Sunday, April 12, 2009

Temuan 5.145 Ineks Ineks Bun Pool Marlong Mengejutkan

BANJARMASIN - Pengakuan Dit Narkoba Polda Kalsel bahwa 5.145 pil yang terungkap di Bun Pool Jl Sutoyo S Teluk Dalam ternyata adalah bukan ineks alias cuma ineks marlong sangat mengejutkan sekaligus memiriskan.
 Penjelasan yang terkesan terlambat ini menimbulkan pertanyaan, ada apa di balik itu semua, sehingga awalnya diakui ineks justru belakangan dikatakan sebagai ineks marlong.
 Ketua Kesatuan Aksi Peduli Penderitaan Rakyat (Kappera) Safrian Noor, Kamis (9/4) mengatakan, dirinya hampir tidak bisa berkata ketika mendengar informasi tersebut.
 "Ini ada kesan aneh, kenapa informasi bahwa ineks di Bun Pool itu ternyata marlong, justru sudah 20 hari kemudian sejak kasus itu terbongkar. Ini sangat-sangat membingungkan masyarakat yang merindukan pemberantasan narkoba di daerah ini," ujar pria yang akrab disapa Yayan ini.
  Yayan menuding, aparat seolah-olah sudah plin-plan dalam menyampaikan informasi kepada masyarakat. "Pada awalnya, setelah dilakukan melalui testkite, ineks tersebut dikatakan positif. Sehingga wajar kalau seluruh media massa ketika merilis berita tentang kasus tersebut juga mengatakan bahwa ineks tersebut asli," tukasnya.
 "Apakah ada pengaruh udara yang cukup lama, sehingga kandungan zat dalam ribuan pil itu menjadi berubah atau bagaimana. Ataukah sistem pengamanan barang bukti yang lemah sehingga mungkin bisa ditukar, itu juga tidak kita ketahui," ujarnya.
 Ditambahkannya, paket berisi 5.145 pil ke Bud, Bun Pool, yang diterima oleh Rok, sangat mustahil berisi ineks marlong, karena paket tersebut dikirim dari Jakarta.
 Ketua BNP Kalsel, Rosehan NB ketika dikonfirmasi wartawan juga tidak bisa berkomentar banyak, karena tidak mengikuti secara terperinci perkembangan kasus tersebut.  
 Sementara itu, Kasat I Dit Narkoba AKBP Made Wijana membenarkan kalau dari hasil tes di laboraturium BPOM Banjarmasin serta laboraturium milik BNN di Jakarta, pil diduga milik Bud, adalah marlong.
 "Awalnya dari hasil pemeriksaan di laboraturium BPOM, sampel pil itu tidak mengandung MDMA atau matamfetamine, zat psikotropika. Karena tidak yakin, kita bawa lagi sampelnya ke laboraturium di BNN Jakarta, ternyata hasilnya juga sama," jelasnya.
 Meski demikian, lanjutnya, dalam pil itu ada kandungan zat obat-obatan, sehingga kasus tersebut akan tetap diproses, dengan tersangka akan dikenakan UU Kesehatan yang ancaman hukumannya antara lima tahun hingga 15 tahun penjara.
 "Meski bukan zat psikotropika, namun tersangka akan diancam dengan UU Kesehatan yang ancaman hukumannya juga berat, tinggal bagaimana hakim memutuskan," jelasnya.
 Meski demikian, pemeriksaan sampel tersebut sulit dipercaya publik, apalagi diduga aparat Dit Narkoba Polda Kalsel yang memeriksakan sampel tersebut tidak didampingi atau melibatkan orang dari BNP Kalsel.
 Sementara itu, Bud yang hingga kini masih DPO, oleh aparat masih dicari. "Namun, pengacara maupun keluarga Bud sudah berupaya juga mencari Bud dengan maksud membujuknya agar mau menyerahkan diri," paparnya.
 Sebagaimana diketahui, aparat Dit Narkoba Polda Kalsel membongkar kasus paket 5.145 pil yang diduga keras ineks di Bun Pool, Jumat (20/3) lalu. Paket dari Jakarta namun tidak jelas pengirimnya itu, dialamatkan kepada Bud, General Manager Bun Pool. adi



No comments: