Sunday, June 21, 2009

Kasus Alkes Bakal Menyeret Tersangka Lain

BANJARMASIN - Lima orang tersangka kasus dugaan korupsi alat-alat kesehatan Dinkes HST, masing-masing AN, Z, W, EK dan MH dibon dari tahanan Polda Kalsel, Jumat (19/6) sekitar pukul 14.00 Wita. Mereka diperiksa untuk dimintai kesaksiannya.
 Dengan pengawalan dua petugas, kelima tersangka mengenakan baju khusus tahanan berwarna biru yang telah diberi nomor satu-persatu memasuki gedung Dit Reskrim Polda Kalsel. Beberapa berupaya menutupi mukanya ketika difoto Mata Banua, beberapa saat sebelum memasuki gedung.
 Kasat III Tipikor Dit Reskrim AKBP Slamet mewakili Dir Reskrim Kombes Pol Machfud Arifin membenarkan kalau pihaknya memang sedang memeriksa lima orang tersangka korupsi proyek alkes.
 "Mereka memang kita periksa, karena memang ada yang perlu kita tambah keterangannya. Selain itu, mereka bisa juga memberi kesaksian untuk tersangka lainnya," ujarnya.
 Disinggung apakah akan ada tersangka lain, selain lima orang tersebut, Slamet mengatakan kemungkinan besar ada. "Kita lihat saja nanti, makanya keterangan dan kesaksian lima orang tersangka ini kita perlukan," ungkapnya.
 Bakal adanya tersangka baru dalam kasus ini pun sudah disinyalkan oleh Machfud Arifin. Menurut orang nomor satu di Dit Reskrim Polda Kalsel ini, dalam kasus tersebut masih memungkinkan adanya tersangka baru, mengingat modus penyimpangannya dilakukan secara berjamaah. 
 Sebagaimana diketahui, dana proyek kabarnya sudah dibayar habis untuk delapan rekanan, sehingga kuat dugaan kalau pengembangan penyidikan bakal mengarah pada rekanan Dinkes HST itu.
 Polda Kalsel menetapkan lima tersangka yang semuanya berasal dari pejabat atau karyawan Dinkes HST. Mereka yang dimasukkan ke dalam sel pada Kamis (11/6) pukul 01.00 Wita itu antara lain, AN, Z, W, EK dan MH.
 Modus penyimpangan, yakni bermula dari lelang delapan paket proyek yang seluruhnya bernilai Rp4,9 miliar pada tahun 2008. Ada delapan perusahaan yang menjadi pemenang lelang sekaligus menjadi rekanan pengadaan di Dinkes HST.
 Sebagaimana diinformasikan, dalam dokumen ditemukan adanya sejumlah kejanggalan yang mendasar seperti harga satuan alat-alat kesehatan yang harganya justru berada di atas harga standar di pasaran.
 Penetapan harga tak sesuai standar tersebut diduga termuat dalam dokumen yang sudah dipalsukan. Ironisnya, pemalsuan satuan harga justru terjadi dalam tahap perencanaan maupun penawaran lelang.
 Para tersangka dikenakan dengan pasal 2 dan 3 UU No 31 Tahun 1999 tentang Tipikor jo UU No 20 Tahun 2001 tentang Perubahan UU No 31 Tahun 1999. adi



No comments: