Monday, April 6, 2009

Pungli Aparat Resahkan Sopir

BANJARMASIN - Ditilang tidak, namun, sebagian sopir truk batubara mengaku kerap masih dimintai uang oleh sejumlah oknum polisi, hanya karena truknya dianggap menyalahi antrian dalam kemacetan di sekitar Jembatan Basirih, Banjarmasin.
 Ironisnya, selain ada unsur kesengajaan oknum membiarkan kemacetan semakin parah, uang kutipan juga tergolong cukup besar, karena bisa mencapai Rp50 ribu tiap truk. Hanya saja, karena enggan berurusan di kantor polisi, para sopir yang menjadi korban ini mengaku terpaksa membayar pungutan liar (pungli) tersebut.
 Menurut satu sumber, Minggu (5/4), selain pungli itu lumayan besar bagi ukuran penghasilan para sopir, pungli itu disinyalir terjadi kepada ratusan sopir truk lainnya. Tentu saja, jika uang itu dikalikan ratusan, tiap malamnya bakal banyak uang yang dihasilkan secara ilegal oleh sejumlah oknum polisi ini.
 Bahkan, jika sopir tetap ngeyel tidak mau membayar, selain bakal ditilang juga mendapat ancaman dikempeskan ban truknya. Pengawasan terhadap kasus yang sudah terjadi cukup lama dan disinyalir berlangsung hingga saat ini, diduga sangat longgar, mengingat aktivitas pungli ini terjadi mulai pukul 23.00 Wita sampai dinihari.
 Sidik (23), seorang pemuda yang berprofesi sebagai sopir truk batubara membeberkan hal tersebut kepada Mata Banua, kemarin. "Penghasilan kami yang semestinya Rp200 ribu seharian, biasanya tidak utuh lagi, karena harus mengeluarkan sejumlah uang untuk memberi oknum polisi yang sejatinya mengatur lalu-lintas di kawasan Jembatan Basiri, di mana pusat kemacetan terjadi, mulai pukul 23.00 Wita sampai dinihari," ujar warga Martapura ini.
 Menurutnya, biasanya, oknum polisi dari Poltabes Banjarmasin terkenal "ganas" dalam mengutip pungutan jika ada sopir yang dianggapnya menyalahi ketentuan antri dalam kemacetan itu.
 "Kalau kurang Rp50 ribu, truk kami bisa-bisa langsung dikeluarkan surat tilangnya. Kawan-kawan sopir biasanya tidak ingin ambil pusing jika harus menghadiri sidang tilang, sehingga dengan terpaksa mau saja membayar Rp50 ribu. Kalau ditilang, biasanya, angka uang untuk mengeluarkan truk akan jauh lebih besar. Daripada keluar uang lebih banyak, maka kita mau saja membayar Rp50 ribu, meski agak menggerutu juga," bebernya.
 Ditambahkan Sidik, yang agak mencurigakan, lanjutnya, kesemrawutan antrian truk batubara semestinya bisa langsung diantisipasi beberapa jam sebelum pukul 23.00 Wita, jika aparat benar-benar mengawasi dan mengatur lalu-lintas.
 "Ini terkesan, kesemrawutan dan kemacetan itu seolah-olah dibiarkan saja hingga parah. Akibatnya truk-truk sudah tidak beraturan lagi. Makanya, meski kita merasa benar bahwa masih dalam antrian, tetap saja akan dianggap salah, begitu keluar sedikit dari median jalan," imbuhnya.
 Menurut Sidik, perlu ada pengawasan dari internal kepolisian, agar pungli yang sudah meresahkan tersebut tidak berulang-ulang terjadi. "Jika begini terus, wajar saja citra polisi cukup negatif di mata masyarakat," cetusnya. adi






















1 comment:

suzann said...

hnya bisa menggelenk kan kepala ajha,,,