidir.
 Dalam sidang lalu, hakim I Gede Eko Purwanto sempat mempertanyakan status hukum suami terdakwa, karena berdasar pengakuan terdakwa, yang membuat air kemasan TDS tersebut adalah suaminya, melalui perusahaan CV Agung Barokah Indonesia yang ada di Pandaan, Jatim. Sementara terdakwa, melalui CV Nandya Murni yang berkedudukan di Banjarmasin sekadar memasarkannya.
 Hakim pun lalu memandang kalau suami terdakwa, layak juga turut diperkarakan dalam kasus tersebut, meski berkasnya nanti akan tersendiri, terpisah dari berkas terdakwa Murniati.
 Terdakwa dalam kesempatan di depan majelis hakim yang dipimpin I Nyoman Dody SH mengakui jika pengambilan air tidak lagi dari Jatim, tetapu cukup air dari mobil tangki asal Landasan Ulin Banjarbaru, untuk menutupi kekurangan pesanan, justru atas perintah suaminya.
 Berdasar pengakuan Sut dalam berkas kesaksian yang dibacakan JPU Zulkhaidir, Sut mengaku memiliki hubungan keluarga, yakni sebagai suami terdakwa.
 Sut mengaku sebagai Dirut CV Agung Barokah Indonesia yang memproduksi air kemasan asal Pandaan, Jatim. Produksi air kemasan berupa kemasan 19 liter, 5 liter, 1.500 mililiter dan 600 mililiter.
 Sut mengirimkan air kemasan tersebut ke CV Nandya Murni sejak Juni 2008. Sut mengaku kalau air kemasannya sendiri belum sempat diuji di laboraturium lembaga resmi yang berwenang mengaluarkan sertifikasi.
 Adapun mengenai kejanggalan label merk TDS yang tidak memuat tanggal kadaluarsa, diakui Sut karena belum sanggup membeli alat pencetak yang berkualitas, sehubungan masih baru membuka usaha.
 Hanya saja, Sut terkesan membela diri, dengan pernyataan tidak pernah memerintahkan istrinya, yakni Hj Murniati untuk membuat iklan tentang air kemasan TDS tersebut, yang dianggap mampu menyembuhkan berbagai penyakit dalam.
 Sebelumnyua, terungkap di persidangan, kalau terdakwa Hj Murniati, Dirut CV Nandya Murni sengaja memproduksi air kemasan TDS O % bersumber dari air leding, karena ingin menutupi kekurangan pasokan air kemasan dari CV Agung Barokah Indonesia, Surabaya.
 Dalam dakwaan sebelumnya, JPU menganggap terdakwa telah melakukan perbuatan melanggar hukum sebagaimana diatur pada pasal 24 ayat (1) UU No 5 Tahun 1984 tentang Perindustrian, pasal 62 ayat (1) UU No 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen dan pasal 58 UU No 7 Tahun 1996 tentang Pangan.
 Sebagaimana diketahui, kasus ini terungkap pada 11 Maret lalu
di sebuah ruko milik Hj Mur, Jl Brigjen H Hasan Basry RT 27 Kelurahan Pengeran, Banjarmasin Utara oleh Dit Reskrim Polda Kalsel.
 Hj Murniati diduga keras membohongi konsumen. Dalam brosur iklan kemasan, air TDS ia klaim berasal dari mata air terbaik. Nyatanya, air baku diambil dari air leding PDAM Bandarmasih.
 Dalam brosur, tertera juga CV Agung Barokah Indonesia sebagai produsen. Di bagian sisi kiri tertera "Diolah dari mata air terbaik dan diproses dengan mesin filtrasi berpatent TDS NOL yang berteknologi tinggi sehingga menghasilkan air minum TDS NOL berkualitas, menyehatkan, bebas polutan dan kaya oksigen". adi
 



No comments: