Thursday, March 5, 2009

Remaja Putus Sekolah Bisnis Sabu

BANJARMASIN - Ironis, Hen (18), remaja putus sekolah salah satu SMP di Banjarmasin, ikut-ikutan berbisnis sabu. Akibatnya, ia bersama rekannya, masing-masing Lex (40) dan Nur alias Ancah (28), ditangkap aparat Sat I Dit Narkoba Polda Kalsel, Rabu (4/3).
 Hen mengaku baru dua kali menjalankan bisnis tersebut dengan menjadi kodok atau kurir sabu. "Ini terpaksa saya lakukan untuk mencari uang, karena Ayah sudah tidak mampu bekerja karena terserang stroke," aku Hen yang berhenti bersekolah tiga bulan lalu.
 Menurut Hen, ayahnya dahulu sempat bekerja di pertambangan batubara, sehingga kehidupan keluarga mereka masih cukup. Namun, setelah ayahnya mengalami sakit akibat terserang stroke, kehidupan ekonomi mereka turun drastis, sehingga untuk sekadar jajan pun sulit.
 Setelah itu, warga Jl Kelayan B Gg Gembira RT 15 ini pun berniat mencari uang sendiri dengan menjalani bisnis sabu sebagai kurir. "Sabu itu saya dapat dari Anto, warga Jl Gatot Subroto. Kemudian, sabunya saya jual lagi ke Ancah, dengan keuntungan Rp200 ribu," katanya.
 Sementara Ancah, warga Jl Belitung Darat Gg Karya RT 3 mengakui jika ia dengan Hen sudah bekerja sama dua kali. "Barangnya saya dapat dari Hen. Kita jual dengan harga Rp2,1 juta segramnya," papar pria yang pernah dihukum enam bulan karena kepemilikan Lexotan.
 Menurut Kasat I Dit Narkoba AKBP Made Wijana, tertangkapnya Hen, Ancah dan Lex bermula dari undercover buy. Petugas yang menyamar jadi calon pembeli memesan 2 gram sabu. Kemudian, Hen dan Lex menyanggupi menyiapkan 2 gram sabu dengan harga Rp2,1 juta segramnya. Dijanjikanlah lokasi transaksi di Jl Pramuka Pal 6. Kemudian, ketiganya yang berada di lokasi langsung ditangkap petugas, begitu memperlihatkan sabu.
 Sementara itu, Sat I Dit Narkoba juga berhasil menangkap dua tukang ojek, Shr (40) dan Rid (40), yang mengedarkan 48 pil diduga ineks di depan HBI Jl A Yani Km 3,5.
 Kedua warga Jl Pekauman RT 2 ini tertangkap tangan oleh petugas yang menyamar menjadi calon pembeli ineks. Mulanya, petugas memesan 50 pil ineks.
 "Pil itu sebenarnya marlong, karena bekas titipan Iyur empat bulan. Iyur sendiri sudah ditahan beberapa waktu lalu. Ketika ada yang pesan, lalu saya jual saja dengan harga Rp20 ribu perpil," tukas Rid.
 Hanya saja, petugas curiga kalau pil tersebut asli, sebab dari tes sementara, bahan pil tersebut menunjukkan perubahan warna biru, seperti mengandung Epidrin, bahan yang kerap menjadi campuran ineks. "Namun, hasilnya akan semakin jelas, jika kita kirimkan ke BPOM," ucap Made. adi 





















 



2 comments:

Ayah said...

Bikin jera aja dach...biar kapok..
Salam hangat dari ayah..

Ayah said...

Bikin jera aja dach..biar kapok..
salam hangat dari ayah..