Friday, May 8, 2009

Korupsi Pos Logistik Dua Karyawan Divonis 4 Tahun

BANJARMASIN - Dua anak buah Manajer Pos Logistik PT Pos Banjarbaru, Gusti Mastur dan Burhanuddin, masing-masing divonis empat tahun penjara divonis empat tahun penjara dan denda Rp50 juta atau tiga bulan penjara dalam sidang di Pengadilan Negeri (PN) Banjarbaru, Rabu (6/5).
 Menurut majelis hakim yang diketuai Dwi Prapti SH dibantu Fidiayawan Setiantoro SH dan Agus Setiawan SH, keduanya terbukti secara sah turut membantu atasannya, sehingga terjadi kerugian negara, sebagaimana diatur dalam pasal 2 ayat 2, pasal 3, pasal 9 dan pasal 15 UU RI Nomor 31/1999 tentang Pemberantasan Tipikor jo UU RI No 20/2001 tentang Perubahan atas UU RI Nomor 31/1999 dan pasal 55 KUHP.
 Vonis yang diberikan majelis hakim, berarti tidak berubah dari tuntutan JPU yang juga menuntut kedua terdakwa hukuman empat tahun penjara. 
 Kedua terdakwa melalui kuasa hukumnya, Sarwo Sutianto SH masih menyatakan pikir-pikir atas vonis tersebut. Ada beberapa hari bagi keduanya untuk memutuskan langkah hukum selanjutnya, apakah menerima ataukah banding.
 Begitu juga dengan JPU yang beranggotakan Rufina Ginting SH, Thailani M SH bersikap menunggu langkah terdakwa selanjutnya.
 "Yang jelas, vonis yang sudah dijatuhkan majelis hakim PN Banjarbaru, sudah sesuai dengan tuntutan JPU sebelumnya," ujar Kasi Penkum dan Humas Kejati Kalsel Johansyah M SH, Kamis (7/5) kemarin. Mastur yang bertugas pada suvervisor pemasaran serta Burhanuddin di supervisor umum, dituding terlibat dalam korupsi berjamaah di Pos Logistik.
 Sebelumnya, pada Selasa (28/4), Manajer Pos Logistik PT Pos Banjarbaru, Muhammad Iskandar, divonis delapan tahun penjara. Meskipun sebenarnya, tuntutan JPU adalah 10 tahun penjara.
 Tak sekedar itu, majelis hakim yang diketaui Heru Mustafa SH, juga menjatuhkan denda kepada Manajer Pos Logistik ini sebesar Rp300 juta atau jika tidak membayar, ganti hukuman penjara enam bulan. Tak cukup, terdakwa juga diperintahkan membayar uang pengganti sebesar Rp1.790.000.000 atau hampir Rp1,8 miliar.
 Iskandar yang sebelumnya tidak terduga berbuat hal tersebut, karena penampilan sehari-harinya terkenal sederhana dan cukup agamis ini, hanya bisa pasrah mendengarkan vonis tersebut.
 Menurut Heru, terdakwa terbukti secara sah dan meyakinkan, telah melakukan tindak pidana korupsi merugikan keuangan negara, sehingga menguntungkan diri sendiri atau orang lain, sebagaimana diatur pada pasal.
 Dalam waktu dekat, berkas empat tersangka lainnya, yang adalah rekanan dalam bisnis trading batubara Pos Logistik, masing-masing petinggi PT Tiara Citra Mandiri (TCM) Ufk, PT Aldarista Global Mineral (AGM) SJ, PT Regency Logistic Service (RLS) Cah dan PT Citra Persada Energytama (CPE) Nzr, juga dalam proses diserahkan ke PN Banjarbaru.
 Keempat perusahaan ini diduga turut berkolusi dengan oknum pejabat di Pos Logistik yang jadi tersangka. Kerugian negara yang mencapai Rp28 milyar itu sendiri, adalah dana yang dari versi perusahaan adalah dana yang belum terkembalikan ke Pos Logistik.
 Dari informasi terhimpun, dana yang belum 'terbayar' namun dianggap penyidik dikorupsi, masing-masing PT AGM sebesar Rp490 juta, RLS sebesar Rp3,2 milyar, PT CPE sekitar Rp2 milyar dan terbesar PT TCM sekitar Rp23 milyar, sehingga total Rp28 milyar.
 Sementara, untuk berkas lainnya, masih dalam rangkaian korupsi dana Pos Logistik itu, Her dan istrinya Lis juga dalam tahap penyelesaian. Pasangan suami istri (pasutri) yang menjadi tersangka korupsi penyimpangan dana di Unit Pelayanan Transportasi (UPT) PT Pos Banjarbaru senilai Rp12 milyar itu kembali tersandung kasus baru. Kali ini, dana yang dikorupsi berasal dari unit tetangganya, Pos Logistik, senilai Rp1,7 milyar. adi