Thursday, December 11, 2008

Guru Sekumpul Dan Syariat Islam


Guru Sekumpul Dan Syariat Islam

KH Muhammad Zaini bin Abdul Ghani atau yang akrab dikenal Guru Sekumpul, memang telah meninggal dunia tiga tahun lalu, tepatnya pada Rabu, 10 Agustus 2005 sekitar pukul 05.10 Wita dalam usia 63 tahun.

Kala itu, saya masih bekerja di Banjarmasin Post ngepos di Martapura. Kebetulan juga, saya bersama rekan saya, Rasyid Ridha dan para redaktur lainnya yang pertama-tama memberitakan kabar duka itu lewat headline Banjarmasin Post.

Saya sengaja mengangkat judul itu, karena setelah sekian lama saya bertanya-tanya bagaimana sikap Guru Sekumpul terkait penerapan syariat Islam, ternyata terjawab juga pertanyaan itu.

Beberapa bulan setelah Guru Sekumpul wafat, saya bersama sejumlah rekan wartawan bersilaturahmi dengan Gubernur Kalsel H Rudy Ariffin. Di tengah obrolan ringan, saya memberanikan diri bertanya kepada beliau soal syariat Islam dan Guru Sekumpul.

Mengapa demikian? Asumsi saya, Pak Rudy sebelumnya pernah menjadi Bupati Banjar periode 2000-2005, sedangkan beliau juga adalah salah satu anak angkat Guru Sekumpul.

Pak Rudy agak terkejut juga waktu itu. Namun, dengan gaya khasnya yang berbicara tenang dan teratur, Pak Rudy akhirnya bercerita juga. “Memang ketika Abah Guru (panggilan Pak Rudy kepada Guru Sekumpul) masih sehat dan saya masih Bupati Banjar, beliau pernah menyinggung soal syariat Islam,” ujarnya.

“Abah Guru bertanya kepada saya apakah saya bisa menerapkan syariat Islam di Kabupaten Banjar. Waktu itu saya terdiam. Agak lama, kemudian beliau kembali menawarkan, kalau tidak bias se-Kabupaten Banjar, maka biarlah cukup syariat Islam itu di satu kecamatan dari Kabupaten Banjar. Saya juga kembali terdiam tidak (mampu) menjawab,” cerita Pak Rudy.

“Abah Guru kembali menawarkan kepada saya, katanya kalau tidak bias satu kecamatan, satu desa atau kelurahan pun jadi. Lagi-lagi saya tak menjawab. Saya hanya (bias) diam. Kemudian, dengan menghela nafas, Abah Guru lalu mengatakan, maka biarlah dulu syariat Islam itu diterapkan di masing-masing keluarga,” kisah Pak Rudy lagi dengan mata menerawang.

Dari kisah Pak Rudy itu saya menangkap bahwa ulama besar selevel Guru Sekumpul sebenarnya adalah termasuk ulama yang sangat memperhatikan upaya penerapan syariat Islam. Bahkan, bukan hanya sekedar di Kabupaten Banjar saja yang diidam-idamkan beliau itu, melainkan juga untuk Indonesia.

Saya yakin, jika ada petinggi negara ini yang pernah berkunjung ke kediaman Guru Sekumpul, insya Allah Guru Sekumpul pernah menawarkan hal serupa. Maka, bagi anak murid Guru Sekumpul, pengagum beliau dan umat Islam di Kabupaten Banjar atau kaum Muslimin se-Indonesia, marilah bersama-sama menyingsingkan lengan baju untuk menegakkan syariat Islam di Indonesia, tentunya dengan dakwah dan cara-cara yang terhormat.

---------------------------------------------------------------------------------------------------------

Berita yang pernah saya tulis bersama rekan saya Rasyid Ridha dan redaktur Banjarmasin Post:

Guru Sekumpul Wafat

Banjarmasin, BPost

Innalillahi wa Inna Ilaihi Rojiun. Ulama kharismatik asal Sekumpul Martapura, Kalimantan Selatan, Alimul Allamah Asy Syekh Muhammad Zaini Abdul Ghani atau Guru Sekumpul, Rabu (10/8/2005) pukul 05.10 wit telah berpulang ke rahmatullah di kediaman Kompleks Sekumpul. Almarhum malamnya baru saja kembali ke Indonesia setelah menjalani perawatan selama 10 hari di Mount Elizabeth Hospital Singapura.

Kabar duka ini disampaikan Bupati Banjar Gt Khairul Saleh kepada PU Banjarmasin Post Group HG Rusdi Effendi AR. Beberapa jam sebelumnya keduanya bersama Gubernur Rudy Ariffin ikut menjemput kedatangan Guru Sekumpul di Bandara Syamsuddin Noor.

Rombongan Guru Sekumpul sendiri bersama H Sulaiman HB dan keluarga , Selasa (9/8/2005) bersama-sama meninggalkan rumah sakit Mount Elizabeth menuju Bandara Changi, Singapura.

Guru Sekumpul, seperti dilaporkan wartawan BPost, Elpianur Ahmad dari Mount Elizabeth Hospital, dibawa menggunakan mobil ambulan rumah sakit ditemani dr Nanang dan orang dekatnya. Sementara Sulaiman HB bersama rombongan anak dan kerabat guru mengiringi dari belakang menggunakan dua mobil lainnya.

Sementara itu, warga Muslim asal Banjar jemaah Al-Falah Mosque di Bidefor 01-01 Cairnhill Place, Orchad mengiringi doa kesembuhan Guru Sekumpul. "Kami mendoakan semoga beliau cepat sembuh dan kembali ke tengah umat," kata Yahya bin Hasyim, ketua jamaah.

Mendarat mulus

Pesawat Anugerah F-28 yang dicarter khusus tiba di Bandara Syamsuddin Noor, Banjarbaru tepat pukul 20.30 wita. Pesawat transit via Kalimantan Barat.

Sejak selepas Magrib, puluhan penjemput telah menunggu kedatangan Guru Sekumpul. Tampak Gubernur Kalsel Rudy Ariffin, Bupati Banjar Khairul Saleh, Pimpinan BPost Group, HG Rusdi Effendi, Danlanud Syamsudin Noor Letkol (PNB) Anang Nurhadi, sejumlah anggota DPRD Kalsel, Dirut RSUD Ulin Banjarmasin, dr Abimanyu dan beberapa kerabat dan jamaah simpatik Guru Sekumpul.

Pesawat jet berukuran lebih kecil dari pesawat penumpang itu menepi di tempat khusus. Gubernur Rudy Ariffin langsung naik ke atas pesawat menyambut Guru Sekumpul yang akan turun dari pesawat, dan sejumlah penjemput menunggu di depan tangga pesawat.

Mobil Benz jenis van bernomor polisi DA 9596 Z langsung membawa Guru Sekumpul menuju kediaman di Komplek Sekumpul, Martapura. Didalamnya juga berisi beberapa kerabat yang mendampinginya sejak dari Singapura. Ikut pula mengiringi Rudy Ariffin

Jamaah menunggu

Sementara itu di gang belakang kediaman Guru Sekumpul, puluhan petugas keamanan Sekumpul sudah menunggu. Sudah beberapa bulan terakhir, rombongan Guru Sekumpul yang mengantar Guru berobat tidak lagi lewat depan, melainkan melalui bagian belakang rumah yang sengaja dibuat garasi mobil dibalik tembok tinggi.

Tepat pukul 21:15, iring-iringan mobil yang membawa Guru Sekumpul tiba melalui Gg Sa’diyah. Mobil DA 9596 ZG yang membawa Guru Sekumpul langsung masuk ke dalam garasi untuk selanjutnya rolling door garasi ditutup rapat kembali.

Para pengiring dan pejabat kemudian masuk melalui pintu dekat dengan rolling door garasi mobil. Berturut-turut masuk, Rudy Ariffin, Khairul Saleh serta

kerabat Guru Sekumpul (adi/iid/c2).

---------------------------------------------------------------------------------------------------------

Sedikit Tentang Guru Sekumpul

Oleh Aman FatHa (11 Agustus 2005)

Syaikhuna al-Alim al-Allamah Muhammad Zaini bin al-Arif billah Abdul Ghani bin Abdul Manaf bin Muhammad Seman bin Muhammad Sa’ad bin Abdullah bin al-Mufti Muhammad Khalid bin al-Alim al-Allamah al-Khalifah Hasanuddin bin Syaikh Muhammad Arsyad al-Banjari.

Alimul Allamah Asy Syekh Muhammad Zaini Ghani yang selagi kecil dipanggil dengan nama Qusyairi adalah anak dari perkawinan Abdul Ghani bin H Abdul Manaf dengan Hj Masliah binti H Mulya. Muhammad Zaini Ghani merupakan anak pertama, sedangkan adiknya bernama H Rahmah.Beliau dilahirkan di Tunggul Irang, Dalam Pagar, Martapura pada malam Rabu tanggal 27 Muharram 1361 H bertepatan dengan tanggal 11 Februari 1942 M.

Diceriterakan oleh Abu Daudi, Asy Syekh Muhammad Ghani sejak kecil selalu berada di samping ayah dan neneknya yang bernama Salbiyah. Kedua orang ini yang memelihara Qusyairi kecil. Sejak kecil keduanya menanamkan kedisiplinan dalam pendidikan. Keduanya juga menanamkan pendidikan tauhid dan akhlak serta belajar membaca Alquran. Karena itulah, Abu Daudi meyakini, guru pertama dari Alimul Allamah Asy Syekh Muhammad Zaini Ghani adalah ayah dan neneknya sendiri.

Semenjak kecil beliau sudah digembleng orang tua untuk mengabdi kepada ilmu pengetahuan dan ditanamkan perasaan cinta kasih dan hormat kepada para ulama. Guru Sekumpul sewaktu kecil sering menunggu al-Alim al-Fadhil Syaikh Zainal Ilmi yang ingin ke Banjarmasin hanya semata-mata untuk bersalaman dan mencium tangannya.

Pada tahun 1949 saat berusia 7 tahun, beliau mengikuti pendidikan “formal masuk ke Madrasah Ibtidaiyah Darussalam, Martapura. Guru-guru beliau pada masa ini antara lain, Guru Abdul Muiz, Guru Sulaiman, Guru Muhammad Zein, Guru H. Abdul Hamid Husain, Guru H. Rafi’i, Guru Syahran, Guru Husin Dahlan, Guru H. Salman Yusuf. Kemudian tahun 1955 pada usia 13 tahun, beliau melanjutkan pendidikan ke Madrasah Tsanawiyah Darussalam, Martapura.

Pada masa ini beliau sudah belajar dengan Guru-guru besar yang spesialist dalam bidang keilmuan seperti al-Alim al-Fadhil Sya’rani Arif, al-Alim al-Fadhil Husain Qadri, al-Alim al-Fadhil Salim Ma’ruf, al-Alim al-Allamah Syaikh Seman Mulya, al-Alim Syaikh Salman Jalil, al-Alim al-Fadhil Sya’rani Arif, al-Alim al-Fadhil al-Hafizh Syaikh Nashrun Thahir, dan KH. Aini Kandangan. Tiga yang terakhir merupakan guru beliau yang secara khusus untuk pendalaman Ilmu Tajwid.

Kalau kita cermati deretan guru-guru beliau pada saat ini adalah tokoh-tokoh besar yang sudah tidak diragukan lagi tingkat keilmuannya. Dari yang saya kenal saja secara khusus adalah KH. Husin Qadri lewat buku-buku beliau seperti Senjata Mukmin yang banyak dicetak di Kal-Sel. Sedangkan al-Alim al-Allamah Seman Mulya, dan al-Alim Syaikh Salman Jalil, sempat kita temui ketika masih hidup.

Syaikh Seman Mulya adalah pamanda beliau yang secara intensif mendidik beliau baik ketika berada di sekolah maupun di luar sekolah. Dan ketika mendidik Guru Sekumpul, Guru Seman hampir tidak pernah mengajarkan langsung bidang-bidang keilmuan itu kepada beliau kecuali di sekolahan. Tapi Guru Seman langsung mengajak dan mengantarkan beliau mendatangi tokoh-tokoh yang terkenal dengan sepesialisasinya masing-masing baik di daerah Kal-Sel (Kalimantan) maupun di Jawa untuk belajar. Seperti misalnya ketika ingin mendalami Hadits dan Tafsir, guru Seman mengajak (mengantarkan) beliau kepada al-Alim al-Allamah Syaikh Anang Sya’rani yang terkenal sebagai muhaddits dan ahli tafsir.

Menurut Guru Sekumpul sendiri, di kemudian hari ternyata Guru Tuha Seman Mulya adalah pakar di semua bidang keilmuan Islam itu. Tapi karena kerendahan hati dan tawadhu tidak menampakkannya ke depan khalayak. Sedangkan al-Alim al-Allamah Salman Jalil adalah pakar ilmu falak dan ilmu faraidh. (Pada masa itu, hanya ada dua orang pakar ilmu falak yang diakui ketinggian dan kedalamannya yaitu beliau dan al-marhum KH. Hanafiah Gobet).

Selain itu, Salman Jalil juga adalah Qhadi Qudhat Kalimantan dan salah seorang tokoh pendiri IAIN Antasari Banjarmasin. Beliau ini pada masa tuanya kembali berguru kepada Guru Sekumpul sendiri. Peristiwa ini yang beliau contohkan kepada kami agar jangan sombong, dan lihatlah betapa seorang guru yang alim besar tidak pernah sombong di hadapan kebesaran ilmu pengetahuan, meski yang sekarang sedang menyampaikannya adalah muridnya sendiri.

Selain itu, di antara guru-guru beliau lagi selanjutnya adalah Syaikh Syarwan Abdan (Bangil) dan al-Alim al-Allamah al-Syaikh al-Sayyid Muhammad Amin Kutbi. Kedua tokoh ini biasa disebut Guru Khusus beliau, atau meminjam perkataan beliau sendiri adalah Guru Suluk (Tarbiyah al-Shufiyah). Dari beberapa guru beliau lagi adalah Kyai Falak (Bogor), Syaikh Yasin bin Isa Padang (Makkah), Syaikh Hasan Masyath, Syaikh Ismail al-Yamani, dan Syaikh Abdul Kadir al-Bar.

Sedangkan guru pertama secara ruhani adalah al-Alim al-Allamah Ali Junaidi (Berau) bin al-Alim al-Fadhil Qadhi Muhammad Amin bin al-Alim al-Allamah Mufti Jamaludin bin Syaikh Muhammad Arsyad al-Banjari, dan al -Alim al-Allamah Muhammad Syarwani Abdan Bangil. (Selain ini, masih banyak tokoh lagi di mana sebagiannya sempat saya catat dan sebagian lagi tidak sempat karena waktu itu beliau menyebutkannya dengan sangat cepat. Sempat saya hitung dalam jumlah kira-kira, guru beliau ada sekitar 179 orang sepesialis bidang keilmuan Islam terdiri dari wilayah Kalimantan sendiri, dari Jawa-Madura, dan dari Makkah).

Gemblengan ayah dan bimbingan intensif pamanda beliau semenjak kecil betul-betul tertanam. Semenjak kecil beliau sudah menunjukkan sifat mulia; penyabar, ridha, pemurah, dan kasih sayang terhadap siapa saja. Kasih sayang yang ditanamkan dan juga ditunjukkan oleh ayahnda beliau sendiri. Seperti misalnya suatu ketika hujan turun deras sedangkan rumah beliau sekeluarga sudah sangat tua dan reot. Sehingga air hujan merembes masuk dari atap-atap rumah.

Pada waktu itu, ayah beliau menelungkupi beliau untuk melindungi tubuhnya dari hujan dan rela membiarkan dirinya sendiri tersiram hujan. Abdul Ghani bin Abdul Manaf, ayah dari Syekh Muhammad Ghani juga adalah seorang pemuda yang shalih dan sabar dalam menghadapi segala situasi dan sangat kuat dengan menyembunyikan derita dan cobaan. Tidak pernah mengeluh kepada siapapun.

Cerita duka dan kesusahan sekaligus juga merupakan intisari kesabaran, dorongan untuk terus berusaha yang halal, menjaga hak orang lain, jangan mubazir, bahkan sistem memenej usaha dagang beliau sampaikan kepada kami lewat cerita-cerita itu.

Beberapa cerita yang masih saya ingat. Sewaktu kecil mereka sekeluarga yang terdiri dari empat orang hanya makan satu nasi bungkus dengan lauk satu biji telur, dibagi empat. Tak pernah satu kalipun di antara mereka yang mengeluh. Pada masa-masa itu juga, ayahnda beliau membuka kedai minuman. Setiap kali ada sisa teh, ayahnda beliau selalu meminta izin kepada pembeli untuk diberikan kepada beliau. Sehingga kemudian sisa-sisa minuman itu dikumpulkan dan diberikan untuk keluarga. Adapun sistem mengatur usaha dagang, beliau sampaikan bahwa setiap keuntungan dagang itu mereka bagi menjadi tiga. Sepertiga untuk menghidupi kebutuhan keluarga, sepertiga untuk menambah modal usaha, dan sepertiga untuk disumbangkan.

Salah seorang ustazd kami pernah mengomentari hal ini, “Bagaimana tidak berkah hidupnya kalau seperti itu.” Pernah sewaktu kecil beliau bermain-main dengan membuat sendiri mainan dari gadang pisang. Kemudian sang ayah keluar rumah dan melihatnya. Dengan ramah sang ayah menegur beliau, “Nak, sayangnya mainanmu itu. Padahal bisa dibuat sayur.” Beliau langsung berhenti dan menyerahkannya kepada sang ayah.

Beberapa Catatan lain berupa beberapa kelebihan dan keanehan: Beliau sudah hapal al-Qur`an semenjak berusia 7 tahun. Kemudian hapal tafsir Jalalain pada usia 9 tahun. Semenjak kecil, pergaulan beliau betul-betul dijaga. Kemanapun bepergian selalu ditemani (saya lupa nama sepupu beliau yang ditugaskan oleh Syaikh Seman Mulya untuk menemani beliau). Pernah suatu ketika beliau ingin bermain-main ke pasar seperti layaknya anak sebayanya semasakecil. Saat memasuki gerbang pasar, tiba-tiba muncul pamanda beliau Syaikh Seman Mulya di hadapan beliau dan memerintahkan untuk pulang. Orang-orang tidak ada yang melihat Syaikh, begitu juga sepupu yang menjadi “bodyguard’ beliau. Beliaupun langsung pulang ke rumah.

Pada usia 9 tahun pas malam jum’at beliau bermimpi melihat sebuah kapal besar turun dari langit. Di depan pintu kapal berdiri seorang penjaga dengan jubah putih dan di gaun pintu masuk kapal tertulis “Sapinah al-Auliya”. Beliau ingin masuk, tapi dihalau oleh penjaga hingga tersungkur. Beliaupun terbangun. Pada malam jum’at berikutnya, beliau kembali bermimpi hal serupa. Dan pada malam jum’at ketiga, beliau kembali bermimpi serupa. Tapi kali ini beliau dipersilahkan masuk dan disambut oleh salah seorang syaikh. Ketika sudah masuk, beliau melihat masih banyak kursi yang kosong.

Ketika beliau merantau ke tanah Jawa untuk mencari ilmu, tak disangka tak dikira orang yang pertama kali menyambut beliau dan menjadi guru adalah orang yang menyambut beliau dalam mimpi tersebut. (Sayang saya lupa nama syaikh tersebut, semoga saja beberapa kawan dan anggota jamaah yang juga hadir sewaktu pengajian umum di PP. Al-Falah, Banjarbaru, Kal-Sel saat itu ada yang bias mengingatkan saya nama syaikh tersebut).

Salah satu pesan beliau tentang karamah adalah agar kita jangan sampai tertipu dengan segala keanehan dan keunikan. Karena bagaimanapun juga karamah adalah anugrah, murni pemberian, bukan suatu keahlian atau skill. Karena itu jangan pernah berpikir atau berniat untuk mendapatkan karamah dengan melakukan ibadah atau wiridan-wiridan. Dan karamah yang paling mulia dan tinggi nilainya adalah istiqamah di jalan Allah itu sendiri. Kalau ada orang mengaku sendiri punya karamah tapi shalatnya tidak karuan, maka itu bukan karamah, tapi “bakarmi” (orang yang keluar sesuatu dari duburnya).

Selain sebagai ulama yang ramah dan kasih sayang kepada setiap orang, beliau juga orang yang tegas dan tidak segan-segan kepada penguasa apabila menyimpang. Karena itu, beliau menolak undangan Soeharto untuk mengikuti acara halal bihalal di Jakarta. Begitu juga dalam pengajian-pengajian, tidak kurang-kurangnya beliau menyampaikan kritikan dan teguran kepada penguasa baik Gubernur, Bupati atau jajaran lainnya dalam suatu masalah yang beliau anggap menyimpang atau tidak tepat.

9 comments:

..:: Zian X-Fly ::.. said...

Guru sekumpul memang tokoh yang patut dipuji, tapi jangan sampai kita lupa, bahwa beliau juga makhluk. Jadi jgn sampai kita mengagung-agungkan beliau melebihi kita mengagungkan Allah, Tuhan Semesta Alam. Pasang link ulun lah. hehe.

warmorning said...

@ zian X-fly
aulia memang manusia juga,
tapi mendapat karomah dari-Nya
itu bedanya :)

taufik79 said...

Salam ta'dzim kepada seluruh zuriyat beliau. Umat merindukan sosok pewaris Sekumpul!

M. Firdaus Habibi said...

barakallahufiik....

Putra Martapura Blog said...

barakallahufiik....

firdaus said...

barakallah....

Orang Awam said...

Assalamu'alaikum,,,,

Izin ngopy ya tentang Guru Sekumpul dan Syariat Islam,,,
Cz pembahasan tentang pelaksanaan syariat Islam begitu sensitif sekarang ini, makanya perlu diperjelas oleh wali Allah seperti Beliau,,,

Jazakallah.....

Adi Permana bin H Ali Basrah bin Barihun bin Taib bin Katar said...

silakan...

Zein Property said...

Dangsanak.. Nang menyambut sidin di Kapal Para Wali (Safinatul Awliya) dan kemudian bertemu dgn beliau di Tanah Jawa tu al-Habib Abdullah Ba-Roqbah