Sunday, May 31, 2009

Narkoba Meninggi, Ada Mafia Hukum?

BANJARMASIN - Ketua Badan Narkotika Provinsi (BNP), HM Rosehan NB wajar emosi setelah mengetahui hasil pengumuman BNN kalau Kalsel berada di urutan lima besar nasional, tertinggi peredaran narkobanya.
 Rosehan merasa sudah sangat maksimal melakukan sosialisasi tentang bahaya mengkonsumsi narkoba. Demikian juga intensitas penanganan kasus narkoba di kepolisian juga terbilang sudah optimal.
 Hanya saja, menurut Ketua LSM Kesatuan Aksi Peduli Penderitaan Rakyat (Kappera) Kalsel, Syafrian Noor alias Yayan, ada beberapa faktor yang diduga menjadi penyebab masih maraknya peredaran narkoba di Kalsel.
 "Kita termasuk orang yang merasa heran juga, kenapa Kalsel masih terbilang marak bahkan sampai masuk lima besar nasional, daerah yang peredaran narkobanya marak. Semakin gencar operasi yang dilakukan aparat penegak hukum, justru semakin meningkat saja peredaran narkoba ini dari tahun ke tahun," cetusnya Jumat (29/5) kemarin.
 Menurutnya, ada semacam keanehan, sebab semestinya semakin gencar operasi pemberantasan narkoba, maka kasus peredaran seyogyianya bisa ditekan. "Pabrik besarnya di daerah Bekasi, Tangeran bahkan Jatim, termasuk Batam sudah diberangus polisi, koq kenapa masih tinggi juga peredaran narkoba ini. Ini kan menimbulkan tanda tanya besar," ungkapnya.
 Yayan mengatakan, di masyarakat ada pertanyaan yang sebenarnya sulit diterima akal sehat. "Yakni apakah barang bukti berupa sabu dan ineks yang sebelumnya sudah diamankan kembali dilepas ke pasaran? Kita memang belum mempunyai bukti untuk ini. Namun, pertanyaan ini bisa saja muncul," cetusnya.
 Ia mengakui kalau kerja kepolisian dalam menangani kasus narkoba cukup tinggi. Namun, tujuan yang hendak dicapai yakni menekan angka peredaran narkoba justru semakin jauh dari capaian. "Masalah ini perlu dikaji dan ditelaah secara bersama-sama," sarannya.
Mafia hukum 
 Yayan juga melihat faktor kedua, di mana masih belum optimalnya hukuman bagi bandar dan pengedar narkoba. "Kita kerap mendengar berita kalau bandar dan pengedar narkoba dalam jumlah cukup besar, justru memperoleh tuntutan dan vonis lebih rendah ketimbang seorang tukang ojek yang cuma menjadi kurir. Bahkan, kalau saya tidak keliru, ada pengedar 30 gram sabu lengkap dengan ganjanya cuma dihukum tujuh bulan, sementara seorang tukang ojek yang jadi kurir bisa dihukum sampai satu setengah tahun penjara. Ada indikasi "permainan hukum" alias mafia hukum dalam hal ini," katanya. 
 Semestinya, bandar atau pengedar dihukum sangat berat sehingga bisa menimbulkan efek jera bagi pelaku lainnya agar tidak berbuat hal serupa. Bahkan, lanjutnya, banyak kasus pelaku yang tertangkap, justru mantan terpidana narkoba juga yang sudah beberapa kali masuk penjara. "Ini menunjukkan bahwa sistem hukum kita masih belum bisa membawa efek jera bagi bandar maupun pengedar. Kita berharap, polisi, jaksa, hakim termasuk pengacara memakai hati nurani dalam menegakkan hukum sehingga generasi muda tidak lebih dalam menjadi korban ulah para bandar dan pengedar narkoba," harapnya.
 Kalsel memperoleh predikat lima besar peredaran narkoba setelah DKI Jakarta, Kepri, Sumut, NAD. Sementara daerah tetangga seperti Kaltim dan Kaltim masing-masing menduduki peringkat delapan dan 10.
 Sedangkan daerah yang terkenal ditemukannya pabrik sabu dan ineks seperti Bekasi, Banten, Jatim dan Bali justru jauh berada di bawah Kalsel.
 Kasus narkoba di Kalsel memang semakin meningkat dari tahun ke tahun. Berdasar data yang pernah dirilis dari Bid Humas Polda Kalsel, tercatat 319 kasus narkoba di tahun 2006, kemudian naik menjadi 522 di tahun 2007 serta naik lagi di tahun 2008 menjadi 650-an kasus. adi



No comments: