Wednesday, May 13, 2009

Walhi Kalsel Demo Polda

BANJARMASIN - Prihatin dan geram dengan tindakan Poltabes Manado, Sulut, menangkap dua petinggi Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi), yakni Berry Nahdian Forqan dan Erwin Usman, 20-an massa aktivis Walhi Kalsel melakukan demo di depan Polda Kalsel, Selasa (12/5) siang.
 Koordinator pendemo, Dwitho Frasetiandy yang juga Manager Kampanye Walhi Kalsel mengutuk keras aksi refresif yang dilakukan jajaran Poltabes Manado bersama Pemda Manado, menghentikan aksi damai yang dilakukan Walhi bersama masyarakat nelayan setempat dan perwakilan nelayan sejumlah daerah.
 "Kami mengutuk tindakan refresif aparat yang telah menangkap Direktur Eksekutif Walhi, Berry Nahdian Forqan dan rekannya Erwin Usman. Sebab, hal itu bertentangan dengan UUD 1945, di mana UUD menjamin semua masyarakat menyampaikan pendapat dan berekspresi di depan umum," ujarnya.
 Menurutnya, aksi yang dilakukan Walhi bersama masyarakat nelayan di pantai Malalayang Manado untuk mengingatkan peserta World Ocean Conference (WOC) dan Conference Triangel International (CTI) akan pentingnya kelangsungan nelayan tradisional, tidak anarkis dan sudah memberitahukan kepada aparat berwenang.
 "Penangkapan dua aktivis Walhi ini sebagai bentuk pembungkaman terhadap kebebasan menyatakan pendapat dan berekspresi. Kami menuntut agar Polri segera melepaskan kedua aktivis Walhi itu," ungkapnya.
 Dwitho mewakili Direktur Eksekutif Walhi Kalsel Hegar Wahyu Hidayat mengungkapkan kepada pers kalau aksi di depan Polda Kalsel tersebut sebagai bentuk keprihatinan, juga solidaritas terhadap sesama aktivis, termasuk dukungan bagi masyarakat nelayan yang disinyalir akan terpinggirkan oleh LSM internasional yang akan merekayasa hasil konferensi dunia itu untuk kepentingan perusahaan tambang multinasional.
 Sementara itu, Kapolda Kalsel Brigjen Pol Untung S Rajab mengatakan, demo-demo bisa saja dilakukan, asalkan memenuhi ketentuan yang berlaku dan tidak berlangsung anarkis.
 Menurutnya, jika demo tidak berjalan sebagaimana ketentuan yang berlaku, maka terpaksa akan dihentikan dan dibubarkan, demi memelihara Kamtibmas.
 Massa Walhi tidak sampai masuk ke halaman Polda Kalsel, karena sudah dijaga oleh puluhan aparat Dit Samapta Polda Kalsel. Aksi sendiri sempat terhenti akibat datangnya guyuran hujan.
 Kepada wartawan Dwitho mengatakan bahwa pihaknya akan tetap melaksanakan aksi jika kedua petingginya tidak dilepaskan oleh aparat Poltabes Manado.
 Sebagaimana diketahui, Senin (11/5) sekitar pukul 11.00 Wita, Berry dan Erwin ditangkap aparat Poltabes Manado ketika sedang mendukung aksi damai ratusan nelayan tradisional lokal, ditambah perwakilan nelayan dari Riau.
 Aksi Forum Kelautan dan Keadilan Perikanan (FKKP), waktu itu menggelar aksi damai di Pantai Malalayang, tidak jauh dari lokasi diadakannya konferensi WOC-CTI.
 Forum yakin kalau WOC-CTI yang bertujuan menetapkan kawasan konservasi dengan dalih menjawab perubahan iklim global, akan dimanfaatkan LSM-LSM internasional dari negara-negara industri untuk memberikan ruang bagi perusahaan tambang mengeruk tambang di bawah kawasan konservasi.
 Menurut forum itu yang juga didukung ratusan perwakilan nelayan, kawasan laut akan terpelihara dan pemanasan global bisa dihindari kalau nelayan tradisional tetap diberi hak kelola kawasan konservasi. adi 





















No comments: