Tuesday, April 7, 2009

Proyek Dinkes Amburadul Sedang Direhab, Pustu Sei Lulut Dalam Ambruk

BANJARMASIN - Jembatan Kapuas bernilai Rp60 miliar ambruk menjelang diresmikan. Hal serupa namun nilainya jauh lebih kecil, juga terjadi pada rehab sebuah Puskesmas Pembantu di Desa Manunggal, Sei Lulut Dalam, RT 8 Banjarmasin Timur yang ambruk, sebelum fisiknya diserahterimakan.
 Ambruknya bangunan yang direhab yang kabarnya dilaksanakan oleh CV Intan Kurnia pada Kamis (2/4) sekitar pukul 22.30 Wita ini sempat mengejutkan masyarakat setempat, akibat bunyi ambruknya sangat keras. Apalagi, dinding dan bagian lantai yang direhab sudah dipasangi bata plester.
 Meski masih menjadi tanggung jawab kontraktor, namun rehab tersebut menandakan tidak direncanakan secara matang, apalagi memperhatikan struktur bangunan sebelumnya.
 Jika saja, anggaran bangunan ditambah lagi oleh dinas terkait untuk rehab ulang, tentu akan menjadi pemborosan dan bakal mengundang perhatian aparat penegak hukum.
 Alhasil, pecahan bata plester tersebut cuma menjadi serpihan-serpihan yang teronggok di halaman bekas bangunan. Mata Banua yang meninjau langsung, Senin (6/4) kemarin mendapati, serpihan itu ada ditempatkan juga di halaman salah satu warga setempat.
 Sementara, rangka bangunan yang sebelumnya amburadul menyusul robohnya pondasi sudah mulai dikerjakan lagi dengan bahan balok yang lebih baru dan bagus. Demikian juga tiang-tiang pondasi, sudah diganti yang baru oleh kontraktor.
 Terlihat lima orang lebih buruh bangunan yang sedang bekerja membangun rangka bangunan beserta kuda-kuda atapnya. Ironisnya, plang proyek yang notabene dananya diambil dari APBD Kota Banjarmasin 2009, tidak tampak di lokasi, seolah-olah seperti proyek liar dan misterius.
 Seorang kepala tukang, H Runi menjelaskan, dia bersama rekan-rekannya memang mendapat job dari CV Intan Kurnia untuk membangunan kembali bangunan puskesmas pembantu yang sempat ambruk tersebut.
 "Ambruknya pada malam Jumat tadi. Kini kami sedang membangun kembali dengan balok-balok kayu yang lebih baru. Kabarnya, ambruknya bangunan akibat pondasi yang tidak kuat menahan beban dari bata-bata yang dipasang pada dinding maupun lantai bangunan," ujarnya.
 Menurut Runi, dari pengetahuannya sebagai tukang, kemungkinan besar, ambruknya bangunan yang direhab tersebut, karena sunduk atau balok bagian penyangga yang hanya berukuran 4 X 6 cm tidak tahan menyangga beban dinding maupun lantai yang dibuat beton.
 "Sekarang bagian sunduk itu telah kami ganti dengan ukuran yang lebih besar, yakni ukuran 5 X 10 cm. Demikian juga bagian pondasi, kayu-kayu ulinnya juga baru. Kalau sudah begitu, mungkin akan lebih tahan kalau dinding dan lantainya dibuat beton," jelasnya.
 Sementara itu, warga setempat, Andi membeberkan, mulanya, Puskemas Pembantu tersebut sudah berdiri di desanya sekitar 10 tahun. "Kemudian karena sudah dianggap tua dan lapuk, lalu dianggarkan oleh Dinas Kesehatan Banjarmasin untuk direhab. Hanya saja, karena dananya terbatas, rehab masih memakai sebagian bahan bangunan lama. Ternyata, dinding bata plester dan lantai beton membuat beban untuk pondasi yang kami pikir sudah lapuk. Makanya, bangunan menjadi ambruk," cetusnya.
 Namun, lanjut Andi, masyarakat setempat tidak merasa keberatan dengan ambruknya bangunan tersebut, asalkan pihak kontraktor mau bertanggung jawab untuk menyelesaikan proyek tersebut hingga tuntas dan bisa digunakan kembali oleh masyarakat. adi  
 



No comments: