Friday, June 12, 2009

Lima Tersangka Korupsi Dinkes HST Masuk Sel

BANJARMASIN - Sat II Tipikor Dit Reskrim Polda Kalsel akhirnya menunjukkan 'taringnya'. Setelah tahun 2008 sepi menangani kasus, kali ini, lima tersangka kasus korupsi pada proyek pengadaan alat kesehatan di Dinkes HST dijebloskan kesatuan ke dalam sel.
  Lima tersangka menurut pihak Sat II Tipikor, semuanya berasal dari pejabat atau karyawan Dinkes HST. Mereka yang dimasukkan ke dalam sel pada Kamis (11/6) pukul 01.00 Wita itu antara lain, AN, Z, W, EK dan MH.
 Lima tersangka dijebloskan ke dalam tahanan Polda Kalsel, setelah selesai pengecekan kesehatan di RS Bhayangkara Jl A Yani Km 2. Sebelum ditahan, tersangka memang wajib diperiksa kesehatannya. Ternyata, sesuai keterangan dokter, kesehatan lima tersangka cukup bagus, sehingga proses penahanan bisa dilanjutkan.
 Polda masih belum mau membeberkan nama terang kelima tersangka dengan alasan menghormati azas praduga tak bersalah. Hanya saja, diterangkan peranan masing-masing. AN yang adalah salah satu kepala seksi di instansi itu berperan selaku ketua panitia lelang, Z bertindak sebagai sekretaris panitia, sedangkan W, EK dan MH masing-masing sebagai anggota panitia.
 Proyek pengadaan alat-alat pendukung kesehatan ini bernilai Rp4,9 miliar. Namun, diduga akibat manipulasi nilai standar peralatan alias mark-up, terjadi kerugian negara yang diperkirakan sekitar Rp2,7 miliar.
 Wadir Reskrim Polda Kalsel AKBP Kliment didampingi Kasat II Tipikor AKBP Slamet menerangkan kepada pers, pihaknya sudah resmi menetapkan lima orang itu sebagai tersangka.
 "Berdasar adanya laporan masyarakat, kemudian dilakukan penyelidikan, mengumpulkan bukti-bukti, mendengarkan saksi-saksi, maka penyidik menetapkan lima orang, masing-masing AN, Z, W, EK dan MH sebagai tersangka korupsi proyek pengadaan alat kesehatan di Dinkes HST tahun anggaran 2008," ungkap Kliment.
 Dijelaskan secara singkat, modus penyimpangan, yakni bermula dari lelang delapan paket proyek yang seluruhnya bernilai Rp4,9 miliar. Ada delapan perusahaan yang menjadi pemenang lelang sekaligus menjadi rekanan pengadaan di Dinkes HST.
 Hanya saja, dalam dokumen ditemukan adanya sejumlah kejanggalan yang mendasar seperti harga satuan alat-alat kesehatan yang harganya justru berada di atas harga standar di pasaran.
 Penetapan harga tak sesuai standar tersebut diduga termuat dalam dokumen yang sudah dipalsukan. Ironisnya, pemalsuan satuan harga justru terjadi dalam tahap perencanaan maupun penawaran lelang.
 Ditambahkan Kliment, nilai kerugian negara yang sebesar Rp2, 7 miliar sudah dikonsultasikan dengan lembaga audit independen, Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan (BPKP) Kalselteng.
 Menurutnya, penyidik mengenakan para tersangka dengan pasal 2 dan 3 UU No 31 Tahun 1999 tentang Tipikor jo UU No 20 Tahun 2001 tentang Perubahan UU No 31 Tahun 1999.
 Penahanan diperkirakan memerlukan waktu 20 hari atau bisa diperpanjang, untuk kepentingan melengkapi bukti dan menyempurnakan berkas penyidikan. adi



No comments: