Tuesday, March 31, 2009

Saksi Dari Dishut Tak Tahu Batas HTI

BANJARMASIN - Saksi dari Dinas Kehutanan (Dishut) Kalsel yang dihadirkan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU), justru mengaku tidak tahu persis batas-batas konkrit HTI yang diklaim milik PT Kodeco Timber.
 "Nah, Pak Hasnan, selaku saksi dari Dishut Kalsel mengaku tidak mengetahui batas-batas HTI tersebut, lalu bagaimana bisa menentukan kalau tambang PT BCMP sudah merambah ke areal HTI milik Kodeco. Ini tentu saja aneh. Ibaratnya, orang mengaku gelasnya dicuri, namun ia sendiri tidak tahu seperti apa gelasnya itu," ungkap kuasa hukum H Amir H Nasruddin, Jongky SH akhir pekan tadi.
 Menurutnya, sebelum mengambil kesimpulan bahwa BCMP menambang di areal milik Kodeco, semestinya, saksi harus mengetahui batas-batas HTI yang disebut milik Kodeco itu.
 "Nyatanya, saksi tidak mengetahui apa-apa tentang Kepmenhut No 253/Kpts-II/1998 tentang Pemberian Hak Pengusahaan HTI seluas 13.090 hektar. Akhirnya, menjadi tidak relevan kalau saksi mengatakan BCMP sudah menambang di areal HTI," paparnya.
 Ditambahkan, tentu saja pihak Dishut Kalsel kesulitan mengetahui batas-batas HTI, sebab pada kenyataannya, pihak Dishut Kalsel belum pernah melakukan pemetaan tentang batas-batas HTI tersebut.
 Ia justru mengaku miris, karena kedatangan saksi ke areal BCMP justru atas permintaan penyidik Polda Kalsel, guna menentukan titik koordinat areal penambangan.
 Sebagaimana diketahui, dalam sidang lanjutan pada Rabu (25/3) itu, JPU yang dikoordinir Sandy Rosady SH didampingi Cipi Perdana SH dan Joe SH menghadirkan tiga orang saksi. Padahal, saksi yang diminta hadir mencapai delapan sampai 10 saksi. Namun, entah kenapa, hanya tiga orang yang bisa hadir.
 Saksi ketiga, Ir M Hasnan dari Bidang Pengolaan Hutan Dishut Kalsel mengaku di hadapan majelis hakim yang diketuai Suryanto Daulay SH bahwa dirinya telah melakukan pengukuran titik koordinat lokasi tambang BCMP di Desa Serongga, Kecamatan Kelumpang Hilir, Kotabaru.
 "Memang sebelumnya ada perintah dari Dishut Kalsel atas permintaan dari Polda Kalsel. Saat itu, ada petugas juga dari Dishut Kotabaru dan juga AKBP Hari Santoso dari Mabes Polri. Menggunakan GIS (Geography Information System), diketahui kalau beberapa titik penambangan masuk kawasan Hutan Produksi Tetap milik Kodeco," ujarnya.
 Hanya saja, ketika dicecar pertanyaan oleh Jongky, Hasnan sepertinya mulai gelagapan dan banyak mengatakan tidak tahu. Kepmenhut No 253/Kpts-II/1998 yang merupakan dasar HTI, juga diakui Hasnan belum diketahuinya secara persis. Bahkan, di mana saja batas-batas HPTHTI juga diakui Hasnan, kurang diketahuinya.  
 "Batas-batas dan juga letak-letaknya kawasan Kepmenhut 253 saya tidak tahu," ujarnya. Alhasil, ketika Hasnan selesai memberi keterangan di depan hakim dan diminta meninggalkan ruang sidang, Hasnan mendapat sorakan negatif dari sebagian pengunjung sidang.
  Saksi lainnya
 Saksi lain, Supriyanto, seorang operator crusher (penggiling batubara) dari PT Anugrah Artha Alam yang berada di bawah PT Bumi Indah Permai mengaku kalau dirinya bertugas menggiling batubara yang masih agak besar menjadi halus untuk kemudian dikapalkan.
 "Yang saya ketahui dari surat jalan, batubara itu berasal dari BCMP dan sebagian lainnya dari berbagai perusahaan lainnya. Dalam sehari, kita bisa menggiling 2.000-3.000 ton. Untuk satu tongkang kapasitas 4.000 ton, perlu tiga hari waktu penggilingan," akunya.
 Sementara itu, saksi kedua, Ir Ikhlas dari Dishut Kalsel hanya menjelaskan terkait Surat Keputusan Bersama (SKB) Menteri Kehutanan dan Menteri Pertambangan. "SKB yang saya ketahui banyak, biasanya berkaitan dengan upaya penyelesaian sengketa kehutanan dengan pertambangan. Namun, tim penyelesaian sengketa itu rasanya belum pernah ada di Kalsel," paparnya. adi



No comments: