Tuesday, April 21, 2009

Enam Saksi Ringankan Terdakwa

BANJARMASIN - Perkara illegal mining dengan terdakwa H Amir H Nasruddin kembali disidangkan di Pengadilan Negeri (PN) Banjarmasin, Senin (20/4). Agenda pemeriksaan adalah pemeriksaan saksi yang meringankan terdakwa.
 Pemeriksaan saksi yang dihadirkan kuasa hukum H Amir, Jongky SH ini setelah beberapa saksi ahli yang seyogyianya dihadirkan oleh JPU yang dikoordinir Sandy Rosady SH, ternyata tidak bisa hadir.
 Enam saksi berasal dari Desa Serongga, Kecamatan Kelumpang Hilir dan rata-rata mengaku sebagai pemilik lahan yang kemudian dikerjasamakan penggarapan tambangnya, kepada PT BCK, sub PT Baramega Citra Mulia Persada (BCMP), milik terdakwa.
 Syaukani, saksi pertama yang juga menjabat sebagai Camat Kelumpang Hilir mengakui kalau lokasi tambang BCK dan BCMP terletak di wilayahnya.
 Hanya saja, Syaukani tidak mengetahui apakah di lokasi tersebut ada areal HTI milik PT Kodeco Timber. Menurutnya, sepanjang yang ia ketahui, PT Kodeco tidak pernah melaporkan atau memberitahukan kepada jajarannya, tentang keberadaan areal milik Kodeco di wilayahnya, apalagi di lokasi tambang BCK.
 "Meski tidak ada kewajiban bagi perusahaan untuk memberitahu lokasi miliknya di wilayah kita, namun sejauh yang saya ketahui, belum pernah Kodeco memberitahu kepada kita bahwa lokasi di wilayah kita adalah arealnya. Dari yang saya ketahui, tanah yang sekarang digarap tambang oleh BCK, dahulu memang garapan masyarakat setempat," ujarnya.
 Camat juga menambahkan, karena masyarakat Serongga sudah secara turun-temurun menggarap lahan tersebut, baik untuk bertani atau berkebun, maka ketika penggarap mengajukan diri untuk dibuatkan surat-menyuratnya, maka aparat desa setempatpun membuatkannya.
 Senada, saksi lainnya seperti Rahmadi, Hasan, Usman, Arli, minus Ardiansyah yang tidak hadir, menegaskan bahwa lokasi yang ditambang BCK, terletak di Gunung Bugis dan Gunung Lamut, Serongga, dahulunya adalah tanah garapan datuk neneknya. "Saya adalah keturunan keempat dari datuk kami itu," aku Rahmadi.
 Bahkan, dari pengakuan Usman, antara saksi satu dengan saksi lainnya masih ada hubungan darah karena berasal dari satu keturunan. "Alhamdulillah, kita semua dalam kelompok yang berjumlah 48 orang, masih ada kaitan keluarga, karena datu kami sama, berasal dari Kandangan, HSS," ujarnya.
 Menurut Hasan, puluhan tahun lalu, sejak ia kecil, lahan tersebut sudah digarap oleh orangtua mereka, dengan jalan ditanami padi, sebagian tanaman kebun seperti cempedak, karet dan lain-lain. Meskipun demikian, ada juga sebagian lahan yang masih berupa semak-belukar.
 Semua KK yang mula berdiam di kawasan itu, sudah memiliki segel tanah yang memperkuat bukti kepemilikan atas lahan tersebut. Kemudian, pada 2007, dilakukan kerja sama dengan BCK yang akan menggarap tambang batubara.
 Menurut Rahmadi, warga yang masuk dalam kelompok tani pemilik lahan seluas kurang lebih 35 hektar, mendapat fee dari BCK, baik bulanan maupun per enam bulan. Tiap ton, ada fee sebesar Rp20.000. lebih 35 hektar.

 Yang menarik, ketika ketua majelis hakim, Suryanto Daulay SH menyinggung apakah sejumlah saksi itu mengetahui ada masalah lahan dengan Kodeco, saksi mengaku tidak mengetahui. 
 "Memang, ada pihak tertentu yang menggusur lahan kami pada tahun 1980-an. Kita tidak tahu siapa yang melakukannya. Kami protes, karena lahan tempat kami mencari nafkah diratakan kala itu," ucap Hasan sengit.
 Jongky mengatakan, bilamana kawasan tidak termasuk kawasan hutan, misalnya APL, maka tidak perlu izin pinjam pakai dari Menhut. Hal itu mengacu pada PP No 33 Tahun 1970 dan UU No 24 Tahun 1992 tentang Tata Ruang, di mana kawasan hutan boleh diubah, jika sudah menjadi hak ulayat, hak milik atau menjadi APL.
 Sidang mendengarkan keterangan saksi dari pihak terdakwa masih akan dilanjutkan Rabu (22/4) mendatang. H Amir dijadikan terdakwa dan didakwa melanggar pasal 78 ayat (2), (6) jo pasal 50 ayat (3) huruf a dan g UU RI No 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan dan pasal 406 KUHP.
 BCMP dituding menambang di kawasan hutan dan HTI milik Kodeco tanpa izin Menhut di Desa Batu Ampar, Tanah Bumbu dan Desa Serongga, Kotabaru. adi



No comments: