Tuesday, March 3, 2009

Bantah Mau Menabrak Polisi

BANJARMASIN - Baco, seorang bos minuman keras (miras) warga Batulicin, korban dugaan penganiayaan Kapolsek Sungai Durian Ipda Ju dan anakbuahnya, melakukan klarifikasi bahwa dirinya tidak pernah akan menabrak petugas dengan minibusnya.
 Kepada wartawan, Rabu (25/2), Baco didampingi tiga orang penumpangnya yang kebetulan menyaksikan kejadian pada Selasa (10/2) lalu di jalan Panajam-Pagatan, atau dua kilometer setelah Mapolsek Sungai Durian mengatakan, pernyataan oknum Kapolsek Sungai Durian itu hanya mencari alasan pembenar untuk menganiaya dirinya.
 "Jika dikatakan bahwa saya ketika membawa minibus akan menabrak petugas, itu bohong. Saya tidak pernah melakukan itu. Ketika saya dicegat oleh Kapolsek dengan mobil Taft-nya, saya langsung berhenti dan turun," tukasnya.
 Namun, lanjutnya, ketika turun ke belakang dengan maksud menjelaskan, ia malah langsung dipukul oleh Iptu Ju pada bagian mata kanan dan kepala bagian kiri. Karena bertubi-tubi, korban mengaku sampai terjatuh. Meski demikian, Iptu Ju malah menendang mata kanannya hingga pelipisnya berdarah.
 Tak puas hanya itu, begitu selesai memeriksa ke dalam minibus yang ada tiga orang penumpang korban, masing-masing Juhaini, warga Batulicin, Ardiansyah, warga Pagatan dan Udin, warga Pagatan, Iptu Ju mengambil palu milik Udin yang kebetulan berprofesi sebagai tukang.
 Tak disangka oleh ketiga penumpang mobil korban, palu tersebut dipukulkan ke bagian punggung korban, sehingga mengalami memar dan tulang pada bagian itu mengalami cedera. "Sampai sekarang, sakit akibat penganiayaan itu masih terasa," papar Baco.
 Setelah itu, minibus dibawa oleh anak buah Iptu Ju, yakni Jok, bergerak menuju Mapolsek Sungai Durian Kotabaru. Di depan minibus, mobil Taft yang disopiri sendiri oleh Iptu Ju, sedangkan sebuah mobil lagi jenis Kijang, disopiri Kanit Bripka Ed berada di belakang minibus. Tiga orang penumpang mobil korban, saat itu diangkut sendiri oleh Iptu Ju.
 "Ketika sedang mengemudi, Kapolsek sempat berbicara lewat handphonenya. Ia berkata kalau dia baru saja menangkap bos minuman keras," kata Udin yang mengaku masih ngeri membayangkan peristiwa penganiayaan terhadap Baco tersebut.  
 Baik Udin, dan dua penumpang lainnya hanya kebetulan menumpang minibus milik Baco dari Panajam bermaksud ke Pagatan. "Karena saat itu mobil taksi sudah tidak ada, kami menumpang saja di mobil beliau," kisah Juhaini.
  Dipukul 
 Sesampai di halaman Mapolsek Sungai Durian, korban justru semakin mendapat siksaan bahkan penghinaan. "Seluruh baju dan celana saya diminta untuk dilepaskan sehingga tersisa celana dalam. Saya dari pagi itu dipukul beramai-ramai oleh anggota atas perintah Kapolsek," tutur Baco dengan getir.
 Ironisnya, ketiga penumpang yang sejak pagi itu dibiarkan berada dalam mobil dan menyaksikan setiap detik peristiwa itu, juga mendengar teriakan Iptu Ju yang bernada pongah itu.
 Kasus penganiayaan ini sendiri masih ditangani Provos Bid Propam Polda Kalsel. 
 Sebelumnya juga, Brigjen Pol. Anton Bachrul Alam pada Jumat (13/2) lalu juga menyayangkan diduga terjadinya tindak penganiayaan terhadap Baco, oleh Kapolsek Sungai Durian Polres Kotabaru, Iptu Ju, bersama anak buahnya.
 "Sebagimana perintah Kapolri (Jenderal Pol Bambang Hendarso Danuri), anggota harus bisa menjadi pengayom, pelindung dan pelayanan masyarakat. Jadi, sangat disayangkan kalau sampai anggota polisi menganiaya masyarakat," ujarnya kala masih sebagai Kapolda Kalsel. adi

 



No comments: