Tuesday, March 31, 2009

Barbuk Besar, Korbannya Orang Kecil

BANJARMASIN - SDM kepolisian anti narkoba di daerah ini memang layak dipertanyakan kapasitas dan kapabilitasnya. Pasalnya, dari sekian banyak kasus narkoba dengan barang bukti besar-besar, cuma menghasilkan tersangka orang kecil yang sulit diterima logika sebagai otak pelaku.
 Sebut saja, tersangka Rok, orang yang kebetulan sedang sial menerima paket yang ternyata berisi 5.154 butir ineks warna kuning logo "Kangguru". Rok sebenarnya hanya karyawan biasa di Bun Pool, Jl Sutoyo S.
 Padahal, pada bungkus paket, alamat tujuan cukup jelas, yakni Bud, Bun Pool Jl Sutoyo S. Hingga kini, Dit Narkoba Polda Kalsel belum juga berhasil mendatangkan Bud atau menangkapnya.
 Secara logika, sulit diterima kalau Rok sebagai tersangka. Sebab, sebagai karyawan biasa, mustahil ia memiliki uang hingga ratusan juta rupiah, apalagi sudah masuk bilangan setengah miliar rupiah.
 Begitu juga Bud. Warga Jl Tembus Mantuil ini pekerjaannya adalah General Manager Bun Pool. Meksi terdengar jabatannya cukup mentereng, ia hanya menerima gaji juga dari pemilik Bun Pool, yakni Benny Buntoso.
 Selentingan kabar-kabari, Rok pun kalau benar-benar dijadikan tersangka bahkan terdakwa, berarti hanya sebagai tumbal saja untuk melindungi bandar narkoba yang sebenarnya.
 Bud pun diperkirakan bakal tidak tertangkap. Sebab, boleh jadi, Bud ini memegang kartu as tentang siapa sebenarnya sebagai pemilik sah 5.154 butir ineks yang dialamatkan kepadanya itu. Jika sampai Bud berhasil ditangkap polisi, maka boleh jadi, jaringan narkoba dan bandar besar di daerah ini akan terbongkar.
 Ketua Kesatuan Aksi Peduli Penderitaan Rakyat (Kappera) Kalsel, Safrian Noor alias Yayan, Senin (30/3) mengatakan, peredaran narkoba di Kalsel sudah sangat memprihatinkan. Kasus-kasus temuan ribuan ineks, merupakan sebagian kecil saja alias hanya fenomena gunung es.
 "Jika memang polisi memiliki kepedulian yang tinggi, semestinya harus serius memberantas peredaran narkoba ini dengan jalan menangkap bandar-bandar besarnya. Memang, polisi mesti bekerja lebih keras lagi," tukasnya.
 Menurutnya, jika polisi hanya mampu menangkap orang-orang kecil yang hampir sulit diterima akal sebagai aktor intelektual peredaran narkoba, maka wajar jika muncul anggapan di masyarakat bahwa sejumlah oknum polisi pun sebenarnya turut "bermain".
 "Masyarakat sekarang sudah apriori, karena ada anggapan kalau oknum polisi pun sebenarnya turut "bermain", misalnya rutin menerima setoran dari bandar, bahkan juga terlibat memperjualbelikan barang bukti. Kalau saya masih berprasangka baik. Cuma, polisi juga harus bisa membuktikan dirinya bersih, dengan cara bekerja ekstra, menangkap bandar narkoba, jangan cuma menangkap kurirnya saja," cetusnya.
 Memang masih banyak PR polisi antoi narkoba di daerah ini. Sekedar contoh, meski berhasil mengamankan dua kurir dan ineks sejumlah 22.960 butir, namun kesuksesan Mabes Polri, Polda Kalsel, Bea Cukai dan Badan Narkotika Nasional (BNN) masih belum lengkap karena bandarnya, Abun dan aktor intelektual di belakang Abun belum tertangkap.
 Padahal, kurir itu, yakni Pansyah (33), warga Jl Gatot Subroto Barat Gg Serai RT35 serta Khalil Ansyari (27), warga Jl Gatot Subroto IV RT25 No107 yang tertangkap, Selasa (29/1/2008) sudah divonis PN Banjarmasin. Abun sendiri belum tertangkap, meski pernah dikejar petugas, mulai dari Jl Manggis Gg Mangga Banjarmasin Timur, Jl Veteran bahkan sampai ke Pelaihari Tanah Laut.
 Demikian juga kasus Basuki (24), penerima paket 3,04 gram sabu sabu dan 904,5 butir ineks biru logo 'Mercy' di Kompleks DPR Jl Bandarmasih No 31 RT 21 Kelurahan Belitung Selatan yang diperkirakan bukan pelaku utama, Senin (3/12/2007) lalu. Basuki sudah divonis juga, namun aktor utamanya belum terungkap. Padahal, kakak Basuki, Pilah pernah dijadikan DPO oleh petugas, namun sampai sekarang belum juga ditangkap, meski menurut kabar angin, Pilah sebenarnya ada di Banjarmasin. adi



No comments: