Thursday, January 15, 2009

Babak Baru Korupsi SA Dibuka


BANJARMASIN - Kasus korupsi kelebihan pembangunan kios Sentra Antasari (SA) yang diduga merugikan negara Rp30-an miliar sudah selesai di tingkat Pengadilan Negeri (PN) Banjarmasin, yang ditandai divonis bersalahnya ketiga terdakwa, Midapai Yabani, Edwan Nizar dan Widagdo usai. Namun, belakangan, babak baru dugaan korupsi yang terkait SA kembali dibuka.
 Babak baru tersebut, bukan menyangkut kelebihan kios sebanyak 900-an, melainkan masalah pinjaman untuk proyek SA dari sebuah bank tertentu yang nilainya cukup fantastis, diduga mencapai Rp400 miliar.
 Dari sumber yang layak dipercaya, pihak berwenang di Kejati Kalsel sedang melakukan upaya pengumpulan bahan dan keterangan (pulbaket) terhadap kasus kredit dari sebuah bank tersebut.
 Bahkan, menurut sumber itu lagi, sebuah tim sedang menyiapkan pemanggilan-pemanggilan terhadap pihak-pihak terkait yang masih ada sangkut-pautnya dengan pinjaman besar senilai ratusan miliar rupiah itu.
 Hanya saja, apakah ada kaitan masalah pinjaman tersebut dengan indikasi korupsi, masih menjadi tanda tanya besar bagi kalangan wartawan yang ngepos di Kejati Kalsel.
 Namun, dari dugaan sementara yang belum dipastikan kebenarannya, kasus tersebut bisa jadi mengarah pada indikasi korupsi, mengingat bank tertentu itu sebagian sahamnya, adalah milik negara Indonesia.
 Di samping itu, pinjaman untuk proyek SA tersebut, diduga mengalami kemacetan yang cukup serius. Dari catatan yang pernah ditulis di Mata Banua edisi Selasa 10 Maret 2008 lalu, Ir Muhammad Amir pernah menjalani pemeriksaan dalam kaitan kesaksiannya pada kasus SA. Amir adalah appraisal atau penaksir nilai bangunan dari salah satu bank.
 Amir menurut Kasi Penkum dan Humas Kejati Kalsel, Johansyah M SH, kala itu diperlukan kesaksiannya karena menjadi penaksir nilai bangunan SA ketika bangunan itu diagunkan ke salah satu bank untuk memperoleh pinjaman sebesar Rp400 miliar.
 Namun, lanjutnya, sebagaimana hasil pemeriksaan, pihak PT Giri Jaladhi Wana (GJW) justru tersendat-sendat mengembalikan pinjaman tersebut. Pasalnya, untuk angsuran sebanyak Rp1 miliar di tahun pertama saja, tak seluruhnya terbayar. Kredit itu kabarnya menjadi macet.
 Belum ada keterangan atau ekspos resmi dari pihak Kejati Kalsel soal dugaan korupsi pada pinjaman dari salah satu bank untuk mendanai proyek SA.
 Beberapa hari belakangan, aparatur kejaksaan di Kejati Kalsel diinformasikan masih sibuk menggelar rapat dan pembahasan yang diduga berkaitan dengan upaya pulbaket kasus ini. adi



No comments: