Thursday, January 22, 2009

Satu DPO Korupsi HST Ditangkap

BANJARMASIN - Satu orang buronan yang adalah tersangka korupsi proyek sumur dangkal di Hulu Sungai Tengah (HST), Ika, berhasil ditangkap tim penyidik Kejari Barabai yang langsung dipimpin Kajari-nya Hutama Wisnu SH.
 Ika yang adalah kuasa direktur PT Sapta Panca Karya (SPK) Banjarbaru ini ditangkap di Tegal, Jawa Tengah, tepatnya di kediaman neneknya sendiri di Desa Mejesem Kecamatan Kramat, Tegal, Sabtu (17/1) siang.
 Awal pekan ini, Ika sudah dijebloskan ke dalam sel Rutan Barabai sebagai tahanan penyidik Kejari Barabai. Selain Ika, sudah terlebih dahulu mendekam dalam sel, Ard, kuasa pembuat komitmen di Dinas Pertanian HST, pada 30 Desember 2008 lalu.
 Kemudian yang juga sudah ditahan adalah Sug, kontraktor atau Direktur PT SPK. Berarti, tinggal San yang juga sebagai pelaksana proyek yang masih belum ditangkap.
 San yang juga ayah tersangka Ika, diduga lari ke Kalteng. Meski demikian, Kejari Barabai terus memburu keberadaan tersangka yang melarikan diri beberapa saat setelah ditetapkan sebagai tersangka.
 Rabu (21/1), Kajari Barabai Hutama Wisnu melalui jaksa penyidik, Arif SH membenarkan kalau pihaknya telah berhasil menangkap Ika di Tegal.
 "Tim yang dipimpin langsung Pak Kajari Barabai, mendapat informasi tentang keberadaan Ika di rumah neneknya di Desa Mejesem, Tegal. Kemudian, pada Sabtu (17/1) siang, tim mengecek ke sana dan memang betul, tersangka berada di sana. Lalu, tersangka kita tangkap dan dibawa ke Barabai untuk ditahan," kisahnya.
 Ika sendiri mengakui begitu ditetapkan sebagai tersangka, dua hari setelah ayahnya kabur, juga memilih kabur meninggalkan Barabai. "Dari pengakuan tersangka, dari Barabai, tersangka lari ke Banjarmasin sebelum akhirnya langsung menyeberang ke Pulau Jawa, tepatnya ke kediaman neneknya di Tegal," bebernya.
 Adapun mengenai keberadaan San, ayahnya, Ika mengaku tidak mengetahui secara persis. Namun, diperkirakan San tidak bertolak ke Jawa, melainkan memilih bersembunyi di tempat kerabatnya yang ada di Kalteng. "Tim akan terus melakukan pengejaran sampai tersangka San tertangkap," tuturnya.
  Sebagaimana diberitakan Mata Banua, 24 Desember 2008 lalu, Entah takut menjalani penahanan atau bagaimana, dua tersangka korupsi proyek pembangunan dan pengembangan sumur air tanah dangkal tahun 2006 di Hulu Sungai Tengah (HST), melarikan diri sehingga dijadikan buronan oleh Kejari Barabai.
 Dari sumber, dua tersangka yang menjadi DPO itu adalah ayah dan anak, yakni San dan Ika. Kedua warga Barabai ini, adalah pelaksana kegiatan di lapangan. Jika San sudah menghilang sejak ditetapkan sebagai tersangka pertangahan Desember 2008, sedangkan sang anak, Ika juga hilang dua hari terakhir.
 Terbongkarnya dugaan korupsi pada proyek yang dilaksanakan CV SPK tersebut yang berlangsung di 15 titik atau desa yang tersebar di HST, diantaranya di Desa Matang Ladung, Banua Asam, Walatung dan lain-lain, adalah berkat laporan warga.
 Adapun modus penyimpangan proyek yang berlangsung antara 1 November-15 Desember 2006 itu adalah diduga mark-up pada material proyek, mesin pompa, pekerjaan pengeboran hingga tak sesuainya kualitas pekerjaan dengan pedoman proyek. 
 Kejaksaan Negeri (Kejari) Barabai, juga menemukan kejanggalan pada fisik proyek, di mana kedalaman sumur air dangkal semestinya paling tidak 30 meter, namun di lapangan hanya dikerjakan 6-12 meter, sehingga mengurangi kualitas air tanah yang diperoleh.
 Proyek bernilai Rp222.111.000 itu terindikasi disimpangkan setelah ditemukan adanya mark-up pada pengadaan mesin pompa, kemudian nilai pekerjaan pengeboran, ditambah tak sesuainya kedalaman pengeboran sebagaimana bestek proyek, menyebabkan negara dirugikan hingga Rp125 juta. adi



1 comment:

Jamrud Khatulistiwa said...

Mudahan ja koruptor2 HST barabai ketangkap semua nyaman kawa membangun barabai yg sdh ketinggalan dari kabupaten2 lain dikalsel.