Sunday, May 31, 2009

Kasus Bayi Dibuang Di Gambut Berkas Sudah P-21, Ditunggu Penyerahan Tahap Duanya

BANJARMASIN - Kejari Martapura melalui Kasi Pidum-nya Hariyanto SH menyatakan bahwa berkas kasus penelantaran bayi oleh dua tersangka pasutri, TM dan RM sudah P-21 alias lengkap. Kejaksaan kini tinggal menunggu penyerahan tahap dua dari penyidik Polsek Gambut Resort Banjar.
 Setelah setengah tahun sejak penemuan bayi malang yang ditelantarkan orangtuanya di salah satu halte dekat kuburan Jl A Yani Km 15,200 Gambut, akhirnya berkas kasusnya rampung juga.
 "Berkas kasusnya sudah lengkap atau P-21. Penyidik kepolisian sudah memenuhi petunjuk yang telah kita sampaikan. Dalam kasus ini, kedua tersangka memang layak dimejahijaukan, karena sudah menelantarkan bayi yang wajib dilindungi, sebagaimana diatur pada pasal 307 KUHP," ungkapnya.
 Menurut Haryanto, pihaknya sudah siap melimpahkan kasus ini ke Pengadilan Negeri (PN) Banjarmasin. Tinggal yang ditunggu, adalah penyerahan berkas dan tersangka oleh pihak kepolisian, melalui penyerahan tahap dua ke Kejari Martapura.
 "Hanya saja, kita belum mengetahui dengan detil, tentang keberadaan bayi apakah masih diasuh salah satu orangtua tersangka atau bagaimana," bebernya.
 Secara singkat, Haryanto menerangkan, awal mula kasus itu berkaitan dengan adanya dugaan larangan dari pihak kampus bagi mahasiswinya memiliki anak selama mengenyam kuliah. "Keterangan tersangka demikian. Kemudian, mungkin ada juga perasaan malu dan tidak enak dengan kedua orangtuanya masing-masing. Maka, kedua tersangka sepakat akan menitipkan bayinya ke panti asuhan yang ada di Martapura," jelasnya.
 Hanya saja, ungkap Haryanto, kedua tersangka tidak menemukan tempat panti asuhan, sehingga balik kanan lagi ke arah Banjarmasin. "Di tengah perjalanan, yakni di sekitar Gambut, bayi mereka kemudian diletakkan di salah satu halte. Keesokan paginya, RM mencari lagi bayi itu ke halte, karena istrinya, TM menangis terus terkenang bayinya," cetusnya.
 Meski demikian, kedua tersangka tetap saja dianggap menelantarkan bayinya, karena sejak hari itu tidak berupaya mencari atau mengambil bayinya, meski di sejumlah media massa, diketahui kalau bayi itu ada di rumah bidan di Gambut.
 Kasus pembuangan bayi ini sendiri boleh jadi akan diterapkan pasal yang diatur dalam UU No 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.
 Temuan bayi laki-laki di halte depan kuburan umum di Jl A Yani Km 15,200 Gambut, Sabtu 29 November 2008 dinihari lalu sempat menggegerkan warga Gambut. 
 Ironisnya, ketika polisi dari Polsek Gambut berhasil menangkap pelakunya, 16 Desember 2008, ternyata tersangkanya adalah ayah dan ibu si bayi sendiri, yakni RM (19) dan TM (21), keduanya masih tercatat mahasiswa dan mahasiswi semester III Fakultas Tarbiyah IAIN Antasari Jl A Yani Km 4 Banjarmasin.
 Si laki-laki, RM dan si wanita TM berhasil diciduk begitu keluar dari sebuah warung makan di kawasan Jl Manunggal Bina Brata, tak jauh dari kampus keduanya.
 Kanit Reskrim Polsek Gambut Brigadir Purnoto SH mewakili Kapolsek Gambut AKP Jumberi, kala itu mengatakan, tindakan kedua tersangka yang menikah Agustus 2008 ini bisa dikenakan pasal 77 UU No 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dengan ancaman tujuh tahun serta pasal 307 dan 308 KUHP tentang menelantarkan orang yang membutuhkan pertolongan dengan ancaman hukuman lima tahun.
 Diduga juga, bayi ini hasil hubungan terlarang dan dikandung sebelum memasuki pernikahan. Pasalnya, mereka menikah Agustus 2008 di Jorong, sedangkan bayi itu lahir sekitar 26 November 2008 dinihari di rumah sakit Sari Mulia Jl P Antasari Banjarmasin. adi



No comments: