Monday, June 1, 2009

Korban Bersaksi, Terdakwa Tenang-tenang Saja

BANJARMASIN - Ir Suharnoto, korban penipuan jual-beli puluhan mobil truk jenis Mistsubishi dan Hino membeberkan kesaksiannya di depan majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Banjarmasin, Senin (1/6). Meski korban telah dirugikan hampir Rp2 miliar, terdakwa Johanny terlihat tenang-tenang saja mendengarkan.
 Didampingi kuasa hukumnya, Johanny, istri Rully Gunawan, pejabat di Kotawiringin Timur (Kotim), Kalteng itu lebih banyak melihat ke arah saksi korban, meski sesekali juga melihat ke arah hakim yang sedang menanyai saksi.
 Suharnoto, warga Kompleks HKSN Permai Blok VII A/35 RT 35 Kelurahan Alalak Banjarmasin Utara ini menceritakan, sekitar tahun 2007, ia lewat perusahaannya, PT Tri Tunggal Sarana Makmur (TTSM) sedang mengembangkan usaha batubara di Sungai Danau, Tanbu, Kalsel.
 "Sebagai direktur utama saya bekerja sama dengan Tang Yong Sang yang menjadi komisaris perusahaan. Kita berniat membeli 20 buah truk. Disarankan Tang, saya membeli truk dari kenalannya di Sampit, yakni Rully. Pasalnya, harganya lebih murah Rp2 jutaan dari harga pasar," bebernya.
 Atas saran Rully, kemudian saksi korban bersedia berkomunikasi dengan istri Rully, Johanny sebagai Dirut PT Mulia Jaya Mobilindo (MJM) di Sampit. Terjadilah kesepahaman untuk melakukan transaksi jual beli 10 truk Mitsubishi dan 10 truk Hino.
 Ditanya ketua majelis hakim, Hurianto SH apakah korban sebelum bertransaksi telah mengadakan kontrak dengan terdakwa Johanny, warga Jl Jendral Sudirman Km 18 RT 20 Desa MB Hulu Kecamatan Ketapang, Sampit, korban mengatakan bahwa hal itu dilakukan meski sebatas berkas yang dikirim via mesin fax.
 "Dalam surat fax yang dikirim terdakwa, telah jelas jenis truk, nomor rangka maupun klausul perjanjiannya. Jadi, boleh dikata, surat fax itu sebagai kontrak," ungkapnya.
 Setelah itu, dilakukanlah pengiriman uang muka dalam tiga tahap, yakni Rp200 juta, Rp200 juta dan terakhir Rp14 juta, sehingga total Rp414 juta dari total harga keseluruhan Rp4,108 miliar.
 Kemudian sekitar akhir tahun 2007, korban melakukan pembayaran sisa harga, sekitar Rp3,7 miliar yang sudah diterima terdakwa seluruhnya. Korban lalu, melakukan pengambilan truk 10 buah merk Mitsubishi. Namun, ketika giliran akan mengambil lagi 10 truk jenis Hino, ternyata semua truk tersebut tidak ada.
 "Saya sudah kirimkan surat agar terdakwa segera menyerahkan 10 truk Hino, namun sampai beberapa kali juga tidak dihiraukan. Pihak MJM cuma mampu mendatangkan tiga buah Hino, sementara tujuh Hino lainnya tidak jelas. Sampai akhirnya, pada Mei dan Agustus 2008, tidak ada niat terdakwa menyelesaikan hak saya, saya mengadukan masalah ini ke polisi (Dit Reskrim Polda Kalsel," jelasnya.
 Korban merasa ditipu, setelah mengetahui, tujuh buah truk Hino tersebut ternyata sudah dijual terdakwa kepada pihak lain yang rata-rata berada di Sampit.
 "Plat tujuh truk yang dijual ke pihak lain, walaupun sebenarnya adalah milik saya, sama persis dengan nomor plat yang dikirimkan MJM dalam surat fax," aku korban yang merasa telah dirugikan Rp1,4 miliar. 
 Johanny diajukan ke meja hijau oleh JPU, Supriyadi karena didakwa telah melakukan penipuan sebagaimana diatur dalam pasa 372 dan 378 KUHP terhadap korban, Suharnoto. adi

Barang Bukti Tidak Disita
 ADA roman kekecewaan dari saksi korban, Suharnoto dengan kasus yang menimpanya. "Semestinya, penyidik dari dulu menyita tujuh buah truk Hino yang sebenarnya milik saya, namun sudah dijual lagi oleh terdakwa kepada pihak lain," ungkapnya, didampingi Geman Yusup SH.
 Namun, apa mau dikata, pihak penyidik Dit Reskrim Polda Kalsel justru enggan melakukan penyitaan barang bukti tersebut.
 "Saya waktu itu berharap pejabat di Polda Kalsel mau melakukan penyitaan. Namun, saya malah diwanti-wanti apakah mau bertanggung-jawab kalau anakbuahnya mengalami kenapa-kenapa di saat mengamankan barang bukti. Beliau mau agar tiga anahbuahnya didampingi tiga orang lagi dari kejaksaan untuk melakukan penyitaan barang bukti tersebut," tukasnya.
 Di samping itu, lanjutnya, terdakwa ketika masih berstatus tersangka sempat ditangguhkan penahanannya oleh penyidik Polda Kalsel. Beruntung, ketika ditangani Kejari Banjarmasin, terdakwa dilakukan penahanan.
 Johanny ditetapkan sebagai tersangka oleh penyidik Polda Kalsel pada November 2008 lalu. Dari versi penyidik, korban Suharnoto yang adalah pengusaha batubara berminat membeli 10 buah truk Hino dan 10 buah truk PS Mitsubishi pada Oktober 2007 lalu. Ia tertarik membelinya melalui Rully dan Johanny yang memiliki PT MJM.
 Setelah sepakat harga keseluruhan barang yang bernilai Rp4,1 milyar, maka diaturlah transaksi pada 21 Desember 2007.
 Pada 12 Maret 2008, korban ternyata hanya menerima 10 truk PS. Ternyata 10 truk Hino belum diserahkan. Korban sempat beberapa kali menanyakan perihak 10 truk Hino yang sudah dibayar lunas itu.
 MJM ternyata hanya mampu menyerahkan tiga unit truk Hino yang nomor rangka dan mesinnya, berbeda dengan klausul pembelian awal. Berarti, masih ada tujuh unit lagi yang belum diserahkan PT MJM.
 Akhirnya dibuatlah surat pernyataan oleh Rully yang berjanji akan menyerahkan tujuh unit truk Hino paling lambat 16 Mei 2008. Hanya saja, hingga saat ini, hal itu tak juga dilaksanakan oleh Rully bersama PT MJM. adi 
 



1 comment:

eoin said...

kayaitupang hukum indonesia nang mangaradau...