Thursday, May 14, 2009

Setelah Puas Menyiksa, Mengajak Damai?

BANJARMASIN - Masih ingat kasus penganiayaan Baco Habir (40) diduga oleh oknum Kapolsek Sungai Durian Iptu Ju bersama anak-buahnya? Ternyata hingga kini, kasus pidananya belum kelar. Bahkan, korban diajak berdamai dengan perantaraan perwira di Polres Kotabaru.
 Rabu (13/5), Baco yang terus berjuang menuntut keadilan dan hukuman atas penganiayaan dirinya, kini dihadapkan dengan tawaran damai yang diajukan Kasat Reskrim Polres Kotabaru akhir pekan lalu. Secara tegas, ia menyatakan penolakannya atas ajakan damai tersebut. 
 "Akhir pekan lalu saat saya di Surabaya, dihubungi Kasat Reskrim Kotabaru yang mengajak berdiskusi masalah kasus saya. Setelah saya datang ke Kotabaru dan bertemu Kasat, dia bilang atas petunjuk Kapolres Kotabaru meminta saya damai saja dengan Iptu Ju," ungkap Baco yang telah membawa kasus penyiksaan dirinya itu ke Mabes Polri dan Kompolnas tersebut.
 Permintaan atau ajakan damai tersebut, mulanya masih belum diberikan jawaban oleh Baco. "Saya bilang saya tidak bisa memutuskan secara spontan seperti ini. Dan baru hari ini sesuai isi hati nurani saya, saya menolak ajakan damai tersebut," ungkapnya. 
 Menurutnya, ajakan damai oleh keponakan mantan Kapolda Kalsel Brigjen Halba R Nugroho melalui Kapolres dan Kasat Reskrim Polres Kotabaru tersebut, tidak bisa segampang itu. 
 "Dampak dari kasus ini sangatlah luas, bukan hanya saya, suatu saat nanti masyarakat yang bernasib sama dengan saya bakal mendapat perlakuan seperti ini juga, kasihan sekali masyarakat, setelah puas menyiksa, oknum-oknum polisi dengan gampangnya mengajak damai. Memangnya masyarakat ini budak yang seenaknya disiksa terus setelah babak belur baru dirayu-rayu," ucapnya kesal. 
Tiga Bulan, BAP 'Digantung' Polres.
 Jika saja Div Propam Mabes Polri terus memonitor kasus ini, tentu banyak kejanggalan yang terjadi, khususnya berkas perkara (BAP) pengusutan penganiayaan Baco Habir ini di Polres Kotabaru. Salah satu bukti, sejak mulai diusut tiga bulan lalu, berkas perkara tak kunjung diserahkan ke Kejari Kotabaru.
 Padahal, lanjutnya, seyogyianya, setiap perkara yang mulai diusut, minimal satu minggu Kejari sudah mengeluarkan Surat Perintah Dimulainya Penyidikan (SPDP). Tapi nyatanya, setelah dicek ke Kejari Kotabaru, tak ada pelimpahan berkas dari Polres Kotabaru atas nama dirinya selaku korban. 
 "Jadi tanda tanya besar, ada apa ini. Kenapa berkas saya sebagai korban tidak dilimpahkan juga, dan otomatis SPDP pasti belum dikeluarkan. Ini sudah memasuki bulan ketiga," ungkap Baco yang berencana menghadap ke Kejati Kalsel guna meminta kejelasan mengenai SPDP tersebut.
 Di lain sisi, mengenai mobilnya yang kini masih ditahan, nasibnya juga makin tidak jelas. "Kalau tidak boleh pinjam pakai, kenapa berkas ikut-ikutan digantung," tandasnya. adi



No comments: