Monday, May 18, 2009

Warga Berhak Rusak Lahan Sendiri

BANJARMASIN - Kisruh pengrusakan kebun sawit di Desa Sungai Danau, Tanbu sampai pihak Dit Reskrim Polda Kalsel menelisik masalah tersebut, ternyata mulai jelas latar belakangnya. Ternyata, 50-an warga Sungai Danau mengklaim pengrusakan itu sah-sah saja, karena lahannya adalah lahan mereka sendiri.
 Jumat (15/5), sembilan perwakilan warga yang tergabung dalam Kelompok Tani Sumber Usaha, didampingi kuasa hukumnya, Abdul Kadir SAg SH melakukan klarifikasi terhadap masalah yang menurut pihaknya sudah memojokkan warga pemilik lahan.
 Menurut Kadir, sebenarnya warga yang seyogyianya menjadi petani plasma sawit, hanya ingin hak-haknya dikembalikan oleh PT BKB dan mitranya KUD Nusantara, sebab sekian lama, warga merasa telah ditipu.
 "Warga sudah mengumpulkan segel, namun setelah diurus, justru SHM atas nama orang lain. Akibatnya, warga yang lebih berhak, tidak mendapat hasil apa-apa, meski lahan sawit sudah beroperasi," beber Kadir seraya dibenarkan Junaidi dan Bachri, perwakilan warga.
 Dijelaskan, sebelum 2003, 63 warga Sungai Danau bermusyawarah sehubungan akan dijadikannya mereka sebagai petani plasma sawit yang akan dikelola PT BKB bermitra dengan KUD Nusantara.
 "Pada waktu itu, 63 warga sepakat membentuk kelompok tani dengan nama Sumber Usaha. Mereka kemudian masuk sebagai anggota KUD Pelita dan mulai mengumpulkan bukti kepemilikan lahan berupa segel, sehingga pada 2003, segel 63 warga terkumpul semua. Maksudnya, segel akan dibuatkan sertifikatnya (SHM)," jelasnya.
 Belakangan, ketika tahun 2005, saat sawit sudah berbuah pasir, 63 warga mencoba mengecek SHM. Ternyata, cuma 13 orang yang keluar SHM-nya, sedangkan 50 warga tidak ada SHM-nya.
 Hal itu tentu saja mengejutkan warga. Apalagi SHM yang terbit justru namanya sudah berganti dengan nama orang lain yang masuk dalam kelompok tani Sumber Harapan. "Padahal, kelompok tani Sumber Harapan, garapan lahannya sebenarnya berada berdampingan dengan Sumber Usaha. Kenapa bisa, orang lain memiliki lahan milik klien kami," ujar Kadir.
 Ia menduga, ada permainan dan pemalsuan data-data tanah sehingga bisa terjadi nama orang yang bukan pemilik ternyata menjadi pemilik lahan kliennya.
 "Warga mengecek, ternyata SHM yang terbit itu dibuat mundur tahunya, yakni tahun 2000. Tetapi, bagaimana mungkin SHM dibuat tahun 2000, kalau segel-segel warga atau klien kami baru terkumpul tahun 2003. Ini jelas ada pemalsuan sehingga klien kami tertipu," bebernya.
 Menurutnya, 50-an warga yang menjadi korban penipuan itu coba meminta kembali segel-segel mereka yang pernah diserahkan. Namun, setelah dikembalikan, banyak segel-segel warga yang sudah ada bekas koreksinya. "Yang asalnya memiliki dua hektar, tinggal satu hektar. Banyak warga kami yang mengalami hal itu," timpal Junaidi, korban penipuan.
 Akhirnya, dengan kekecewaan yang sangat, puluhan warga menebangi pohon-pohon sawit yang dikelola BKB dan KUD Nusantara. "Warga merasa, sebagai pemilik lahan, mereka tidak memperoleh hasil apa-apa juga dari perusahaan sawit. Sudah ditipu, lahan mereka digunakan tanpa ada manfaat bagi mereka sebagai pemilik lahan. Jadi, kami berencana melaporkan kasus ini ke polisi dalam waktu dekat," cetus Kadir. adi



No comments: