Thursday, February 19, 2009

Tambang Di Sumber Mulya Dituding Rusak Lingkungan

BANJARMASIN - Praktik penambangan bijih besi di Desa Sumber Mulya Kecamatan Pelaihari, Tanah Laut (Tala), diduga telah merusak lingkungan oleh LSM Kesatuan Aksi Peduli Penderitaan Rakyat (Kappera) Kalsel, Senin (16/2).
 Ketua Kappera, Syafrian Noor mengatakan, berdasar hasil observasi ke lepangan, kegiatan tersebut bisa diduga telah melanggar UU Pertambangan terkait kaidah pertambangan yang berwawasan lingkungan.
 Dikatakan, areal tambang bijih besi di desa tersebut dikuasai oleh PD Baratala Tuntung Pandang, perusahaan daerah milik Pemkab Tala. Di lapangan, lokasi tersebut digarap oleh tiga pemilik SPK, yakni CV Satara, CV DMA dan PT Malindo.
 "Cuma, dari penelusuran kami, lokasi kegiatan CV Satara, yang lebih parah. Mereka menggunakan alat berat eksavator dua sampai tiga buah. Lokasi tambangnya, dekat dengan pemukiman penduduk, karena cuma berjarak sekitar 500 meter," ujarnya.
 Selain itu, lokasi tambang juga cukup dekat dengan area sawah penduduk, yakni sekitar 200 sampai 300 meter. Sementara lokasi perumahan penduduk dan persawahan justru berada lebih rendah dibanding area pertambangan, sehingga sangat rawan memunculkan pencemaran dan riskan bagi penduduk.
 "Metode penambangan juga kami duga dilakukan secara serampangan, terlihat dengan empat lobang besar yang berkedalaman 20 meter dengan luasan mencapai ribuan meter persegi. Tanah bekas galian juga menumpuk secara sembarangan, sehingga rawan longsor. Bahkan, kami mendengar pernah ada korban tertimbun longsor," paparnya.
 Di samping itu, metode pemisahan bijih besi dengan tanah, sejumlah pekerja terlihat menggunakan air dengan cara disemprotkan. Ironisnya, air yang digunakan adalah air dari danau bekas galian, secara berulang kali, sehingga bisa merusak unsur hara atau kimiawi air.
 Ia berharap, PD Baratala melakukan evaluasi atas pekerjaan perusahaan pengguna SPK-nya. Demikian juga aparat berwajib supaya segera melakukan peninjauan, karena praktik tambang itu diduga sudah melanggar ketentuan yang berlaku.
  Tidak benar
 Sementara itu, Direktur Operasional PD Baratala, Beben yang dikonfirmasi via handphone mengatakan, sejauh ini memang lokasi di Desa Sumber Mulya, memang dikuasai pihaknya dan dikerjakan sejumlah perusahaan pemilik SPK.
 "Namun, jika dikatakan melanggar UU Pertambangan, karena telah mencemari lingkungan, itu tentu tidak benar. Silakan Anda tinjau sendiri lokasinya. Tidak ada masalah dengan penduduk sekitar, apalagi kebanyakan penduduk juga dipekerjakan di lokasi," tangkisnya.
 Selain itu, tambahnya, amdal pekerjaan juga sudah dilakukan sebelum pekerjaan, sehingga sulit jika sampai melanggar kaidah penambangan yang berwawasan lingkungan. adi



No comments: