Wednesday, May 27, 2009

Polsek Kintap Selidiki Kasus Penyerobotan Lahan

BANJARMASIN - Beberapa hari terakhir, Polsek Kintap Resort Tala melakukan penyelidikan terhadap kasus dugaan penyerobotan lahan milik Hj Rahmaniah di Desa Sungai Cuka, Kecamatan Kintap. Ada beberapa warga yang sudah dimintai keterangan.
 Dari informasi terhimpun, polisi telah meminta keterangan dari Kades Sei Cuka, R Rahim, kemudian dua warga setempat, Ali Sadikin dan Saleh.
 Senin (25/5), Kapolsek Kintap, AKP Hakim membenarkan kalau beberapa hari terakhir, pihaknya telah meminta keterangan dari ketiga orang yang diperkirakan mengetahui seluk-beluk lahan bermasalah tersebut.
 "Memang benar, kita telah meminta keterangan Kades Sei Cuka, H Rahim dan sejumlah warga. Namun, kita masih belum menetapkan status, mengingat kasus ini memerlukan penelisikan lebih jauh, seperti alas hak yang sebenarnya seperti apa. Kita belum mengetahui dengan pasti alat buktinya," ungkapnya.
 Menurutnya, jika hanya fotokopi keputusan Gubernur Kalsel, masih belum bisa dijadikan alat bukti. "Makanya, besok (hari ini), kita akan membentuk tim, untuk menelusuri alas hak yang sebenarnya, seperti nanti mencoba mengkonfirmasi ke Dinas Transmigrasi Kalsel. Sebab, diduga, sejarah lahan itu ada di sana," ucapnya.
 Ditambahkan, karena belum cukup bukti, maka sementara waktu pihaknya masih melakukan penyelidikan dan belum menetapkan tersangka. "Saya mesti hati-hati, karena tidak boleh sembarangan menetapkan seseorang sebagai tersangka jika belum cukup bukti. Bisa-bisa kita dipraperadilankan," tandasnya.
 Dari informasi yang beredar, Saleh memberikan keterangan kalau dirinya pernah diminta oleh seseorang untuk membuat pernyataan bahwa lahan tersebut milik almarhum orangtua Hj Rahmaniah. Hanya saja, beberapa waktu kemudian, ia mengaku tiba-tiba memiliki segel atas namanya sendiri.
 Hj Rahmaniah sendiri sebenarnya juga akan dimintai keterangan. Hanya saja, yang bersangkutan kebetulan mengaku sedang sakit sehingga tidak bisa memenuhi undangan polisi.
 Hj Rahmaniah (50), warga Desa Sei Cuka, Kecamatan Kintap, didampingi Habib Muhdar sebelumna mengadu nasibnya ke Kapolda Kalsel Brigjen Pol Untung S Rajab, Kamis (14/5).
 Wanita setengah baya yang mengaku menjadi korban penyerobotan lahan oleh oknum Pembakal Sungai Cuka dan dua perusahaan pelabuhan khusus (pelsus) ini menyampaikan masalahnya.
 Menurutnya, ada sejumlah pihak yang tanpa sepengetahuannya, telah dengan diam-diam menguasai lahannya, dengan jalan membuat segel atas lahannya. Kemudian, oleh oknum itu, tanah kemudian dijual ke perusahaan pelsus.
 Menurutnya, pengusaha dari PT Alkatara, yakni Hj Id, pernah berniat membeli lahannya. Bahkan, sempat dicapai kesepakatan harga tanah Rp15.000/meter persegi. Kesepakatan bahkan tertuang dalam kertas, di mana Hj Id akan memberi panjar sebagai uang muka sebesar Rp1 miliar.
 Hanya saja, hingga sekarang, Hj Id tidak pernah lagi berhubungan, malah perusahaannya sudah menggarap lahan miliknya untuk dijadikan pelsus, tanpa ada ganti rugi sepeserpun kepada Rahmaniah sebagai pemilik lahan, sebagaimana akta waris dari almarhum orangtuanya.
 Kasus ini sendiri kabarnya mencuat sejak 2005 lalu. Bahkan, sempat terjadi ketegangan antara buruh pembangunan pelsus dengan keluarga besar Hj Rahmaniah. Dipimpin Habib Muhdar, kegiatan pembangunan pelsus sempat dihentikan lewat aksi blokade, sehingga aktivitas pembangunan sempat terhenti.
 Namun, belum lagi masalah ini klir, aktivitas pembangunan kembali dilanjutkan beberapa bulan terakhir. Rahmaniah mengaku, ia hanya meminta keadilan. adi



No comments: