Saturday, February 7, 2009

Satu Koruptor Diajukan Ke PN Barabai

BANJARMASIN - Satu orang tersangka kasus korupsi proyek sumur dangkal di Hulu Sungai Tengah (HST), Ard diajukan ke Pengadilan Negeri (PN) Barabai. Pria yang juga pejabat pembuat komitmen (PPK) di Dinas Pertanian HST terancam hukuman penjara hingga 20 tahun.
 Rabu (4/2), ketua Jaksa Penuntut Umum (JPU) kasus ini, Arif SH mewakili Kejari Barabai, Hutama Wisnu SH membenarkan kalau salah satu tersangka kasus sumur dangkal telah diajukan ke pengadilan.
 "Dalam waktu dekat ini, jadwal persidangan untuk tersangka akan dikeluarkan PN Barabai. Pihak kita juga sudah mempersiapkan surat dakwaan untuk dibacakan di depan persidangan," tukasnya.
 Ard didakwa melanggar pasal 2 ayat (1) jo pasal 18 UU No 31 Tahun 1999 sebagaimana telah dirubah dengan UU No 20 Tahun 2001 tentang Tindak Pidana Korupsi jo pasal 55 ayat (1) jo pasal 64 ayat (4) KUHP dan pasal 3 ayat (1) UU No 31 Tahun 1999.
 "Kita mendakwa bahwa terdakwa turut terlibat dalam korupsi pada proyek sumur dangkal sehingga merugikan keuangan negara sebesar Rp104.953.031 sebagaimana perhitungan BPKP Kalselteng," tukasnya.
 Menurutnya, jika pasal-pasal yang diajukan pihaknya itu terbukti maka, tersangka bisa dihukum setidaknya empat tahun atau maksimal 20 tahun atau seumur hidup. Demikian juga, tersangka diancam dengan denda minimal Rp100 juta atau bisa juga maksimal hingga Rp1 miliar.
 "Dalam persidangan nanti, kita telah menyiapkan 46 orang saksi, termasuk saksi ahli yang bisa memberatkan tersangka," beber jaksa yang akan memimpin rekan-rekannya, seperti Dian Arwita SH dan Maria SH sebagai JPU.
 Disinggung dengan tersangka lainnya, Arif menjelaskan bahwa tersangka lainnya, seperti Sug, Direktur PT Sapta Karya Panca (SPK) Banjarbaru sebagai kontraktor proyek serta Ika, kuasa direktur, masih diupayakan untuk melengkapi berkasnya.
 "Pasalnya, masih ada berkas yang belum lengkap, seperti bukti-bukti rekap aliran dana yang akan kita mintakan dari BPD Kalsel dan BPD Cabang Barabai terkait aliran dana proyek," ungkapnya.
 Meski demikian, kedua tersangka juga dalam waktu dekat, berkasnya juga akan segera dilimpahkan ke pengadilan. Tinggal, San (pelaksana proyek) yang masih buron. "San masih kita lakukan pengejaran," paparnya. San yang juga ayah Ika, melarikan diri hanya beberapa waktu setelah ditetapkan sebagai tersangka. Ika juga sempat menghilang, meski akhirnya berhasil ditangkap di Desa Mejesem, Kecamatan Kramat, Tegal, Sabtu (17/1) lalu.
 Terbongkarnya dugaan korupsi pada proyek yang dilaksanakan CV SPK tersebut yang berlangsung di 15 titik atau desa yang tersebar di HST, diantaranya di Desa Matang Ladung, Banua Asam, Walatung dan lain-lain, adalah berkat laporan warga.
 Adapun modus penyimpangan proyek bernilai Rp222.111.000 yang berlangsung antara 1 November-15 Desember 2006 itu adalah diduga mark-up pada material proyek, mesin pompa, pekerjaan pengeboran hingga tak sesuainya kualitas pekerjaan dengan pedoman proyek. 
 Kejaksaan Negeri (Kejari) Barabai, juga menemukan kejanggalan pada fisik proyek, di mana kedalaman sumur air dangkal semestinya paling tidak 30 meter, namun di lapangan hanya dikerjakan 6-12 meter, sehingga mengurangi kualitas air tanah yang diperoleh. adi



No comments: