Monday, May 18, 2009

Warga Setarap Polisikan GMK

BANJARMASIN - Dua warga perwakilan sekitar 90-an warga Desa Setarap, mengadu ke Polres Tanah Bumbu (Tanbu). Mereka mengadukan dugaan pemalsuan surat keterangan dan juga pencaplokan lahan mereka yang diduga dilakukan oknum dari PT GMK.
 Minggu (17/5), H Alui bin Darmawi tokoh warga Setarap, Kecamatan Satui, didampingi Ketua LSM Lembaga Kajian Pengawasan Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat (LKP3M), Irwansyah kepada Mata Banua membenarkan kalau pihaknya sudah melaporkan kasus tersebut.
 "Laporan kami sudah dimasukkan ke Polres Tanbu dengan No Pol: STPL/K-141/V/2009/SPK tertanggal 7 Mei 2009. Adapun kaitan pasal yang diadukan adalah pasal 385 tentang pengambilan hak milik serta 406 tentang pengrusakan milik orang lain," ujar Alui seraya memperlihatkan lembaran kertas berisi laporan ke polisi.
 Dijelaskan, 90-an warga Setarap, merasa sangat dirugikan akibat pencaplokan lahan oleh perusahaan GMK, apalagi hal itu diiringi pengrusakan kebun dan ladang warga, termasuk sejumlah pondokan milik warga yang sudah terlebih dahulu ada.
 "Kami warga Setarap dari zaman kakek-kakek kami, sudah menggarap lahan perkebunan, seperti karet dan ladang sejak zaman Jepang. Kemudian, secara turun-temurun, lahan itu diwariskan kepada kami sebagai anak-cucunya. Banyak bukti yang masih kami simpan, seperti adanya tunggul-tunggul ulin bekas pondokan yang rubuhkan perusahaan," tukasnya.
 Bahkan, lanjutnya, tahun segel tanah milik warga rata-rata bertahun 1986. "Sebagian bahkan ada yang di bawah 1986. Ini sebagai bukti bahwa hak-hak kami di lahan tersebut sudah sangat lama. Kemudian, datang GMK tiba-tiba merusak lahan kami dan mengambil lahan tanpa ada ganti-rugi pada tahun 1996," bebernya.
 Menurutnya, warga sebenarnya tidak tinggal diam atas kesewenang-wenangan itu. Namun, upaya warga merebut kembali hak-haknya selalu dihalang-halangi oleh sejumlah oknum aparat yang di masa Orde Baru itu, memang terkesan membela perusahaan.
 Ditambahkan Irwansyah, sebenarnya permasalahan encaplokan lahan tersebut tidak hanya terjadi di Setarap. "D sejumlah desa tetangga juga terjadi hal demikian, seperti di Desa Sekapuk, Satui Barat dan juga Desa Jombang. Kasihan warga yang sudah sekian lama hidup bergantung dari lahan tersebut," tandasnya.
 Irwansyah menduga, ada semacam permainan penguasaan lahan, mengingat Hak Guna Usaha (HGU) milik GMK yang dikeluarkan BPN justru bertahun 2000, sementara lahan itu digarap secara sepihak oleh GMK pada tahun 1996. "Jadi, GMK menggarap lahan milik warga sejak tahun 1996, namun HGU-nya justru terbit belakangan tahun 2000. Ini jelas ilegal dan merampas hak-hak warga," cetusnya.
 Sebelumnya, warga setempat juga mengeluhkan aktivitas kebun sawit yang dikelola GMK sudah mencemari tambak puluhan warga Setarap.
 Pasalnya, udang alam dan udang windu yang bersemai di tambak, tak bisa lagi berkembang-biak dengan baik. Usulan pembuatan saluran di sekeliling kebun sawit yang bersebelahan dengan tambak, justru tak dihiraukan oleh GMK.
 Kepala Desa Setarap Dusun III RT 6, Bahtiar, Sabtu (14/3) lalu membenarkan keluhan warganya yang sebagian berkecimpung dalam usaha tambak udang tersebut. "Dahulu, sekitar tahun 1992-1993, petani tambak udang di sini bisa menyemai bibit udang windu dan menampung bibit udang alam. Namun, sekitar tahun 2001, bersamaan dengan dibukanya perkebunan sawit dekat dengan tambak warga, penghasilan dari tambak udang terus menurun, sampai akhirnya, udang tak bisa lagi berkembang-biak dengan baik," ungkapnya.
 Senada, Ketua RT 6 Desa Setarap, Torman mengatakan, dirinya bersama sekitar 60 KK penggarap tambak udang, memperoleh penghasilan yang cukup dari bertambak udang. Rata-rata tiap petambak, menggarap satu sampai dua petak, di mana tiap petak memiliki luas sekitar 2-3 hektar. "Sejak bibit, petambak sudah bisa memanen udang tiga bulan, di mana petambak bisa mengangkat hasil sampai tiga kali. Tiap kali mengangkat hasil itu bisa diperoleh 100 kg udang. Jadi, kalau dihitung secara rata-rata, tiap bulan itu, petambak bisa memperoleh hasil sampai Rp5 juta," ujar Torman.
 Dikatakan rekannya, Rusli, udang mulai mengalami masalah perkembangbiakan ketika GMK membuka kebun sawit di kawasan yang berdempetan dengan tambak mereka, yakni sekitar 2001.
 "Udang-udang yang masih kecil tidak bisa berkembang dengan baik. Ketika hujan, udang-udang yang biasanya hidup di dasar tambak, mengambang ke permukaan. Sepertinya, ada sesuatu yang mengendap di dasar tambak yang tidak disukai udang. Udang-udang itu kemudian saling memakan, sampai akhirnya habis, sebelum umur sebulan. Kejadian itu, terus-menerus begitu sampai sekarang. Akhirnya, beberapa tahun terakhir, karena terus rugi menyemai bibit udang, petambak beralih menyemai bibit ikan bandeng yang lebih kuat. Bibit ikan lain juga tidak sanggup bertahan," kata pensiunan tentara tahun 1992 ini. adi



No comments: