Tuesday, March 10, 2009

Kasus Bayi Dibuang Di Gambut Kasusnya Berlarut-larut


BANJARMASIN - Kasus pembuangan bayi di halte dekat kuburan umum Jl A Yani Km 15,200 Gambut, Kabupaten Banjar, 29 November 2008 lalu, meski sudah ada tersangkanya, yakni kedua orangtua si bayi, yakni RM dan TM, namun kasusnya belum juga tuntas.
 Meski berkasnya sudah dilimpahkan penyidik Polres Banjar ke Kejari Martapura, namun berkasnya belum bisa dinyatakan lengkap atau P-21, dengan alasan masih perlu penelitian kembali.
 Kasi Pidum Kejari Martapura Hariyanto SH, Senin (9/3) mengakui kalau berkas kasus tersebut baru saja dilimpahkan pihak penyidik kepeda pihaknya, sehingga masih harus dipelajari.
 "Berkas kasus tersebut, kebetulan baru beberapa hari yang lalu kita terima dari pihak penyidik. Berkas itu masih akan kita pelajari terlebih dahulu," ujar Hariyanto.
 Menurutnya, berkas tersebut belum bisa dinyatakan lengkap, karena pihaknya masih memerlukan keterangan ahli masalah perlindungan anak.
 "Untuk sementara, kasus pembuangan bayi tersebut bisa dikenakan pasal 304 atau 307 KUHP, karena berkaitan menelantarkan orang lain yang mestinya dalam perlindungannya," tukasnya.
 Disinggung apakah pihaknya akan mengenakan pasal yang diatur dalam UU No 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, ia mengatakan masih harus mendengarkan keterangan ahli terlebih dahulu.
 Temuan bayi laki-laki di halte depan kuburan umum di Jl A Yani Km 15,200 Gambut, Sabtu 29 November 2008 dinihari lalu sempat menggegerkan warga Gambut. 
 Ironisnya, ketika polisi dari Polsek Gambut berhasil menangkap pelakunya, 16 Desember 2008, ternyata tersangkanya adalah ayah dan ibu si bayi sendiri. Bahkan, tersangka RM (19) dan TM (21), keduanya masih tercatat mahasiswa dan mahasiswi semester III Fakultas Tarbiyah IAIN Antasari Jl A Yani Km 4 Banjarmasin.
 Si laki-laki, RM dan si wanita TM berhasil diciduk begitu keluar dari sebuah warung makan di kawasan Jl Manunggal Bina Brata, tak jauh dari kampus keduanya.
 Kanit Reskrim Polsek Gambut Brigadir Purnoto SH mewakili Kapolsek Gambut AKP Jumberi, kala itu mengatakan, tindakan tersangka bisa dikenakan pasal 77 UU No 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dengan ancaman tujuh tahun serta pasal 307 dan 308 KUHP tentang menelantarkan orang yang membutuhkan pertolongan dengan ancaman hukuman lima tahun.
 Mengingat tingginya ancaman hukuman pelanggaran hukum oleh pasutri yang menikah Agustus 2008 ini, maka keduanya dimasukkan ke dalam sel. Diduga, kedua pasutri yang sama-sama warga Jorong Kabupaten Tanah Laut itu tak sanggup menghidupi bayi mereka sehingga tega membuangnya. Alasan lain, kemungkinan karena malu sebab keduanya masih berstatus mahasiswa dan mahasiswi di Fakultas Tarbiya IAIN Antasari.
 Diduga juga, bayi ini hasil hubungan terlarang dan dikandung sebelum memasuki pernikahan. Pasalnya, mereka menikah Agustus 2008 di Jorong, sedangkan bayi itu lahir sekitar 26 November 2008 dinihari di rumah sakit Sari Mulia Jl P Antasari Banjarmasin.
 Si bayi diserahkan ke Pemkab Banjar melalui Dinas Sosial Banjar yang selanjutnya menitipkan pengasuhan kepada Rumah Sakit Ratu Zalekha Martapura. Kabar terakhir, bayi kemudian diasuh oleh salh satu orangtua tersangka. 
 Sebelumnya, bayi malang berjenis kelamin laki-laki itu diasuh oleh bidan Puskesmas Gambut, Ony Rahayu AmKeb. Banyak pasutri setempat dan dari luar daerah yang terenyuh hatinya dan berniat mengangkat anak terhadap bayi ini. adi 



No comments: