Saturday, April 18, 2009

Kasus 5.145 Ineks Marlong Diuji Secara Terbuka

BANJARMASIN - 5.145 pil yang disita Dit Narkoba Polda Kalsel yang belakangan diklaim sebagai ineks marlong (palsu) ternyata mengundang keprihatinan sejumlah warga. Ada wacana agar pil tersebut di tes secara terbuka.
 Abdullah (nama samaran), warga Sungai Andai mengaku kecewa dengan kinerja Dit Narkoba Polda Kalsel yang notabene sudah digaji masyarakat lewat pajak yang dibayar untuk mengungkap kasus-kasus narkoba itu.
 "Ini agak aneh, kenapa setelah 20 hari sejak kasus itu terungkap, baru dikemukakan ke publik jika pil tersebut marlong. Padahal, sejak awal, pemberitaan di media massa sudah terlanjur mencap kalau pil itu asli ineks," ujarnya.
 Ia mengusulkan agar dilakukan tes ulang lagi yang dilakukan secara terbuka, baik disaksikan masyarakat, media massa termasuk pejabat dari Badan Narkotika Provinsi (BNP) Kalsel.
 "Banyak warga di tempat saya tinggal, mengatakan kalau perlu pilnya dites secara langsung dengan dikonsumsi, biar tahu apa itu benar-benar ineks atau marlong," tukasnya.
 Beberapa waktu lalu, Kapolda Kalsel Brigjen Pol Untung S Rajab mengatakan, pihaknya tidak bisa berbuat apa-apa, setelah pil di Bun Pool, Jl Sutoyo S Teluk Dalam itu dinyatakan marlong, sesuai hasil tes di laboratorium BPOM Banjarmasin, dan diperkuat lagi hasil tes di laboraturium BNN.
 "Penyidik tidak bisa mengatakan itu asli atau tidak, sebab ada lembaga yang lebih kompeten. Nyatanya, dari hasil tes yang dilakukan BPOM pil itu bukan ineks. Demikian juga hasil pemeriksaan yang dilakukan BNN," beber Untung.
 Meski demikian, lanjutnya, kasus tersebut tetap dilanjutkan, meski tersangka tidak dikenakan pasal dalam UU No 5 Tahun 1997 tentang Psikotropika, melainkan menggunakan UU Kesehatan, mengingat dalam pil itu terkandung bahan obat lain.
 Sementara itu, Sat I Dit Narkoba Polda Kalsel AKBP Made Wijana menginformasikan bahwa berkas tersangka Rok, penerima paketan berisi 5.145 pil, masih P-18 atau baru dalam tahap satu.
 "Kita masih menunggu petunjuk melengkapi berkas (P-19) dari pihak Kejati Kalsel. Kalau sudah turun, kita akan segera melengkapinya," terangnya seraya menjelaskan bahwa barang bukti masih tersimpan aman di Polda Kalsel.
 Disinggung apakah Bud--nama yang tertera dalam alamat tujuan paket, sudah tertangkap, Made mengakui masih belum. "Kita masih melakukan pencarian, karena dia masuk DPO. Namun, lewat keluarganya juga diupayakan agar Bud bisa menyerahkan diri secara baik-baik," paparnya.
 Di arena biliar Bun Pool, Jumat (20/3) menjelang Maghrib, petugas gabungan menangkap Rok, karyawan setempat yang kedapatan menerima paket berisi ribuan pil diduga ineks.
 Di paket berbentuk kotak besar tersebut tertulis nama dan alamat calon penerima, yakni Pak Bud, Buntoso Pool Jl Sutoyo S No 1 RT 24 Banjarmasin.
Setali tiga uang
 Sementara itu, Sat II Dit Narkoba Polda Kalsel juga masih memburu tiga tersangka kepemilikan 50 butir ineks marlong lainnya, masing-masing Fu, An dan Hen. Satu lainnya, yakni Zai sudah terlebih dahulu diamankan.
 Sebelumnya, Kamis (19/3) lalu, kesatuan tersebut membuat langkah kontroversial dilakukan Sat II Dit Narkoba Polda Kalsel karena melepaskan empat orang yang diduga jaringan narkoba. Alasannya, Fu, Zai, An dan Hen tidak terbukti mengedarkan ineks.
 50 butir pil berwarna ungu yang sebelumnya diduga ineks, ternyata bukan ineks alias hanya ineks marlong (palsu).
 "Dari pemeriksaan untuk uji kandungan metamfetamine, ternyata 50 butir pil yang diedarkan empat orang tersebut, negatif. Karena tidak terbukti mengandung zat psikotropika, maka keempat orang itu, kami pulangkan," ujar Kanit I Sat II Dit Narkoba Polda Kalsel AKP Yanto Suparwito mewakili Kasat II AKBP Jimmy Agustus, waktu itu.
 Menurutnya, empat orang tersebut, masing-masing Fu (23), 
warga Jl Antasan Kecil Barat, Zai (35) Jl Jahri Saleh RT 24, An (24), warga Jl Jembatan Lima Pekapuran dan Hen (23), warga Pekapuran Laut RT 13, tetap dikenai wajib lapor.
 Belakangan, semuanya dicari lagi, karena pil tersebut mengandung obat tertentu, sehingga bisa dijerat UU Kesehatan. adi



No comments: