Saturday, February 7, 2009

Molornya Jembatan Perdagangan Mesti Ada Sanksi

BANJARMASIN - Proyek jembatan di Jl Perdagangan Banjarmasin Utara sudah molor dari jadwal semula. Sejumlah pihak yang merasa masyarakat telah dirugikan berharap ada sanksi tegas terhadap kontraktor proyek yang tidak mampu memenuhi jadwal sesuai bestek.
 Sementara, jembatan darurat yang disiapkan oleh kontraktor, PT RP Suprapto juga dinilai riskan dilewati masyarakat, karena cukup rawan kecelakaan.
 Proyek senilai Rp2,3 miliar mendapat sorotan tajam dari Kesatuan Aksi Peduli Penderitaan Rakyat (Kappera). Ketua Kappera, Syafrian Noor alias Yayan bersama Ari, caleg dari PNBK, Rabu (4/2) kemarin menuntut Dinas PU Pemko Banjarmasin bertindak tegas untuk memberi sanksi terhadap kontraktor.
 "Jembatan di Jl Perdagangan itu adalah akses utama dan sangat vital untuk menunjang aktifitas warga dari Alalak, HKSN, Komplek AMD, dan sekitarnya yang bekerja di dalam kota. Namun kenapa, setelah jatuh tempo, kontraktor dari PT RP Suprapto tidak juga menyelesaikannya. Mana profesionalitasnya, kenapa tidak diselesaikan dengan waktu yang ditargetkan sesuai isi kontrak kerja," paparnya.
 Menurutnya, dengan terkatung-katungnya proyek ini, tentu sangat merugikan masyarakat, karena untuk melewati jalan darurat di samping proyek jembatan ini juga sangat riskan dan rawan kecelakaan. "Coba bayangkan, siapa yang bertanggung jawab apabila warga yang melintas di jalan darurat, terjatuh ke sungai. Jika proyek ini berkaitan dengan perda yang bermuara pada APBD atau proyek berdasarkan Keppres, tentu harus ada sanski, dan kontraktor yang mengerjakannya lah yang bertanggung jawab," timpal Ari.
 Warga yang bermukim dari kawasan Alalak, HKSN, AMD, hingga warga terpaksa memutar lebih jauh untuk masuk ke dalam kota, seperti melalui Alalak Utara atau Kuin. Alasan kontraktor yang berhasil dihimpun Yayan, terlambatnya penyelesaian proyek jembatan tersebut dikarenakan faktor alam.
 Sementara itu di tempat terpisah dan dihubungi via ponselnya, tokoh Alalak sekaligus Ketua Keluarga Besar Alalak (Kebal) H Maulana atau H Imau, juga menyayangkan keterlambatan penyelesaian proyek tersebut. Ia setuju jika kontraktor dikenai sanksi sesuai ketentuan yang berlaku.
 Sayangnya, kondisi semacam ini lepas dari rasa kepedualian para caleg yang balihonya banyak terpencar di kawasan Banjarmasin Utara. "Caleg-caleg yang numpang nampang di wilayah Banjarmasin Utara khususnya Alalak dan sekitarnya, mana perhatian dan kepeduliannya terhadap masalah jembatan ini. Jangan cuma berusaha menangguk suara saja di wilayah kami, buktikan greget anda," tantangnya. adi



No comments: