Saturday, February 7, 2009

Kasus Proyek Sapi Disnak Kalsel Berkas Kasus Dibuka Lagi

BANJARMASIN - Sejumlah aparat Sat III Tipikor Dit Reskrim Polda Kalsel sibuk membolak-balik berkas. Maklum saja, berkas yang dicari sudah terpendam setahun lebih. Namun, berkas penyelidikan kasus proyek sapi 2007 di Dinas Peternakan (Disnak) Kalsel itu akhirnya ditemukan juga, Selasa (3/2).
 Mata Banua dan wartawan lainnya yang kebetulan memantau melihat kesibukan sejumlah polisi tersebut, menyusul perintah langsung Kasat III Tipikor AKBP Slamet Setiono agar membongkar lagi berkas kasus yang kini kembali menyeruak ke permukaan tersebut.
 Setelah membolak-balik beberapa saat berkas pemeriksaa terhadap H Tab, pejabat di bagian keuangan Disnak Kalsel tersebut, Slamet menjelaskan bahwa kasus tersebut memang pernah diselidiki pendahulunya, AKBP Suci Hartari.
 "Memang, berdasar laporan dari salah satu peserta lelang yang kebetulan kalah, kesatuan ini pernah menyelidiki kasus ini, tepatnya pada 5 September 2007. Benar juga H Tab pernah dimintai keterangan pada 2 Oktober 2007," papar perwira kalem ini.
 Menurutnya, masalah itu mencuat akibat keanehan dimenangkannya perusahaan yang sebetulnya menjadi penawar tertinggi dalam proses lelang.
 "Kemungkinan, panitia lelang memiliki skala penilaian tersendiri, sehingga menggugurkan penawar terendah, karena mungkin, panitia menilai bahwa penawaran tersebut belum memenuhi standar. Tetapi, mengenai masalah penilaian ini, tentunya panitia lelangnya lebih memahami," ucapnya.
 Ditambahkan, dari penyelidikan sementara, proses lelang tersebut masih sesuai prosedur yang berlaku. "Namun, boleh jadi, penyelidikan ini dikembangkan lagi, jika ada fakta dan bukti baru. Tak menutup kemungkinan kasus ini dibuka kembali. Sebab, penyelidikan berbeda dengan penyidikan. Kalau penyidikan, kasus akan dihentikan jika tak ada cukup bukti, sedangkan penyelidikan, bisa saja dibuka kembali manakala ada bukti baru," cetusnya.
 Disinggung informasi dari sumber bahwa H Tab mengirim uang ratusan juta rupiah kepada perusahaan penyedia sapi di Mataram, dengan sinyalemen adanya transfer uang dari BPD Cabang Banjarbaru ke Bank Mandiri Cabang Mataram, NTB, Slamet mempertanyakan hal itu kepada salah satu anak buahnya yang kebetulan menyelidiki kasus tersebut.
 Ternyata, berdasar penuturan bawahan Slamet, memang ada pengakuan dari H Tab bahwa dirinya ada mentransfer uang kepada perusahaan penyedia sapi. "Kala dimintai keterangan, H Tab mengakui hal itu mengenai pengiriman uang tersebut. Namun, yang bersangkutan beralasan bahwa hal itu dilakukan hanya kebetulan saja, karena antara yang bersangkutan dengan orang tersebut adalah teman lama dan sudah saling kenal," jelas penyidik tersebut.
 Dalam hal ini, sumber Mata Banua mempertanyakan apa kepentingannya pejabat Disnak Kalsel justru seolah-olah melakukan transaksi sendiri, sementara berdasar ketentuan, transaksi kepada penyedia sapi, semestinya dilakukan oleh perusahaan pemenang tender, dalam hal ini CV Tunas Muda Sejati (TMS).
 Sementara itu, Slamet mengakui kalau target yang dibebankan Kapolda Kalsel Brigjen Pol Anton Bachrul Alam agar kesatuannya paling tidak menangani lima kasus korupsi dalam setahun, diakuinya bisa saja dipenuhi. "Asalkan ada kerja sama yang baik dengan segenap komponen masyarakat yang peduli terhadap pemberantasan korupsi, insya Allah, target itu dapat dipenuhi. Sebab, tanpa dukungan semua pihak, terutama kejaksaan, mustahil bagi kita bisa memenuhi target itu," cetusnya.
 Ia meminta kepada sumber yang memberikan informasi ke Mata Banua agar mau menyampaikan data yang dimilikinya sebagai bahan untuk mengembangkan kasus tersebut. "Tidak perlu khawatir, karena rahasia dan identitas sumber akan kami jaga. Keselamatan sumber juga akan menjadi tanggung jawab kami," jaminnya.  
 Sementara itu, terpisah, Dir Reskrim Polda Kalsel Kombes Pol Machfud Arifin menekankan agar Sat III Tipikor mesti bekerja keras guna memenuhi target yang sudah dicetuskan pimpinan. "Harus bisa dipenuhi target itu. Kita lihat saja nanti, bagaimana hasil pengembangannya," katanya.
 Menurut sumber, indikasi kuat bahwa proyek tersebut dilakukan sendiri oleh oknum Disnak Kalsel adanya dokumen pengiriman sapi tahap I yang dilakukan CV KUM3 sebanyak 620 ekor tanggal 10 Agustus 2007 tertulis penerima pesanan adalah H Tab, bukan pemenang tender.
 Bukti kuat lain proyek ini dikerjakan oleh pegawai Disnak Kalsel, lanjut sumber, adalah temuan berupa slip pengiriman uang via transfer antar bank sebesar Rp300 juta yang dilakukan H Tab dan ditujukan kepada Direktur CV Amanah tanggal 16 Agustus 2007 melalui bank BPD Cabang Banjarbaru dan diterima Bank Mandiri Cabang Mataram dengan nomor rekening 0041142663.
 Dirincikan sumber pula, proyek yang dikerjakan sendiri oleh Disnak Kalsel ini diduga ada mark-up, diperhitungkan harga pembelian bibit sapi Bali betina langsung dari NTB sebesar Rp3.150.000 per ekor dikalikan 1.890 ekor hasilnya Rp5,9 miliar lebih. Kemudian, harga pembelian sapi kualitas bibit unggul dari Jawa Timur sebesar Rp3.750.000 per ekor dikalikan 267 ekor hasilnya Rp990 juta sehingga dana total pembelian sapi Bali dan PO yang harus keluarkan Disnak adalah sebesar Rp6,9 miliar lebih. adi



2 comments:

zanyfaperta said...

Salam Kenal bang.
Aduh iya am... bisa ke tindak ne mun Novum di temukan lagi..

Pusing bisa bahibak Panjara nah.. Tapi kadapap Duit rakyat Kawa Tabulik gasan pembangunan di banua..

ucox said...

Bah iya am..
bahaya banar ne.. bisa sampai ke penindakkan ne mun novum di temukan lagi..

paling sasak panjara.. tapi duit rakyat pang tabulik gasan pembangunan di banua.