Wednesday, April 1, 2009

Warga Sei Cuka Sedih Lahannya "Diserobot" Dua Pelsus

BANJARMASIN - Dengan mimik sedih, Hj Rahmaniah (50), warga Desa Sei Cuka, Kecamatan Kintap, Kabupaten Tanah Laut (Tala), mengadu kepada wartawan bahwa lahan peninggalan kakek dan ayahnya H Ramli (alm), ternyata "diserobot" oleh dua perusahaan pelabuhan khusus batubara, masing-masing PT Batu Hitam Mulia (BHM) dan PT Alkatara.
 "Padahal, tanah tersebut, adalah peninggalan orangtua saya. Saya memiliki risalah waris, begitu juga keterangan tanah yang pernah dibuat Gubernur Kalsel tahun 1982 tentang SK Pelaksanaan Inventarisasi Pemakaian Hak Areal Transmigrasi yang mengatakan bahwa tanah itu masuk tanah orangtua saya," ujarnya didampingi Habib Muhdar, Selasa (31/3).
 Saat ini, lanjutnya, tanah miliknya yang sudah digarap oleh dua pelsus tersebut tersebut, masing-masing PT BHM seluas kurang lebih 40 hektar dan PT Alkatara seluas kurang lebih 20 hektar. "Hingga sekarang, saya tidak pernah mendapat ganti-rugi atas lahan tersebut. Padahal, sebelum kejadian ini, pihak BPN Pelaihari, sempat mengakui hak saya atas lahan tersebut sehingga menganjurkan pengusaha dari perusahaan tersebut untuk berurusan dengan saya. Namun, belum lagi urusan jual-beli selesai, mereka sudah membangun pelsus. Bahkan, salah satu perusahaan sudah progres hingga 65 persen, baik tiang pancang maupun jalannya," tuturnya.
 Dikisahkan, pada 2003, dirinya pernah didatangi kades yang menginformasikan bahwa ada seorang pengusaha, berinisial Hj Ida dari PT Alkatara yang berminat memakai lahannya untuk dijadikan pelsus. "Menurutnya, jika tak ada uang untuk membeli, bisa saja dengan sistem fee, sehingga untuk kesungguhan saya akan diberi Rp100 juta. Namun, sejak Mei 2003, pembicaraan tidak ada lagi," paparnya.
 Kemudian, lanjutnya, Hj Ida, pemilik PT Alakatara pernah mendatangi BPN Pelaihari dan oleh pejabat di sana, yakni Rehan, Hj Ida dianjurkan berurusan langsung dengan Hj Rahmaniah sebagai pemilik lahan. "Memang Hj Ida kemudian pernah langsung berurusan dengan saya. Dia mau memberi ganti-rugi lahan seluas 40 hektar, di mana satu meter perseginya saya hargai Rp15.000, atau total Rp6 miliar. Lalu, dia menurunkan tawaran karena perlu 20 hektar, atau Rp 3 miliar. Untuk kesungguhan ia berjanji akan memberi uang muka Rp1 miliar. Namun, hingga sekarang, hal itu tak pernah terealisasi. Saya masih punya perjanjian di atas kertas tentang rencana jual-beli itu," tukasnya.
 Tiba-tiba, lanjutnya, PT Alkatara mulai membangun pelsus tanpa sepengetahuannya. Setelah dicek, ternyata PT Alkatara mengklaim sudah mengantongi 15 buah segel seluas 20 hektar, yakni berdasar hasil pembelian dari Kades Sei Cuka, H Him. "Padahal, saya sama sekali tidak pernah menjual tanah itu kepada siapa pun juga, kenapa tiba-tiba Pt Alkatara bisa mempunyai segel yang katanya didapat dari H Him," cetusnya.
 Ironisnya, PT BHM yang disinyalir milik R Bng, pengusaha asal Teluk Tiram, Banjarmasin, juga dituding H Rahmaniah telah menduduki lahan miliknya seluas 40 hektar, di mana PT BHM merasa memiliki setelah membeli tanah itu juga dari H Him.
 "Permasalahan ini pernah kami laporkan ke Polsek Kintap, Polres Tala, BPN Pelaihari bahkan ke pejabat terkait, namun seolah-olah ditanggapi sepi. Alhamdulillah, kita mendapat respon dari BPN Pusat di Jakarta yang mengirim surat balasan 23 Maret 2009 ini. BPN Pusat mempersilakan bagi kami untuk melakukan sanggahan selama rentang 30 hari ini," imbuhnya. adi
 
  





















1 comment:

Anonymous said...

Masing2 pihak punya alas hak ,majukan saja kasusnya ke pngadilan perdata,supaya tidak berbelit belit. Negara pasti bela yang benar