Friday, April 24, 2009

BLT Disimpangkan, Pembakal Dilapori Polisi

BANJARMASIN - Meksi uang Bantuan Langsung Tunai (BLT) untuk warga miskin, ternyata masih ada saja aparat desa yang tega menyimpangkannya dan tidak mendistribusikannya kepada yang berhak.
 Rabu (22/4) kemarin, korban Nanang, warga Desa Simpang Empat, Kecamatan Kertak Hanyar, Kabupaten Banjar, terpaksa melapor ke Polsek Kertak Hanyar Resort Banjar, karena merasa hak-haknya selaku penerima BLT "direnggut" oleh oknum tertentu diduga akibat "permainan' yang dilakukan terlapor, oknum Pembakal Simpang Empat Kertak Hanyar, Jub.
 Ia didampingi Drs Ahmad Bulkini dari LSM Lembaga Pengkajian Pembangunan Indonesia (LPPI) Kalsel, langsung melaporkan dugaan penyimpangan itu ke Polsek Kertak Hanyar.
 "Pak Nanang didampingi saya, tadi membuat laporan dan ditulis secara verbal oleh petugas Polsek Kertak Hanyar, Najwari Abdi. Kita berharap, laporan korban tersebut, bisa ditindaklanjuti dengan memanggil oknum pembakal," cetus Bulkini. 
 Diterangkan, korban sejak 2006, 2007 hingga sekarang ini sebenarnya terdaftar sebagai penerima BLT oleh Kantor Pos Kertak Hanyar. Hanya saja, BLT tahap I dan II, masing-masing sebesar Rp300 ribu dan Rp400 ribu, korban justru tidak menerima lagi.
 "Pernah dicek ke oknum pembakal, oleh oknum pembakal dijelaskan bahwa korban tidak masuk lagi dalam daftar penerima BLT. Padahal, korban benar-benar miskin, karena hanya bekerja sebagai buruh bangunan," ungkap Bulkini.
 Kemudian, lanjutnya, dicoba dilakukan penelusuran. Ternyata, kecurigaan kalau BLT milik korban disimpangkan kepada oknum warga lain terbukti.
 "Modus penyimpangannya, kartu BLT yang semestinya diberikan kepada korban, justru sengaja disimpangkan oknum pembakal kepada orang lain. Setelah saya cek ke Kantor Pos Kertak Hanyar, nama korban, yakni Nanang, warga RT 14 Desa Simpang Empat masih ada, yakni diurutan 250. Cuma, kartu tersebut dipasangi foto orang lain. Orang lain itulah yang mengambil jatah korban," tukasnya.
 Menurutnya, tidak hanya Nanang yang jadi korban. Pasalnya, ada sejumlah warga lain yang diduga turut dijadikan korban oleh oknum pembakal, masing-masing Utuh warga RT 5 serta Ahmad RT 14. "Nah, jatah Utuh RT 5 ini anehnya dilarikan ke orang lain yang juga bernama Utuh, namun Utuh yang tidak berhak menerima BLT ini adalah aparat di Desa Simpang Empat," ungkapnya.
 Ditambahkan, dugaan penyimpangan itu boleh jadi hanya fenomena gunung es, sebab diduga masih banyak warga lain yang sebenarnya berhak memperoleh BLT, justru tidak dapat akibat "permainan" oknum pembakal.
 "Kita berharap, Polsek Kertak Hanyar bisa menindaklanjuti laporan korban. Begitu juga dengan Camat Kertak Hanyar agar menyelidiki juga kasus ini dan supaya menindaktegas aparaturnya yang terbukti menyimpangkan BLT," tandasnya.
 Di 2007, menurutnya, ada juga 10 warga yang menjadi penerima BLT namun tidak diberi kartu oleh oknum pembakal. Mereka hanya menerima uangnya. 10 warga itu bersedia bersaksi. adi























No comments: