Thursday, June 4, 2009

Produksi Sendiri Untuk Tutupi Kekurangan

BANJARMASIN - Terungkap di persidangan, kalau terdakwa Hj Murniati, Dirut CV Nandya Murni sengaja memproduksi air kemasan TDS O % bersumber dari air leding, karena ingin menutupi kekurangan pasokan air kemasan dari CV Agung Barokah Indonesia, Surabaya.
 Sidang di Pengadilan Negeri (PN) Banjarmasin, Rabu (3/6) kemarin mengagendakan mendengarkan keterangan terdakwa dan saksi ahli, masing-masing Drs Safriansyah dari Balai Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Banjarmasin dan M Samlani dari Disperindag Kalsel.
 Safriansyah dalam keterangannya menyatakan, pihak BPOM Banjarmasin sebenarnya pernah memberikan teguran tertulis kepada terdakwa terkait aktivitas memasarkan air kemasan yang diketahui belum diuji dan diregistrasi BPOM.
 "Teguran tertulis itu dilakukan pada 2008, berkait saran perbaikan. Kemudian disusul teguran penghentian kegiatan sementara sambil dilakukannya perbaikan mekanisme pada Januari 2009," aku Kabid Pemeriksaan dan Penyidikan BPOM ini di depan majelis hakim yang diketuai I Nyoman Dody SH.
 Ditambahkan, setelah teguran penghentian tersebut, dikatakan, terdakwa pernah menyatakan niat untuk melakukan perbaikan dan mengajukan izin. Hanya saja, sampai terdakwa diamankan Maret 2009 lalu, hal itu tidak juga dilaksanakan.
 Sementara Samlani menerangkan, terdakwa pada April 2008 memang ada memilik izin SIUP untuk memproduksi air kemasan atas nama CV Nandya Murni. "Namun, setelah kasusnya terungkap, diketahui kalau CV Nandya tidak memproduksi namun menjadi distributor air kemasan milik CV Agung. Hal itu tidak boleh, sebab harus ada izin distribusi," katanya.
 Demikian juga pencantuman SNI dalam label, semestinya harus melalui prosedur pemeriksaan laboraturium khusus di Jakarta untuk pengujian standar mutu. Ditambah, nomor register BPOM sendiri yang sebenarnya belum pernah dikeluarkan BPOM.
 "Pencantuman label tidak sesuai, di mana semestinya harus ada tanggal kadaluarsa produk," tambahnya.
 Terdakwa mengakui sejak pertengahan 2008 kalau air kemasan TDS mulanya dikirim langsung CV Agung yang dikelola suaminya, yakni Sutrisno, dari Pandaan, Jatim. "Jadi, suami saya yang bikin, saya cuma memasarkannya. Pemasaran sampai ke Rantau, Kandangan, juga Palangka Raya," cetusnya.
 Namun, seiring melubernya permintaan, stok di Pandaan menipis, sehingga terdakwa coba-coba memproduksi air kemasan untuk ukuran galon 16 liter dengan air baku dari air yang dibawa mobil tandon aluminium dari Banjarbaru.
 Air tersebut kemudian diolah menggunakan peralatan yang dianggap terdakwa telah sesuai standar pengolahan air aman konsumsi. Namun, ketika dicecar hakim Avia SH bahwa perbuatan terdakwa bisa membahayakan konsumen karena air tidak diuji di laboraturium BPOM, terdakwa menjadi tertunduk.
 Hakim I Gede Eko Purwanto SH mengatakan, semestinya penyidik menetapkan juga suami terdakwa, sebagai tersangka, karena disinyalir memproduksi air kemasan ilegal tersebut. Diakui JPU, Zulkhaidir SH, saat ini, suami terdakwa, yakni Sutrisno juga sedang dibidik penyidik Polda Kalsel sebagai tersangka.
 Dalam dakwaan sebelumnya, JPU menganggap terdakwa telah melakukan perbuatan melanggar hukum sebagaimana diatur pada pasal 24 ayat (1) UU No 5 Tahun 1984 tentang Perindustrian, pasal 62 ayat (1) UU No 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen dan pasal 58 UU No 7 Tahun 1996 tentang Pangan.
 Sebagaimana diketahui, kasus ini terungkap pada 11 Maret lalu
di sebuah ruko milik Hj Mur, Jl Brigjen H Hasan Basry RT 27 Kelurahan Pengeran, Banjarmasin Utara oleh Dit Reskrim Polda Kalsel.
 Hj Murniati diduga keras membohongi konsumen. Dalam brosur iklan kemasan, air TDS ia klaim berasal dari mata air terbaik. Nyatanya, air baku diambil dari air leding PDAM Bandarmasih.
 Dalam brosur, tertera juga CV Agung Barokah Indonesia sebagai produsen. Di bagian sisi kiri tertera "Diolah dari mata air terbaik dan diproses dengan mesin filtrasi berpatent TDS NOL yang berteknologi tinggi sehingga menghasilkan air minum TDS NOL berkualitas, menyehatkan, bebas polutan dan kaya oksigen". adi



No comments: