Sunday, November 30, 2008

Perang Salib (Bagian Pertama)


Orang barat menyebut perang salib ini dengan sebutan crusade. Kata ini juga pernah terlontar dari mulut George W. Bush ketika gedung WTC runtuh dalam peristiwa 11 September. Ini mengindikasikan bahwa Amerika Serikat melakukan perang melawan terorisme dipandang sebagai perang salib modern, yaitu perang melawan Islam. Benar atau tidak, silahkan Anda menilai sendiri.

Crusade berasal dari kata bahasa Perancis croix, yang berarti “salib” (cross). Sebenarnya para tentara salib sendiri tak pernah menyebut dirinya sebagai tentara salib, tapi mereka menyebut dirinya sebagai kaum peziarah (pilgrims). Mereka menjahitkan tanda salib di pakaian mereka dan merasa sedang benar-benar mematuhi perintah Kristus, untuk mengambil salib dan mengikutinya hingga mati, jika perlu. Sejak semula, salib dan penyaliban menjadi hal pokok dari gerakan tentara salib. Mereka berbaris untuk membebaskan Gereja Makam Suci, yang mereka yakini sebagai tempat Yesus disalib dan tempat makam Kristus. Saat gerakan ini dikumandangkan, semua tempat ini dikuasai oleh orang Islam.

Sebelum tentara salib menguasai Yerusalem pada Juli 1099 dan membantai 40.000 orang Yahudi dan Islam secara biadab, para pemeluk agama Islam, Yahudi dan Kristen telah hidup bersama dalam suasana damai di bawah naungan hukum Islam selama 460 tahun-hampir separuh milenium!(hal 11). Saladin kemudian berhasil merebut Yerusalem kembali ke tangan orang muslim pada tahun 1187, tapi hubungan ketiga agama samawi tersebut tak pernah sebaik sebelumnya.

Sejarah mencatat bahwa bukan kaum muslimin yang memulai perang salib ini. Justru tegaknya syariah Islam telah melindungi kebebasan ketiga agama samawi di Jerusalem atau Al-Aqsha orang Islam menyebutnya. Perang salib ini dikumandangkan oleh paus, yang merupakan pemimpin tertinggi Kristen, untuk memerangi kaum muslimin yang telah hidup damai bersama orang Kristen dan Yahudi di Al Aqsha. Itulah kenyataan sejarah.


Perang salib telah merubah segalanya. Perdamaian ketiga agama tersebut hanyalah impian, bahkan di jaman modern ini. Di barat, perang salib juga membuat perubahan yang cukup dahsyat. Di Eropa dan Amerika, perang salib telah membuat kebencian yang mendalam pada kaum Yahudi, bahkan hingga kini. Kita ingat Hitler yang telah membantai orang Yahudi di Eropa, walaupun Hitler tak pernah menyatakan gerakannya dengan embel-embel Kristen. Tak hanya itu, sejak perang salib barat memandang Islam adalah musuh peradaban barat yang takkan terdamaikan. Prasangka-prasangka barat ini terlihat jelas dalam konflik-konflik dunia saat ini, seperti di Irak, Afghanistan dan sebagainya. Menurutku, ini sudah menjadi sunatullah, sudah menjadi ketentuan Allah bahwa permusuhan akan terjadi hingga akhir jaman.

KEADAAN EROPA SEBELUM PERANG SALIB
Pada abad kegelapan, jangan bayangkan Eropa seperti sekarang ini, yang teratur dan mempunyai peradaban yang maju. Pada abad itu Eropa benar-benar runtuh. Pada abad 5 dan 6 Eropa diserbu oleh orang barbar dan menghancurkan kekaisaran Romawi. Rakyat tidak dapat bertani secara memadai dan pemukiman-pemukiman mereka tersapu habis oleh siklus kelaparan, banjir dan penyakit yang sepertinya tak kunjung habis. Seolah-olah keimanan Kristen mereka benar-benar dihancurkan oleh “kehidupan duniawi” karena penduduk barbar yang baru di Eropa adalah orang-orang bidah dan memuja berhala. Sebagian besar dari mereka adalah orang-orang kasar yang buta huruf dan tidak terdidik. Sedangkan Romawi Timur, yang dikenal dengan nama Byzantium, masih kokoh di Konstantinopel. Kaisar Konstantinopel, yang menjadi kepala negara sekaligus kepala gereja adalah keturunan langsung dari para kaisar Romawi. Kerajaan Yunani Byzantium ini menjadi benteng kuat Kristen saat itu, bertahan dari serbuan Islam yang tangguh dan kaum barbar Barat di Eropa.

Saat abad kegelapan itu terdapat dua poros Kristen, yaitu Gereja Barat yang berada di Eropa dan Gereja Timur yang berada di Konstantinopel – Istambul, Turki di jaman modern ini. Perbedaan kedua gereja ini lebih bersifat psikologis daripada bersifat teologis. Di Eropa yang sedang trauma, gambaran Yesus yang menderita lebih populer. Tapi di Byzantium, gambar-gambar dan mosaik-mosaik Yesus dan para santo mengungkapkan kearifan yang kontemplatif. Gereja Timur memiliki pendekatan pada masalah teologi dan konsep Tuhan yang tradisinya berbeda dengan yang dikembangkan oleh Gereja Latin Barat di Roma.

Orang-orang Byzantium dipandang sebagai antitesis dari identitas orang barat. Orang Byzantium yang kebanyakan berdarah Yunani, dianggap sebagai bukan orang Eropa. Keanggunan dan kecanggihan mereka (yang dalam kenyataannya membuat orang barat iri karena orang Yunani lebih unggul) telah dipelintir menjadi sifat banci yang lemah. Orang barat menampilkan otot kasar mereka melawan otak orang Byzantium. Ini adalah cermin retak orang Eropa, yang menunjukkan imaji inferioritas yang tertanam dalam pada diri orang barat serta cerminan rasa iri orang barat.

Pada akhir abad 10, terjadi Reformasi Cluny di Eropa. Reformasi ini ingin mengkristenkan masyarakat Eropa dan mendidik mereka dalam cara Kristen sejati. Gerakan reformasi itu cukup berhasil. Perlahan orang Eropa menjadi Kristen, walaupun tak semuanya memiliki semangat Kristen. Paus Urban II, adalah seorang pendukung Reformasi Cluny, dan perang salib yang digagasnya dapat dipandang sebagai salah satu hasil yang paling dramatis dari gerakan ini.

Selama abad 11, tak ada lagi invasi-invasi yang menyerang Eropa. Walau begitu, masih tersisa perang-perang feodal yang cukup sengit dan keras. Para ksatria tidak lagi menjadi pembela dunia Kristen. Mereka berperang antara satu sama lain, karena tak adanya musuh bersama. Selama perperangan, seringkali rakyat jelata terperangkap di antara kedua kubu ksatria ini. Mereka biasanya akan berlindung di gereja. Rakyat jelata menganggap, gereja bisa melindungi mereka daripada para ksatria yang tak punya perhatian terhadap kesejahteraan rakyat.

Kaum Kristen selalu melakukan perjalanan ziarah ke tempat-tempat yang dianggap mereka suci. Mereka datang ke makam-makam jenazah para martir. Mereka percaya bahwa kedekatan fisik dengan para sahabat Tuhan akan membawa mereka lebih dekat dengan surga itu sendiri. Para pendukung reformasi Cluny menganggap pemujaan terhadap praktik ziarah pada abad 11 ini perlu ditumbuhkan bersamaan dengan kebaktian terhadap tempat suci, walaupun hal ini bukan maksud asli gerakan reformasi Cluny.

Tapi jelas bahwa tak ada tempat yang lebih suci daripada Yerusalem, tempat Yesus wafat dan bangkit lagi. Selama abad 11 ada antusiasme baru yang penuh gairah terhadap Yerusalem, yang dipandang oleh orang-orang awam Eropa sebagai relik tersuci dari semua relik yang ada. Bahkan Yerusalem diyakini mempunyai kekuatan ilahiah, karena Yesus berjalan di atasnya selama hidupnya. Gereja Makam Suci yang terletak di Yerusalem, dipercaya sebagai tempat Yesus disalib dan tempat Yesus dimakamkan. Banyak para peziarah Kristen yang nekat datang ke Yerusalem, melakukan perjalanan sulit dan berbahaya melalui wilayah kaum muslim.

Tapi ziarah bukanlah satu-satunya unsur yang membuat orang Kristen melakukan penyerbuan di Yerusalem. Perang feodal antar ksatria telah mengoyak Eropa juga berperan penting membuat Kristen melakukan perang salib. Dua abad penyerbuan ke Eropa dari luar, memiliterisasi Eropa dan membentuk aristokrasi yang bersifat ksatria. Dengan tak adanya musuh bersama, para ksatrian dan baron justru saling bertempur antara satu sama lain. Eropa membentuk identitas dalam kekerasan dan perang, yang mereka pandang sebagai tindakan mulia.

Kemudian gereja berusaha merangkul mereka dengan diadakannya gencatan senjata yang sering disebut sebagai Kedamaian Tuhan. Para ksatria kemudian didorong oleh gereja untuk membela Kristen seperti melawan orang-orang Normandia yang pagan di selatan Italia, atau menyerbu wilayah muslim di Sisilia dan menyerbu Toledo Spanyol yang waktu itu diduduki oleh muslim yang kemudian mundur ke Andalusia. Walaupun gereja resmi menolak perang, mereka masih bergairah untuk memadukan agresi yang dianggap bermanfaat bagi dunia Kristen. Kini para ksatria secara daramatis menaklukan wilayah muslim dan kaum pagan, memperlebar perbatasan dunia Kristen. Ini adalah sebuah inkonsistensi yang tak jelas.

Penciptaan musuh adalah sangat penting bagi Kristen Eropa saat itu. Kaum muslim yang mereka sebut dengan sebutan Sarasin, dianggap cocok dengan gambaran musuh Kristen yang sempurna, walau sebenarnya pada titik ini tak ada permusuhan dengan kaum muslimin dan samasekali tak tahu tentang agama Islam. Mereka tahu bahwa muslimin yang berada di Spanyol adalah bukan orang Kristen, ini berarti menurut mereka adalah kaum pagan yang menyembah berhala, patung dan dewa-dewa. Memerangi kaum pagan dianggap sebagai kewajiban orang Kristen, karenanya: “Jangan pernah menunjukkan cinta atau damai kepada pemuja berhala ini,” kata Charlemagne di akhir buku puisi Songs of Roland. Digambarkan secara konyol, bahwa kaum muslimin menyembah patung nabi Muhammad dan Apollo. Ini menjelaskan bahwa orang-orang Kristen itu tidak tahu menahu tentang Islam, dan ini jelas menggambarkan betapa bodohnya mereka.

Kira-kira 20 tahun sebelum terjadinya perang salib, orang-orang Turki Saljuk – orang barbar yang telah menjadi memeluk Islam, sukses mengambil sebagian besar wilayah Kristen di Asia Kecil yang waktu itu di bawah kekuasaan Byzantium. Alexius, raja Byzantium waktu itu, meminta bantuan ke Paus. Jelas ini adalah kesempatan bagi Paus Urban untuk menyerang wilayah muslimin. Ini akan memperluas kekuasaan Gereja Barat secara daramatis, walaupun Alexius waktu itu bersikeras untuk mengembalikan semua negeri yang ditaklukan prajurit barat kepada Byzantium. Perang salib telah menjelang.PERANG SALIB PETANI: PERANG YANG TIDAK PERNAH DIAKUI

Pada tanggal 25 November 1095, Paus Urban II menyerukan perang salib yang pertama. Bagi Eropa Barat, seruan itu merupakan peristiwa yang penting. Paus Urban II berkhotbah di depan kerumunan pendeta, ksatria dan orang miskin untuk menyerukan perang suci melawan Islam. Orang Turki Saljuk yang telah menjadi muslimin, seru Paus Urban, adalah ras barbar dari Asia Tengah yang baru saja menjadi muslim, menyerbu hingga Anatolia (Turki sekarang ini), mencaplok wilayah kerajaan Kristen Byzantium. Paus Urban juga mendesak para ksatria Kristen untuk berhenti berperang di antara mereka sendiri dan kemudian membulatkan tekad untuk bertempur melawan musuh tuhan ini. Paus Urban berseru bahwa orang-orang Turki ini adalah ras terkutuk, ras yang sungguh-sungguh jauh dari tuhan, orang yang hatinya sungguh tidak mendapat petunjuk dan jiwanya tidak diurus tuhan. Membunuh orang Turki adalah tindakan suci, dan orang Kristen wajib memusnahkan ras ini. Begitu selesai dengan orang Turki Saljuk, para ksatria ini akan berbaris untuk menuju Yerusalem, dan merebut kota itu dari kaum muslimin karena sungguh memalukan bahwa makam Kristus berada di genggaman kaum muslimin. Dengan khotbah ini, Paus Urban telah menjadikan kekerasan sebagai pusat pengalaman religius orang Kristen awam, dan dengan itu agama Kristen Barat menyambutnya dengan hangat sifat agresi yang hingga kini tak sepenuhnya hilang.


Sambutan terhadap seruan Paus Urban sungguh luarbiasa. Para pengkhotbah menyebarkan kabar tentang perang salib ke seluruh Eropa, termasuk Peter si Pertapa. Perang salib menarik minat semua kelas masyarakat: para paus, raja-raja, kaum bangsawan, pendeta, tentara bahkan petani. Orang-orang menjual semua yang mereka miliki sebagai bekal dalam ekspedisi yang panjang dan berbahaya ini. Mereka menjahitkan tanda salib di baju mereka dan berbaris menuju Yerusalem. Perjalanan itu merupakan ziarah sekaligus perang pemusnahan.

Pada musim semi tahun 1096, berangkatlah lima pasukan yang terdiri atas 60.000 tentara plus para peziarah dan anak istri mereka. Mereka dipimpin oleh Peter si Pertapa, Walter Sansovoir dari Possy, Emich, Folkmar dan Gottschalk. Pasukan Walter Sansovoir bergerak melalui Eropa Timur dan tiba di Konstantinopel pada bulan Juli. Sedangkan pasukan yang lain tidak seberuntung pasukan Walter Sansovoir. Pasukan besar ini tidak membawa bekal memadai sehingga bergantung pada pemberian makanan dari penduduk setempat yang mereka lalui. Jika tak ada pemberian, mereka menyerang desa-desa dan menjarah. Sebenaranya masyarakat di desa-desa yang dilalui tentara salib ini sudah cukup miskin dan susah untuk menyediakan makanan untuk sendiri, apalagi harus memberi makan tentara salib dan peziarah yang berjumlah ribuan itu.

Perang tak terhindarkan. Pada bulan Juni, pasukan Folkmar dihancurkan di Nitra, Hungaria oleh tentara Hungaria yang marah. Tak lama pasukan Gottschalk juga hancur di Pannolhama, Hungaria. Pasukan Emich yang berjumlah 20.000 orang mencoba memaksa masuk Hungaria dan mengepung kota Weisenberg selama 6 pekan. Tetapi mereka gagal dan terpaksa harus pulang dengan kehinaan. Sedangkan pasukan Peter berhasil mencapai Konstantinopel pada bulan Agustus walaupun kehilangan banyak orang selama perjalanan.

Kaisar Byzantium, Alexius, merasa ngeri dengan jumlah pasukan yang begitu besar tanpa bekal yang cukup. Mereka lapar dan kasar, kontras dengan Konstantinopel yang megah dan mapan. Alexius kemudian menggiring secara halus tentara salib ini keluar Konstantinopel menuju ke Asia Kecil yang dikuasai Turki Saljuk. Tak lama, pasukan Walter dan Peter pun dibantai oleh tentara Turki. Peter selamat dari pembantaian dan kemudian pergi ke Konstantinopel untuk bergabung dengan tentara salib berikutnya.

Para pencatat sejarah tidak membuktikan keberadaan tentara salib pertama ini dan mereka meniadakan penyebutan tentara ini dalam semua catatan mereka. Mereka hanyalah dianggap sebagai gerombolan petani yang fanatik, dan dianggap bukan pasukan resmi gereja. Kegagalan tentara salib pertama ini tidak diakui secara resmi karena ini akan membuat seluruh gerakan ini dipertanyakan. Kekalahan dari Turki adalah hal yang sangat memalukan. Tentara salib pertama ini diabaikan dan lebih populer dengan legenda “Perang Salib Petani.”

PERANG SALIB YANG PERTAMA

September 1096, Pangeran Bohemund dari Taranto mendukung seruan Paus Urban dengan bergabung bersama tentara salib. Segera ia ambil salib di Katedral Amalfi, kemudian menemui para panglimanya. Jubah peraknya dirobek menjadi pita-pita untuk dijadikan tanda salib dan kemudian ia serahkan ke para panglimanya yang bersemangat. Bohemund berteriak, “Bukankah kita orang Frank? Bukankah para leluhur kita datang ke sini dari Francia dan membebaskan tanah ini hanya dengan tangan? Sungguh memalukan!”

Beberapa minggu kemudian, Bohemund dan keponakannya Tancred sudah berlayar menuju Konstantinopel dengan pasukan bersenjata lengkap dan terlatih. Bohemund mempunyai alasan-alasan duniawi untuk menjadi tentara salib. Perang adalah jalan nyata untuk mendapatkan kerajaan di timur.

Sebelumnya, pasukan Godfrey dari Bouillon adalah pasukan pertama yang meninggalkan Eropa pada bulan Agustus 1096. Seperti Bohemund, Godfrey juga punya alasan duniawi untuk ikut perang salib, walaupun alasan ideologisnya juga cukup kuat. Masa depannya tak jelas di barat, tanah keluarga bangsawanny telah disita oleh Kaisar Henry IV. Godfrey berangkat bersama Baldwin saudaranya yang lebih sekuler dan pragmatis.

Pemimpin tentara salib lainnya adalah Raymund dari St. Gilles, seorang ksatria yang telah bertempur melawan muslimin di Spanyol. Raymund hampir dapat dipastikan tidak mempunyai motif ekonomi dalam mengikuti perang salib ini. Raymund telah berumur 60 tahun ketika perang salib diserukan dan mempunyai kehidupan yang nyaman.

Tentara salib pertama ini telah belajar dari nasib tragis lima pasukan yang berangkat menuju timur di musim semi. Sebagian besar pasukan menghindari jalur darat yang berbahaya dan memilih jalur laut untuk sampai ke Konstantinopel. Namun Godfrey dan Baldwin sengaja lewat darat dengan maksud menapaktilasi jalur Charlemagne, leluhur mereka yang legendaris, ketika berziarah ke Yerusalem. Pasukan Godfrey dan Baldwin mempunyai persiapan yang memadai dan sangat berhati-hati. Para pemimpin pasukan amat tegas untuk tidak melakukan pencurian dan penjarahan. Karena itu, mereka berhasil menghindari ancaman dari penduduk lokal yang dilewati dan berhasil tiba di Konstantinopel dengan masih rapi.

Setelah semua tentara salib tiba di Konstantinopel, mereka bersiap-siap untuk memenuhi mandat mereka yang pertama, yaitu membantu Kaisar Alexius untuk merebut wilayah Byzantium dari orang Turki Saljuk yang muslim. Alexius dan tentara salib saling curiga. Tentara salib menganggap bahwa Byzantium adalah pengecut dan tidak terhormat karena telah mengadakan perjanjian muslimin. Alexius memang senang menggunakan cara diplomasi ketimbang cara otot yang sering digunakan tentara salib. Alexius sendiri tak mempercayai tentara salib karena masih khawatir bahwa wilayah yang berhasil direbut tentara salib bisa saja tak akan dikembalikan ke dirinya. Alexius juga menganggap tentara salib sebagai kaum bar-bar yang bodoh. Alexius melihat tentara salib bukan sebagai bala bantuan, dia justru melihat tentara itu sebagai sebuah ancaman.

Kepada tentara salib, Alexius meminta mereka untuk bersumpah setia dan menerima Alexius sebagai raja mereka selama mereka masih di timur. Pemimpin seperti Bohemund yang pernah bertempur di timur tahu bahwa tanpa bantuan orang Yunani Byzantium ini tentara salib tak akan pernah berhasil. Byzantium menjanjikan bantuan bagi tentara salib selama masih berada di wilayah Byzantium, dan akan memberikan bantuan jika terjadi kemelut. Akhirnya dengan berat hati, tentara salib mau bersumpah untuk Alexius.

Tentara salib kemudian diberangkatkan dengan kapal menyeberangi selat Bosphorus, menuju pintu gerbang daratan Turki. Pada bulan Mei 1097, tentara salib dan tentara Byzantium mengepung ibukota Muslim Saljuk di Nicea. Saat itu Sultan Kilij Arslan I sedang di perbatasan bersama pasukannya. Sebenarnya Kilij Arslan telah mendengar kedatangan tentara salib, tapi dia menganggap enteng. Pasukan Kilij Arslan-lah yang telah menghancurkan pasukan Peter si Pertapa dan Walter Sansavoir hingga lumat. Kilij menilai bahwa pasukan berikutnya tentu lebih mudah. Tapi kenyataannya lain. Nicea yang hanya dijaga oleh pasukan panjaga saja bertekuk lutut. Tapi Muslim Saljuk ini dengan cerdiknya menyerah kepada Alexius, bukan ke tentara salib yang kejam. Alexius menjanjikan kota tak akan dijarah.

Pemimpin tentara salib mungkin menyetujui janji Alexius ini. Tapi para prajurit geram dan ketidaksukaan terhadap Alexius semakin menjadi-jadi. Walaupun Alexius memberi uang yang amat banyak, cukup untuk bekal mereka, prajurit tentara salib masih saja menggerutu dengan marah mengenai “pengkhianatan” Alexius.

Pada bulan Juni, tentara salib berangkat melalui Asia Kecil menuju Palestina. Tujuan mereka adalah membebaskan rute ziarah dari orang muslim serta membebaskan Armenia dan Antiokhia. Adalah penting untuk membangun kekuatan di daerah utara Suriah untuk mendukung berdirinya kerajaan Yerusalem yang akan mereka bangun nantinya. Di sini, tentara salib harus berperang sendiri tanpa bantuan banyak Byzantium.

Untuk memudahkan pergerakan, tentara salib dibagi menjadi 2. Ujung tombak pasukan bergerak sehari terlebih dulu. Pasukan ini dipimpin oleh Bohemund, Stephen dari Blois dan Robert dari Flanders. Pasukan ini terdiri atas orang-orang Normandia, Italia dan daerah utara Perancis. Pasukan kedua terdiri dari orang-orang selatan Perancis dan pasukan Lorraine di bawah pimpinan Raymund dari St. Gilles.

Beberapa hari meninggalkan Nicea, rombongan pertama telah sampai Dorylaeum dan mendirikan kemah. Rupanya, di sini Sultan Kilij Arslan telah menunggu mereka. Paukan Muslim Saljuk keluar dari persembunyian kemudian menyerang kemah-kemah. Dengan segera Bohmenud memerintahkan untuk mengatur diri. Anggota rombongan yang bukan pasukan perang diminta untuk berada di tengah perkemahan. Para perempuan diberi tugas untuk membawa air ke garis depan. Para pelari dikirim untuk memberitahu pasukan kedua untuk membantu mereka. Bohemund menginstruksikan untuk tetap dalam keadaan defensif dan tidak menyerang Muslim Saljuk terlebih dulu.

Tiba-tiba pasukan kedua tentara salib tiba. Sultan Kilij Arslan terlanjur yakin bahwa dia telah berhasil menjebak seluruh tentara salib. Kedatangan pasukan kedua yang masih segar bugar ini betul-betul mengejutkan. Tentara Muslim Saljuk kalah dan diburu oleh tentara salib, hingga perkemahan mereka diratakan dengan tanah oleh tentara salib.

Sebelum ke Yerusalem, tentara salib berencana untuk merebut utara Suriah dari muslimin dan merebut wilayah Byzantium dari Muslim Saljuk Turki sebagaimana sumpah mereka kepada Alexius. Mereka juga akan membangun benteng-benteng Kristen di wilayah tersebut, untuk melindungi rute ziarah dan juga kerajaan Yerusalem yang nantinya akan dibangun. Tentara salib kemudian dibagi 2 lagi. Pasukan utama dipimpin oleh Bohemund dan Raymund, bergerak menuju kota Antiokhia. Sisa pasukan dipimpin oleh Baldwin dan Tancred, bergerak ke barat melalui kawasan Silisia.

Kota Tarsus kemudian jatuh, disusul Adana dan Misis. Baldwin dan pasukannya kemudian bergerak ke Edessa. Baldwin bertekad untuk merebut sebuah kerajaan di timur, dan tekadnya adalah merebut Edessa untuk dijadikan kerajaannya sendiri. Baldwin menampilkan dirinya sebagai seorang pembebas Kristen dan mendapatkan dukungan orang Kristen Armenia. Edessa kemudian jatuh ke tangan Baldwin. Muslimin yang tak sempat kabur, dibantai oleh orang Armenia dan tentara salib.

Tentara salib tiba di Antiokhia pada Oktober 1097 dalam keadaan yang cukup baik. Mereka menganggap penting Antiokhia karena merupakan salah satu kota terpenting pada abad-abad permulaan agama Kristen. St. Petrus telah menjadi uskup pertama di kota itu. Tapi gereja Kristen kuno sudah menjadi masjid dan ini menjadi alasan cukup kuat tentara salib untuk merebut Antiokhia. Tentara salib pun mengepung Antiokhia dengan pasukan besar.

Keputusan mengepung Antiokhia nyaris menghabiskan riwayat tentara salib. Dengan jumlah sekitar 50.000 orang dan gerombolan peziarah selama berbulan-bulan membuat persediaan makanan di wilayah itu habis dengan cepat. Mereka mulai kelaparan dan mencapai puncaknya pada Januari 1098. Banyak di antara mereka yang mati kelaparan dan kemampuan tempur pasukan salib berkurang drastis.



Pada Juni 1098, Panglima Firouz mengadakan kontak dengan Bohemund. Pangeran Firouz adalah mantan orang Kristen Armenia yang menjadi muslim, dan seorang munafik. Dengan harga yang tepat, dia akan berkhianat terhadap kaum Muslim. Firouz mengirimkan pesan, bahwa tentara salib harus membawa tangga-tangga mereka ke Menara Dua Saudara Perempuan (The Tower of the Two Sisters), dan Firouz akan membiarkan mereka masuk ke dalam kota. Para tentara salib kemudian berhasil memasuki Antiokhia dan berteriak kuat, “Deus hoc vult! (Tuhan menghendaki ini)” Mereka merampok dan menjarah penduduk Antiokhia. Mayat-mayat muslimin bergelimpangan di jalan, bahkan diantara mereka juga terdapat penduduk agama Kristen yang ikut terbantai, saking tentara salib yang kelaparan berbulan-bulan. Antiokhia telah jatuh ke tangan orang Kristen.

Pesta pora orang Kristen tak berlangsung lama. Tentara muslim Kerbuqa datang mengakihiri masa bersenang-senang mereka setelah menaklukan Antiokhia. Tentara Kerbuqa langsung mengepung tentara salib yang belum hilang rasa lelahnya setelah mengepung Antiokhia selama berbulan-bulan dalam kelaparan. Terjadikan kepanikan luarbiasa di antara tentara salib. Mereka banyak yang membelot ataupun desersi sehingga penjagaan gerbang ditingkatkan untuk mencegah kepergian tentara salib. Sepertinya sudah tak ada lagi harapan. Tentara Byzantium yang dijanjikan Alexius untuk datang kalau ada kemelut tak akan datang karena Alexius mengira tentara salib telah dihancurkan oleh tentara Kerbuqa yang masih segar dan berperalatan lengkap.

Dalam pengepungan tentara salib yang sudah putus asa, tiba-tiba bersemangat lagi ketika diumumkannya sebilah tombak suci, yaitu tombak yang sudah dihunjamkan ke pinggang Yesus di hari Jumat Agung. Seperti penjelasan sebelumnya, orang Kristen saat itu sangat meyakini adanya kesucian relik, apalagi jika benda tersebut pernah disentuh oleh Yesus. Penemuan tombak suci tersebut membuat moral tentara salib naik sehingga mereka nekat menyerbu pasukan Kerbuqa hingga kocar-kacir.Para sejarawan Islam cukup jelas menulis bahwa Kerbuqa membuat kesalahan taktis yang cukup fatal akibatnya. Satu persatu pasukan kabur meninggalkan gelanggang pertempuran.

Setelah Antiokhia, tentara salib kemudian menaklukan kota Ma’arret di Suriah. Mereka kemudian berusaha merebut kota Arqa, tapi mereka tertahan walau Godfrey dari Bouillon dan Robert dari Flanders bergabung. Pada 13 Mei, pengepungan kota Arqa dihentikan dan tentara salib mulai berbaris menuju Yerusalem.

JATUHNYA AL QUDS ATAU YERUSALEM

Setelah gagal menaklukan kota Arqa, tentara salib berbaris menuju Yerusalem. Sesampainya di Ramallah, ibukota administratif muslim Palestina, tentara salib tidak mendapatkan perlawanan yang berarti sehingga mereka bisa memnduduki kota tersebut dengan mudah. Untuk pertamakalinya mereka menginjak tanah Palestina. Di Ramallah, mereka menemukan makam St. George yang mereka anggap sebagai pelindung mereka yang akhirnya sangat populer.

Pada tanggal 7 Juni 1099, tentara salib tiba di luar benteng kota Yerusalem atau Al Quds. Pandangan mereka tampak begitu marah melihat Masjid Al Aqsha yang waktu itu menjulang tinggi di antara kota dan lembah dengan sangat mengesankan, dikelilingi oleh benteng-bentengnya yang kuat. Kekuatan dan keagungan bangunan-bangunan di Al Quds saat itu amat mengesankan jika dibandingkan dengan bangunan-bangunan di dunia Kristen jaman itu. Tentara salib menganggap ini adalah penghinaan terhadap keimanan mereka. Tentara salib kini juga bisa mendengar adzan, yang dianggap mencemari tanah suci mereka. Tentara salib melihat muslim Al Quds berbeda dengan orang Muslim Turki Saljuk karena musim di sini kebanyakan keturunan Mesir, yang dianggap sebagai musuh Tuhan karena orang Mesir memusuhi Musa.

Tentara salib mulai membangun dua menara pengepungan yang memungkinkan mereka bisa benteng kota Al Quds. Mereka juga melakukan berprosesi, mengikuti petunjuk seorang pertapa mengenai cara terbaik untuk menyerang kota, sebuah cara aneh yang sangat tidak masuk akal. Seluruh tentara salib berjalan mengelilingi benteng kota sebanyak tujuh kali dengan kaki telanjang sambil menyanyikan himne-himne. Mereka berhenti di tempat-tempat suci mereka di luar kota seperti Bukit Sion, tempat Yesus menikmati perjamuan terakhirnya, kemudian Taman Gethsemane, tempat Yesus berdoa sebelum ditangkap, kemudian Bukit Zaitun, tempat Yesus naik ke surga. Setelah selesai, mereka kemudian bergerak ke benteng kota dengan penuh keyakinan bahwa mereka dapat menaklukan kota dengan mukjizat dan doa. Ternyata ini tak berhasil dan mereka pun kembali ke perkemahan mereka sambil mendengarkan sorakan kaum muslimin yang menyaksikan di balik tembok benteng. Di jaman modern di mana akal jadi panglimanya, prosesi tersebut memang menggelikan. Kaum muslim saat itu mempunyai peradaban yang jauh lebih maju dan berpengetahuan lebih luas dari pada orang Eropa saat itu. Tapi tentara salib merasa bahwa hinaan-hinaan itu seakan-akan ditujukan kepada Kristus sendiri, dan mereka bersumpah akan melakukan pembalasan.

Pada tanggal 15 Juli 1099, tentara salib menyerbu Al Quds atau Yerusalem. Mereka kemudian berhasil menaklukannya. Selama dua hari mereka membunuh semua orang Islam dan Yahudi yang mereka temukan, tak peduli laki atau perempuan. Semuanya harus mati. Sehari setelah pembantaian, tentara salib memanjat atap Masjid Al Aqsha dan kemudian membunuh dengan dingin sekelompok muslim yang sebelumnya dijanjikan Tancred untuk dilindungi.



Kaum muslim bukan lagi musuh mereka yang harus dihormati. Kaum muslim dianggap sebagai musuh tuhan dan dikutuk untuk mendapatkan pemusnahan yang kejam. Orang muslim dianggap mengotori Yerusalem, tanah suci Kristen, dan harus dihapuskan dari muka bumi salib seakan penyakit yang berbahaya. Laporan pandangan mata dari Raymund of Aguiles menunjukkan semangat Yoshua yang melumuri pembantaian tentara salib :

Sejumlah pemandangan indah mesti disaksikan. Beberapa tentara kami (dan yang ini sudah cukup bermurah hati) memenggal kepala para musuh mereka. Yang lain memanah mereka jatuh dari menara-menara. Yang lain menyiksa mereka lebih lama dengan membakar. Tumpukan kepala, tangan dan kaki, dapat dilihat di jalan-jalan kota. Sampai-sampai seseorang yang berjalan di situ harus berhati-hati agar langkah kakinya tidak menginjak bangkai lelaki dan kuda. Tapi semua itu tak berarti bila dibandingan dengan apa yang terjadi di Kuil Sulaiman, tempat biasanya diadakan upacara keagamaan. Apa yang terjadi di sana? Jika kukatakan sebenarnya, pasti itu akan melampaui kemampuan kalian untuk mempercayainya. Jadi cukuplah aku katakan, paling tidak, di kuil Sulaiman dan berandanya pasukan kami menunggangi kuda yang bergerak di antara genangan darah setinggi lutut dan tali kekang kuda mereka. Benarlah itu suatu hukuman yang adil dan bagus dari Tuhan, sehingga tempat ini dipenuhi oleh darah kaum tak beriman, karena tempat ini telah menderita begitu lama karena pelecehan mereka

(A History of the Jews/London, 1987/hal 392-394).

Pembantaian itu bukan sekedar penaklukan. Tentara salib menyerang kaum mulim di Yerusalem dan membantai mereka seakan tentara salib itu malaikat penuntut balas yang melaksanakan hukuman Tuhan. Itu dianggap penyelamatan, sebagaimana penyelamatan Tuhan di Laut Merah ketika Tuhan membantai seluruh tentara Mesir. Maka perang salib dianggap sebagai perang suci oleh mereka, sebuah perjalanan suci yang telah menjadi pertempuran kaum yang benar melawan iblis. Orang-orang Kristen itu membantai sekitar 40.000 muslimin hanya dalam dua hari. Jumlah yang luar biasa pada saat itu dan menjadi pembantaian yang selalu diingat orang Islam hingga sekarang. Anehnya, Paus Paschal II justru menunjukkan sambutannya pada sikap saleh para tentara salib yang mulai banyak yang pulang sebagai pahlawan.

Setelah Al Quds jatuh, di kota tersebut kemudian berdirilah kerajaan Yerusalem yang didirikan oleh tentara salib.


SETELAH YERUSALEM JATUH

Euforia melanda Eropa setelah Yerusalem jatuh dan orang Eropa memandang kemenangan di tahun 1099 sebagai serangkaian kemenangan pertama baru melawan Islam. Raymund dari St. Gilles dan Uskup Daimbert dari Pisa menulis, “kekuatan kaum muslim dan setan telah patah, dan kerajaan Kristus serta Gereja kini merentang ke semua arah, dari laut hingga ke arah laut.” Tiga pasukan umum mulai disiapkan untuk memperkuat kerjaan Yerusalem yang baru dan mempertahankannya dari serbuan Muslim yang mengelilingi. Terbentuklah tentara salib angkatan tahun 1101 dengan jumlah yang sama besar dengan angkatan sebelumnya. Mereka berbaris menuju Yerusalem. Perjalanan ini mirip dengan perjalanan angkatan sebelumnya hanya saja kini tentara Turki Muslim Saljuk lebih siap untuk bertempur setelah kejatuhan Antiokhia. Ketiga pasukan tersebut kemudian dibantai habis dan tak pernah sampai di Yerusalem.

Walau begitu, selama limapuluh tahun berikutnya orang-orang Kristen selalu datang ke Yerusalem secara bergelombang dan bertempur tanpa henti mempertahankan wilayah Kristen melawan perlawanan sporadis umat Muslim. Orang Eropa masih kagum akan keberhasilan Perang Salib yang luar biasa melebihi semua peristiwa yang terjadi saat itu. Secara khusus, ada 3 biarawan yang tidak ikut perang salib yang pertama menulis berbagai peristiwa di perang salib. Para biarawan ini – Guibert dari Nogent, Robert sang pendeta, dan Baldrick dari Bourgeuil- memamndang perang salib sebagai perang yang sesuai Alkitab berskala penuh. Tak ada lagi keraguan terhadap pembantaian kaum Muslim. Kaum Muslim itu ras “setan” dan “menjijikan”, “betul-betul terasing dari Tuhan” dan mesti dimusnahkan. Ketiga biarawan tersebut menunjukkan bahwa para pejabat Gereja kini siap dengan semangat tinggi untuk membangkitkan perang melawan Islam sebagaimana yang tertulis pada Kitab Perjanjian Lama ke seluruh dunia.

Orang-orang barat saat ini yang berpikir bahwa Islam adalah agama pedang mungkin akan menduga bahwa umat muslim yang berada di negeri-negeri sekitar kerajaan Yerusalem akan menyerukan jihad melawan tentara salib. Tapi yang terjadi tidak demikian. Bagi umat Muslim waktu itu butuh waktu yang lama untuk memahami bahwa perang salib adalah peperangan antar agama, dan senyatanya adalah perang suci bagi orang Kristen. Sejarahwan Muslim abad ke 12, Izzuddin ibn al-Atsir memandang invasi ke Suriah pada tahun 1097 sebagai sebuah fase baru ekspansi barat yang samasekali tak ada hubungannya dengan makna religius. Tak ada retorika penuh amarah mengenai hilangnya Al Quds, tak ada sumpah untuk merebut kembali Al Quds atas nama Allah, sebagaimana yang diperlukan dalam Jihad. Umat Muslim tentu saja membenci orang-orang Kristen ini, tapi ini hanyalah dipandang sebagai kehilangan sebagian wilayah saja dan jantung negeri Kekhalifahan Islam bersikap acuh tak acuh atas kejadian ini.

Kaum Muslim yang berhasil melarikan diri dari pembantaian mengungsi ke negeri-negeri muslim di sekitarnya salah satunya adalah Damaskus. Para pengungsi ini juga membawa salah satu Mushaf Al Quran Usman, salah satu kopi tertua Al Quran yang disalin di jaman khalifah Ustman bin Affan. Di kota Baghdad, pusat kekhalifahan Islam waktu itu, pengungsi juga membanjiri kota ini. Kaum muslim Baghdad menangis sedih dan bersimpati dengan derita saudara seiman mereka. Khalifah yang waktu itu mempunyai kekuasaan politik yang lemah, menyusun sebuah komisi untuk menyelidiki masalah ini. Pengungsi merasa muak dengan kelambanan khalifah dan berteriak, “Aku melihat para pendukung iman ternyata lemah.” Seruan pengungsi untuk jihad hanya ditanggapi apatis. Kaum muslim waktu itu memang manangisi nasib saudara-saudara mereka itu, tapi mereka tidak siap untuk mengambil langkah praktis apapun untuk menolong kita. Ini mirip yang terjadi dengan jaman modern ini, di mana Palestina telah diinjak-injak Israel tapi negara-negara umat Muslim hanya bisa menangis dan mengecam, tanpa bisa membantu mereka dengan jihad yang jelas.

Kaum muslim abad 12 ini terlalu sibuk untuk bertempur antar mereka, sebagaimana tulis Ibn Al-Atsir: “pertikaian antar sesama pangeran Muslim membuat kaum Frank menjajah negeri itu.” Ketidakkokohan kaum muslim berkibat fatal: itu berarti kaum muslim berada di kubangan penderitaan, kehinaan, dan akan lebih banyak lagi pengungsi muslim yang terusir oleh orang Kristen yang tampak tak terkalahkan saat itu. Orang-orang Kristen terus-menerus menaklukkan lebih banyak wilayah-wilayah muslim seperti Haifa, Jaffa, Acre dan Baghdad juga seakan-akan kejatuhannya sudah di depan mata. Tapi berkat pertolongan Allah, pasukan Kristen ini mengalami sebuah kekalahan yang sangat jarang terjadi dalam sebuah pertempuran dan membuat kembali lagi ke Harran. Pada tahun 1109 orang-orang Kristen ini merebut Tripoli dan kemudian Beirut dan Sidon.

Kaum muslim memandang kemenangan orang Kristen ini seperti tiada henti. Pada tahun 1111, Kadi (seorang hakim dalam pemerintahan khalifah) dari kota Aleppo memimpin demontrasi kepada Sultan untuk mengirimkan pasukan untuk melawan orang-orang Kristen ini. Para demonstran beraksi dengan lebih keras dan akhirnya Sultan memerintahkan Amir dari Mosul untuk memimpin sebuah pasukan untuk melawan orang-orang Kristen. Kehadiran pasukan Sultan ini bagi penguasa muslim setempat sama mengancamnya dengan tentara salib. Amir dari Mosul yang memimpin pasukan Sultan pun dibunuh di Masjid Agung Damaskus pada malam menjelang serangan ke tentara salib. Tak lama, atabeg Tughitin dari Damaskus membuat perjanjian dengan raja Baldwin dari Yerusalem untuk berdamai. Ini membuktikan bahwa persatuan di antara pemimpin-pemimpin Muslim sangatlah rapuh. Umat Islam seperti kehilangan harapan. Keterpecahan pemimpin Muslim ini membuat orang-orang Kristen mampu menguasai seluruh garis pantai Palestina dan Lebanon.


KEBANGKITAN UMAT MUSLIM

Setelah kejatuhan Yerusalem dan kemunduran Islam, tahun 1128 menjadi sebuah titik balik. Sultan Rum di Asia Kecil Turki menunjuk Imaduddin Zangi sebagai Atabeg Mosul dan Aleppo. Zangi menerima tanggung jawab itu dengan amat serius dan bukanlah tipe petualang liar. Ia memaksa Sultan untuk memberinya otoritas mutlak atas seluruh Suriah dan Irak Utara, yang kemudian membuat penduduk di kedua wilayah tersebut untuk mendukung secara penuh pengabdian dan tanpa penyesalan operasi-operasi militer yang akan dilakukan.

Zangi mampu mampu memberi rasa kenyamanan dan rasa kebersatuan tentaranya. Ia membuat takut banyak orang tapi sekaligus orang yang sangat dihormati karena ia tidak pernah meminta sesuatu apapun dari mereka yang ia sendiri tak bisa lakukan. Zangi adalah tipe penguasa yang tak suka menjarah kota yang ditaklukan. Biasanya, para penguasa akan sibuk mengumpulkan kekayaan dari penjarahan kota yang ditaklukkan. Ini adalah sesuatu yang lazim pada zaman itu. Tapi tidak dengan Zangi. Balatentaranya biasanya ditarik mundur dari wilayah yang ditaklukan sehingga rakyat dapat menikmati kado kemenangan mereka. Zangi tak pernah menetap di suatu kota yang dimenangkan. Ia tidur di atas tikar dalam tendanya selama 18 tahun dalam operasi militer merebut wilayah dari orang Kristen. Kekuatan militer bukanlah satu-satunya kekuatan Zangi, tapi ia juga menyusun sistem inteijen yang rumit dan mengesankan, karena itu ia selalu tahu berbagai kejadian yang terjadi di Bahgdad, Damaskus, Antiokhia bahkan Yerusalem.

Dalam operasi perangnya, Zangi malah mengusung perdamaian baru di wilayahnya sehingga wilayah tersebut mampu membangun lagi. Tulis Ibn Al-Atsir, “Sebelum kedatangannya, ketiadaan pemimpin yang kuat untuk menegakkan keadilan dan kehadiran orang Kristen yang amat dekat itu telah membuat negeri itu menjadi liar, tetapi Zangi menyemaikan bunga kembali.”


Pada bulan November 1144, pasukan Zangi mengepung Edessa yang sedang dikuasai oleh orang Kristen. Edessa kemudian menyerah dan Zangi menghancurkan pemerintahan Kristen. Ini adalah sebuah kemenangan yang mengharumkan nama Zangi sekaligus menjadi pahlawan Islam. Jatuhnya Edessa adalah kekalahan yang menyakitkan bagi orang Kristen, baik yang berada di barat maupun timur.

Kemenangan Zangi atas Edessa sangat menyentuh hati umat Islam. Khalifah memberi banyak gelar. Setelah kemenangan ini, semua orang mengharapkan Zangi untuk merebut Yerusalem, kota suci Al Quds. Tapi pada 30 September 1146, Zangi dibunuh oleh kasim pelayannya yang keturunan orang Frank. Setelah kematiannya, Zangi menjadi legenda dan menjadi inspirasi kebangkitan kembali jihad di dunia Islam saat itu.

Ibn Al-Atsir mencatat ada dua cerita dalam legenda Zangi. Satu cerita mengatakan bahwa pada hari Zangi menaklukkan Edessa, Raja Kristen dari Sisilia berhasil menaklukkan kota muslim Tripoli di Afrika Utara. Ketika Raja Kristen tersebut kembali dengan penuh kemenangan, ia bertanya kepada seorang penasehat muslim yang dia hormati. “Apa gunanya Muhammad kini bagi rakyatnya?” tanya Raja tersebut. Penasehat Muslim ini kemudian menjawab, “Muhammad tidak ada di Tripoli, tapi berada di Edessa yang baru saja diambil alih oleh orang Muslim.” Istana bergemuruh dengan tawa yang mengejek. Raja kemudian berkata, “Orang ini tidak dapat berkata apapun kecuali kebenaran.” Cerita kedua menunjukkan jihad sebagai tindakan mulia. “Beberapa orang yang jujur dan baik telah mengatakan padaku,” tulis Ibn Al-Atsir dengan hati-hati, “bahwa seorang yang saleh melihat almarhum Zangi dalam mimpinya dan bertanya padanya; ‘Bagaimanakah Allah memperlakukan kamu (yakni, di alam barzakh)? Dan Zangi menjawab, ‘Allah telah mengampuniku, karena aku telah menaklukkan Edessa.

Pada malam ketika Zangi wafat, Mahmoud anak keduanya, memasuki tempat jenazah ayahnya terbaring. Mahmoud kemudian mengabil cincin stempel simbol kekuasaan dari jari ayahnya. Mahmoud bertekad akan melanjutkan misi ayahnya untuk menyatukan Timur Dekat dan melawan tentara salib. Mahmoud adalah anak muda muslim yang saleh dan taat beragama. Mahmoud kemudian dikenal dengan gelarnya yaitu Nuruddin atau cahaya agama.

Nuruddin kemudian membangun kerajaannya dari nol, karena Zangi tak sempat membangun sebuah dinasti yang aman. Nuruddin menyatukan rakyatnya dan menjadi pemimpin muslimin yang menaati prinsip-prinsip syariah Islam. Nuruddin sendiri juga hidup secara ketat dalam syariah Islam. Dia menjadikan dirinya sebagai teladan bagi rakyatnya. Nuruddin hidup sederhana, meniru cara hidup Rasullah SAW. Di masa ketika banyak penguasa muslim yang bergaya hidup mewah, gaya hidup hemat Nuruddin amat menakjubkan. Ini menjadi semacam peringatan dan tantangan tak langsung bagi penguasa Muslim yang tidak mempraktikkan sunah Rasul dalam memimpin. Nuruddin menjalani kehidupan sebagai muslim yang baik dengan selalu berdoa dan belajar. Jika di kalangan tentara salib biasanya tidak terdidik dan selalu mengutamakan kekuatan otot, sebaliknya seorang prajurit Muslim diharapkan juga seorang sarjana yang memiliki pengetahuan yang luas. Kemanapun pergi, Nuruddin selalu ditemani oleh sekelompok alim ulama yang terpelajar, sehingga operasi-operasi militernya mempunyai dasar syariah yang kuat dan sesuai dengan nilai-nilai Islam. Para alim ulama tersebut menafsirkan situasi politis dan militer dalam hukum Islam, sehingga Nuruddin bisa mengambil langkah-langkah selanjutnya. Tentu saja masih dalam ajaran Islam. Nuruddin terkenal dengan pengetahuannya yang luas dan tak ada yang lebih disukainya ketimbang diskusi serius masalah teologi setelah makan malam.

Penegasan Nuruddin untuk kembali ke syariah Islam secara total membuat seluruh muslimin merasa hormat kepadanya. Secara khusus mereka terkesan dalam pengabdiannya untuk berjihad mengusir penguasa orang Kristen yag merupakan kewajiban mendasar seorang muslim. Jihad adalah kembalinya seorang muslim kepada prinsip-prinsip dasar Islam. Al Quran dengan jelas menyatakan bahwa perang selalu tidak disukai, tapi kaum muslim mempunyai tugas untuk menentang penindasan dan pembinasaan, karena jika tidak demikian maka semua nilai kebajikan akan lenyap dari muka bumi. Nabi Muhammad SAW memberikan contoh yaitu ketika menghadapi rezim dhzalim Quraisy di Mekkah. Allah telah berfirman:

Telah diizinkan berperang bagi mereka orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dianiaya. Dan sesungguhnya Allah, benar-benar Maha Kuasa menolong mereka itu. Yaitu orang-orang yang telah diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan yang benar, kecuali mereka telah berkata: “Tuhan kami adalah Allah”. ..Dan sekiranya Allah tidak menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentulah telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadat orang Yahudi dan masjid-masjid, yang di dalamnya banyak disebut nama Allah.

(Q.S. Al Hajj: 39-40).

Sebenarnya umat muslim diperintahkan untuk menghormati orang-orang Kristen dan Yahudi. Walau demikian, Allah memperkenankan umat muslim untuk berperang jika negerinya telah diserang oleh orang-orang kafir. Ini artinya, umat Islam cinta akan kedamaian tapi lebih cinta akan keadilan dan tegaknya agama Allah ini.

Seorang pemimpin Muslim punya tugas yang jelas, yaitu untuk melindungi rakyatnya dari musuh yang demikian kejam seperti orang Kristen ini. Setiap amir atau pemimpin muslim yang tidak bergabung Nuruddin dalam jihad ini, jelas-jelas bukan muslim sejati. Kondisi ini lagi-lagi mirip dengan kondisi mutakhir di dunia Islam. Tak ada pemimpin dunia Islam jaman sekarang yang berani seperti Nuruddin atau Zangi, yang terang-terangan menyerukan jihad dan menyerang para agresor negeri Muslim. Padahal ini jelas-jelas sebuah kewajiban untuk negeri muslim sejati.

Nuruddin memulai perjuangannya mengusir orang Kristen dengan memulai propaganda, menugasi para sarjana untuk menulis buku-buku yang menjelaskan masalah jihad dan kemudian menyebarkannya ke imam-imam penting di seluruh kota-kota dunia Islam. Para imam ini kemudian menyebarkan jihad ke pengurus-pengurus masjid dan para murid. Para pengurus masjid dan murid-murid ini kemudian menyebarkan jihad ke masyarakat luas melalui khotbah-khotbah masjid saat sholat Jumat. Penting dicatat, jihad lebih bergantung pada pertimbangan akal intelektual daripada emosi visioner seperti yang dialami tentara salib dalam usahanya merebut Yerusalem. Tentara salib menganggap Tuhan akan menolong mereka dengan berbagai mukjizat. Kaum Muslim jauh lebih rasional karena ajaran Islam juga jauh lebih rasional. Allah akan menolong umat muslim jika mereka mengerahkan seluruh upaya manusia yang bisa diupayakan untuk menolong mereka sendiri. Umat Islam tak pernah berharap akan adanya mukjizat seperti yang diharapkan orang Kristen dari Tuhannya. Inilah perbedaan umat Islam dan kaum Kristen. Firman Allah dalam Al Quran:

Sesungguhnya Tuhan itu tidak akan mengubah nasib suatu kaum apabila kaum itu tidak mau mengubah nasibnya sendiri. (Q.S. Al Ra’d: 11)


Walaupun lama, Nuruddin akhirnya berhasil menanamkan semangat jihad ke umat muslim saat itu.ST. BERNARD DAN PERANG SALIB KEDUA

Kabar tentang kejatuhan Edessa mengejutkan orang-orang Kristen di Eropa Barat. Paus Eugenius dan Raja Perancis Louis VII menyerukan perang salib baru. Seruan ini kemudian didukung oleh Bernard, kepala biara dari Clairvaux. Saat itu Bernard bisa kita anggap orang yang paling berkuasa secara de facto di Eropa. Raja Perancis jelas di bawah pengaruhnya, sedangkan Paus Eugenius adalah anggota dari ordo religius yang dipimpinnya. Pamor kekuasaanya begitu kuat karena kefasihannya yang kharismatik.

Kaum Kristen merasa harus melawan balik. Penaklukan Edessa oleh Zangi dipandang sebagai langkah pertama bagi penaklukan Islam di Eropa. Edessa hanyalah sebagai awal. Kita telah melihat, bagaimana mereka menaklukkan Yerusalem. Mulanya mereka percaya bahwa suatu saat mereka akan mampu menghancurkan Islam dan pada akhirnya akan menguasai dunia. Mereka mulai sadar di tahun-tahun belakangan ini bahwa kemenangan Zangi adalah bukti akan besarnya kekuatan Islam yang tak akan bisa dikalahkan. Kaum Kristen merasa begitu terancam dan Bernard menggambarkan bahwa saat itu adalah titik balik dalam sejarah.


Bernard adalah seorang mantan ksatria yang terlibat intens dengan hingar bingarnya politik dunia Kristen. Ia sepenuhnya sadar akan arti penting Tanah Suci Yerusalem, baik yang bersifat strategis maupun spiritual. Dia telah lama yakin bahwa misi mengkristenkan dunia secara keseluruhan akan berhasil jika Eropa mampu memobilisasi kekuatan militer untuk melindungi imannya. Pandangan Bernard ini kemudian menjadi kenyataan ketika beberapa abad kemudian negara-negara Eropa menguasai dunia dengan adanya penjajahan-penjajahan yang terjadi di seluruh pelosok bumi. Penjajahan orang Eropa yang banyak menyengsarakan rakyat dunia memang menyebarkan agama Kristen yang seharusnya damai.

Raja Jerman yang bernama Conrad adalah salah satu pemimpin tentara salib jilid kedua ini. Conrad adalah raja yang sudah tua dan mempunyai permasalahan dengan kesehatannya. Ia telah melaksanakan perang membela gereja dengan melawan kaum pagan Slav dan Wend di Eropa Timur. Selain itu Conrad juga telah memerangi musuh-musuh Paus di Italia. Pada akhir Mei 1147, pasukan besar Conrad berangkat melalui Eropa Timur menuju Konstantinopel. Orang-orang Eropa terpana melihat besarnya pasukan yang mencapai 20.000 orang. Bersama Conrad, ikut juga pasukan raja budak dari Bohemia dan Polandia. Para bangsawan Jerman dipimpin oleh Frederick dari Swabia. Pada 20 Juli, pasukan Conrad telah sampai di Konstantinopel dan bersumpah untuk melukai Byzantium yang dipimpin oleh kaisar Manuel.


Pada 8 Juni, giliran pasukan Perancis berangkat. Louis adalah seorang pemuda berumur 26 tahun saat itu dan merupakan pewaris tahta Perancis. Istri Louis, Eleanour, juga ikut serta. Eleanor adalah salah seorang pemilik tanah terbesar di Eropa yang berada di selatan Perancis. Eleanor ikut dalam perang ini karena paksaan Louis yang tidak percaya akan kesetiaan cinta Eleanor.

Sebelumnya ada pembicaraan dengan Raja Roger dari Sisilia untuk menyediakan kapal yang akan membawa tentara salib ke Timur. Bernard dan Paus tak percaya dengan Roger, yang kemudian terbukti mengincar wilayah Byzantium. Pasukan Conrad yang mengambil rute darat melalui Eropa Timur menjarah dengan kejam wilayah-wilayah Byzantium. Bahka dalam suatu kesempatan, Frederick dari Swabia membunuh semua pendeta Yunani di sebuah biara dekat Adrianopolis untuk membalas dendam atas kematian dua tentara salib. Kaisar Manuel menuntut penjelasan Conrad atas insiden ini. Tapi Conrad malah menjawab bahwa setelah perang salib dia akan kembali dan menaklukkan Byzantium sendiri. Begitu pasukan Conrad menyeberangi selat Bosphorus, mereka masih saja melakukan penjarahan perusakan, persis yang dilakukan oleh pasukan Peter si Pertapa pada perang salib petani. Pada 25 Oktober, pasukan Conrad telah tiba di Doryleum. Mereka berhenti untuk beristirahat. Para ksatria turun dari kuda mereka yang kelelahan. Sedangkan pasukan infanteri sedang beristirahat karena kehausan. Pasukan Conrad sedang lengah. Di saat itu, pasukan Muslim Turki Saljuk menyergap dengan sukses dan berhasil membantai 90 persen pasukan Conrad.

Pasukan Louis juga memutuskan melalui jalur darat, ingin menapaktilasi Charlemagne dan tentara salib pertama. Pasukan Louis lebih tertib dan berusaha untuk menghindari penjarahan, tapi perjalanan mereka amat sulit. Penduduk setempat yang dilalui sudah cukup menderita dengan penjarahan yang dilakukan oleh pasukan Conrad sebelumnya. Penduduk bersikap memusuhi yang membuat pasukan Louis ini menggerutu kepada pasukan Conrad. Louis kemudian tiba di Konstantinopel dengan selamat.

Kita bisa melihat bahwa tentara salib ini sangat tidak rasional. Mengikuti jejak Charlemagne memang dianggap sebagai tindakan saleh, tapi itu justru sebuah kebodohan. Jalur itu sangat berbahaya dan tidak praktis. Perjalanan melalui Asia Kecil ini nyaris saja menghabiskan tentara salib yang kedua.

Pasukan Conrad yang lolos dari sergapan pasukan Turki kemudian bergabung dengan pasukan Louis di Konstantinopel. Mereka kemudian memulai perjalanan berbahayanya. Jika tentara salib pertama menderita akibat udara gerah maka tentara salib yang kedua ini juga menderita akibat badai salju yang cukup ganas. Bahkan di suatu tempat, ratusan tentara salib terbawa arus banjir. Tak hanya itu, mereka juga menderita kelaparan yang hebat dan kekurangan gizi karena tentara Turki Saljuk telah menghancurkan desa-desa yang akan dilalui oleh tentara salib, sehingga makanan sama sekali tak tersedia. Para peziarah miskin mulai banyak yang mati. Kuda-kuda mereka juga banyak yang mati atau dibunuh untuk dimakan. Tentara salib selalu diserang oleh pasukan Turki Saljuk yang segar sehingga banyak tentara salib yang tewas. Bahkan di suatu tempat di Kronos, pasukan salib garda depan nyaris habis ketika mendadak diserbu pasukan Turki karena pemimpin mereka tidak menuruti perintah.

Lebih setahun kemudian, pada Februari 1148, tentara salib telah kelelahan itu berjuang untuk memasuki pelabuhan Byzantium di Attalia. Mereka harus memutuskan apakah tetap melalui jalur darat, dilanjutan melalui laut atau membelah pasukan sebagian lewat darat dan sebagian lewat laut. Kesulitan yang mereka hadapi jauh lebih sulit daripada para pendahulu mereka. Menurut mereka, orang-orang Byzantium dan Kaisar Manuel telah berkhianat. Tak heran jika Manuel tidak membantu tentara salib ini. Lihat saja, pasukan Conrad telah menjarah Byzantium bahkan Conrad sendiri mengancam akan menduduki Byzantium. Jadi tak ada alasan Byzantium untuk membantu tentara salib walau mereka sama-sama beragama Kristen.

Dari pengalaman pahit sebelumnya, Manuel tahu dengan kedatangan tentara salib di wilayah Byzantium akan mengundang pasukan Turki Saljuk yang masih segar untuk menyerang. Manuel tak ingin terlibat masalah ini. Karena itu Manuel membuat perjanjian dengan Mas’ud, Sultan Rum atau Turki Saljuk sebelum tentara salib sampai di Byzantium. Perjanjian ini makin membuat tentara salib menuduh Manuel adalah pengkhianat.

Persediaan makanan di Attalia sangat tipis. Gubernur setempat sudah melakukan apa saja yang bisa ia lakukan untuk menyediakan makanan bagi tentara salib. Bukannya menghargai, lagi-lagi mereka menyalahkan orang-orang Yunani Byzantium itu karena dianggap tidak melindungi mereka secara layak.

Dari Attalia, tentara salib memutuskan untuk melanjutkan perjalanan melalui laut dengan menggunakan kapal-kapal yang disediakan Kaisar Manuel. Karena kapal-kapal yang tersedia tak cukup, maka hanya para ksatria, bangsawan dan sebagian pasukan infantri yang berangkat. Sisanya, sebagian tentara infantri, para peziarah dan bersama anak istri mereka ditinggal di Attalia yang kemudian lenyap dari sejarah, dikhianati oleh saudara-saudara seiman sendiri. Mereka hancur karena tak mampu mempertahankan diri dari serbuan pasukan Turki. Meninggalkan kaum miskin mungkin perlu untuk melanjutkan perang salib, tapi ini jelas-jelas membuktikan bahwa para tentara salib ini tak mempunyai rasa kemanusiaan dan solidaritas.

Pada tanggal 19 Maret 1148, pasukan Louis telah tiba di pelabuhan St. Simeon. Kaisar Conrad jatuh sakit dan harus kembali ke Konstantinopel. Conrad kemudian dirawat dengan penuh kasih oleh Kaisar Manuel, seorang kaisar yang pernah diancam Conrad sebelumnya. Maka sekarang hanya Louis, pemimpin satu-satunya yang berhasil mencapai Antiokhia dan disambut secara hangat oleh Pangeran Raymund.


Setelah melewati perjalanan yang mencekam, Eleanor amat senang sesampai mereka di Antiokhia. Ia lebih merasa kerasan dengan kondisi di daerah timur yang lebih maju dan beradab daripada Paris yang muram milik Bernard. Di sini Eleanor juga merasa senang karena bisa bertemu dengan Raymund yang masih terhitung sebagai pamannya dan teman masa kecil. Keduanya memang terpaut selisih tahun yang tidak terlalu jauh. Sebelum Raymund berangkat ke timur, keduanya pernah terlibat dalam hubungan yang memalukan. Pertemuan mereka berdua di Antiokhia ini langsung menyebar desas-desus. Diam-diam Louis mulai cemburu.

Raymund mempunyai harapan dengan adanya tentara salib ini. Raymund merasa terancam dengan perkembangan Nuruddin dan terus mengawasinya. Kota muslim Aleppo hanya berjarak 50 mil dari Antiokhia. Sebuah serangan mendadak tentara salib ke Aleppo diusulkan Raymund kepada Louis. Serangan ini hampir bisa dipastikan akan mampu merebut Aleppo dari Nuruddin. Namun Louis secara datar menolak usulan ini. Louis bersikeras ia sedang melakukan perjalanan ziarah dan tidak dapat menyerang secara besar-besaran sebelum berdoa di makam suci. Kembali lagi kita jumpai, sebuah tindakan yang dianggap saleh oleh orang Kristen tapi tidak sesuai logika dan nalar. Louis telah membuang kesempatan besar.

Eleanor merasa sudah tak bisa mengikuti kebodohan suci ini. Eleanor dan pasukan pribadinya dari Aquitaine akan tetap tinggal di Antiokhia dan bersama Raymund akan menyerang Nuruddin. Disulut api cemburu, Louis menculik Eleanor dan kemudian mengikatnya di atas kapal untuk kemudian berlayar menuju Acre bersama tentara salib. Eleanor akan terus bersama Louis selama perang salib kedua ini. Dalam pelayaran ini, Eleanor hamil dan tak pernah jelas siapa ayah dari janin ini.

Ketika tentara salib tiba di Yerusalem, mereka disambut oleh kaum Frank yang telah berkembang biak di Palestina. Tentara salib dari barat selalu terkejut melihat gaya hidup beradab dan ketimuran yang dianut oleh kaum Farnk di Yerusalem. Mereka juga terkejut melihat banyak dari kaum Frank yang bersahabat dengan kaum muslim. Raja Louis makin geram saja setelah mengetahui bahwa Raja Yerusalem memiliki perjanjian dengan Amir Damaskus untuk melawan Nuruddin. Itu lagi-lagi memperlihatkan betapa dangkalnya pikiran Raja Louis yang memimpin tentara salib ini.

Pada Juli 1148, kemudian diputuskan tentara salib dan tentara kerajaan Yerusalem menyerang Damaskus, satu-satunya sekutu kaum Frank di timur di tengah-tengah wilayah kekuasaan Islam yang mulai bangkit. Cukup mudah untuk memahami kebebalan Louis dan tentara Yerusalem: mereka akan memandang hal ini sebagai tindakan keimanan yang baik sekali, yang hanya percaya sepenuhnya pada Tuhan dan membuang logika dan nalar. Serangan ini justru akan menguatkan Nuruddin. Ketika melihat Damaskus dikepung oleh tentara salib bekas sekutunya, Amir Damaskus kemudian meminta bantuan Nuruddin. Dengan begitu, aliansi Nuruddin justru lebih kuat daripada sebelumnya.

Pengepungan Damaskus adalah sebuah kegagalan besar, yang hanya mampu mengepung beberapa hari saja. Pada mulanya tentara salib mengalami kemajuan dengan menaklukkan sebagian perkebunan buah di luar kota. Kemudian kaum Frank Yerusalem mengusulkan untuk memindah posisi tentara salib di bawah benteng agar tentara muslim tidak dapat berlindung di pohon-pohon. Ternyata posisi ini justru fatal bagi tentara salib dan mereka menuduh kaum Frank Yerusalem telah menerima suap dari Nuruddin. Di saat yang kacau itu, pasukan bantuan Nuruddin datang. Kaum Frank Yerusalem berusaha membujuk tentara salib untuk mengakhiri pengepungan. Tentara salib mundur kembali ke Yerusalem dan mengalami jatuh korban yang besar.MUNCULNYA SHALAHUDDIN AL-AYYUBI, PENGUSIR ORANG KRISTEN DARI AL QUDS

Pada tahun 1157, Nuruddin jatuh sakit yang cukup berat dan tak kunjung sembuh hingga dua tahun kemudian. Dalam sakitnya, Nuruddin merenungi kebijakan yang akan diambil. Nuruddin merasa bahwa ini adalah saat yang tepat untuk memulai jihad terbuka mengusir tentara salib dari bumi Islam. Para amirnya telah diberitahukan dan mengusulkan untuk merebut Antiokhia, tapi Nuruddin menolaknya. Seperti biasa, Nuruddin bersikap hati-hati dan penuh perhitungan. Dia tahu, ini belum saatnya untuk menyerang Yerusalem dan kota-kota sekitarnya. Manuel dari Byzantium baru saja menaklukan Anatolia dengan kekuatan militernya. Kemenangan Byzantium di utara ini memaksa Nuruddin untuk mencari front pertempuran yang lain, karena adalah tindakan yang konyol melawan Byzantium yang tengah kuat secara moral setelah penaklukan Anatolia. Jika pun menang, itu pasti diraih dengan sangat tidak mudah dengan risiko banyak kehilangan nyawa prajurit.


Tapi Nuruddin tak perlu menunggu lama, Mesir akan menjadi medan pertempuran yang akan membawa kemenangan gemilang dan menginspirasi generasi berikutnya. Pada tahun 1162, Raja Almaric dari Yerusalem menyerbu Mesir yang waktu itu berkhalifahkan Syiah. Secara tiba-tiba, Raja Almaric menyadari nilai strategis dari Mesir. Ini adalah kesempatan Nuruddin untuk berjihad melawan orang Kristen di front selain front utara yang tengah kuat setelah merebut Anatolia.


Khalifah Mesir mengirim surat bernada putus asa ke Nuruddin, memohon lebih banyak bantuan untuk melawan tentara Kristen Keerajaan Yerusalem di bawah Raja Almaric. Perjuangan melawan orang Kristen telah memasuki era baru. Dalam waktu singkat Almaric merebut Bilbays dan membantai seluruh penduduknya tanpa ampun. Sebelum ditaklukan, Kairo dibakar oleh penduduknya sendiri daripada dimanfaatkan oleh orang Kristen. Api menyala begitu hebat dan mengamuk selama 54 hari.


Keadaan menjadi begitu darurat. Nuruddin kemudian segera mengirim bantuan ke Mesir, menolong kaum muslimin dari kekejaman orang Kristen Yerusalem. Nuruddin mengirim Shirkuh, panglimanya yang brilian dan telah bertempur di Mesir dalam serangkaian operasi militer yang luarbiasa sukses selama enam tahun terakhir. Shirkuh adalah seorang panglima yang sangat dihormati dan dipuja oleh anak buahnya. Tanpa ragu, Shirkuh segera saja menyambut kesempatan ini dan berseru ke keponakannya, “Yusuf, segera kemasi barangmu! Kita akan berangkat!”


Yusuf amat berbeda dengan pamannya. Yusuf adalah seorang pemuda yang bertubuh kurus berusia 31 tahun dengan wajah tampan dan melankolis. Dia bukan tipe orang kekar yang mengandalkan kekuatan ototnya. Yusuf sangat sensitif dan mudah menangis jika melihat sesuatu yang menyedihkan. Hatinya penuh dengan kelembutan. Karena sifatnya yang lembut inilah, Yusuf merasa takut ketika mendengar perintah pamannya; “Seakan jantungku ditoreh belati dan aku menjawab, ‘Demi Allah, bahkan jika diberi seluruh kerajaan Mesir, aku tidak akan berangkat’”. Yusuf pernah bertempur di Mesir bersama pamannya selama dua tahun dan ini memberikan pengalaman yang mengerikan. Shirkuh bersikeras bahwa kehadiran Yusuf amat penting dan Nuruddin pun secara khusus juga memerintahkan Yusuf untuk berangkat ke Mesir. Dengan perasaan segan, Yusuf pun akhirnya berangkat bersama Shirkuh dan pasukannya.


Walaupun pada awalnya tidak terlalu senang dengan militer, Yusuf sang amir muda, akan menjadi salah satu pahlawan yang paling mengagumkan dalam sejarah Islam. Yusuf nantinya akan lebih dikenal dengan gelarnya yaitu Shalahuddin yang berarti Keadilan Agama. Ia dipuji oleh orang Timur maupun Barat dan satu-satunya pahlawan muslim yang diberi nama versi barat oleh para pengagumnya di Eropa yaitu, Saladin.


Pasukan Shirkuh tidak mengalami satu pertempuran sekalipun melawan pasukan Kristen Almaric karena orang-orang Kristen itu telah lari ketakutan. Shirkuh kemudian dipuja sebagai pembebas Mesir dan dianggap sebagai pemimpin kuat yang akan membawa ketertiban di Mesir. Mesir diperintah oleh wazir dan tak ada satupun wazir yang mampu membangun pemerintahan yang kuat dan mampu menegakkan keadilan. Shirkuh kemudian diangkat sebagai wazir baru ketika baru sepuluh hari kedatangannya. Otomatis kini Mesir merupakan bagian dari kerajaan Nuruddin. Ini mengubah secara drastis perimbangan kekuasaan di timur dekat. Kerajaan-kerajaan Kristen, baik di barat maupun di timur seperti Byzantium dan Yerusalem, kaget melihat persatuan umat muslim ini. Mereka menganggap ini adalah ancaman yang besar dan serius. Tapi takdir berkata lain, Shirkuh hanya menjabat 2 bulan sebagai wazir karena wafat.


Yusuf kemudian tampil menggantikan Shirkuh sebagai wazir Mesir. Yusuf tiba-tiba mendapati dirinya yang diberi gelar Al-Malik Al-Nashir yang berarti raja yang menang. Ia diberi pakaian wazir yang putih dan berturban emas serta jubah bergaris perak. Sebilah pedang yang dilapisi permata pada genggaman tangan kini juga menjadi miliknya. Ia dinaikkan ke kuda berwarna merah batu bata indah dengan pelana yang penuh permata. Karena hati Yusuf yang sensitif, ia menerima ini semua dengan hati yang takjub bahkan terkejut. Yusuf yang sebelumnya menolak berangkat ke Mesir kini malah menerima kehormatan yang tinggi dengan diserahi jabatan tertinggi di Mesir. Ia hanya dapat menjelaskan semua ini sebagai kehendak Allah. Ia merasa dengan jabatan ini bahwa ia harus menjalankan seruan Allah, mengusir orang-orang Kristen yang kejam dari bumi Islam khususnya Al-Quds.


Begitu diangkat menjadi wazir, kehidupan Yusuf atau Saladin ini berubah. Dengan jabatannya ini ia justru semakin banyak beribadah dan semakin ketat dalam menjalankan perintah-perintah agama. Sebagaimana seharusnya pemimpin muslim, Saladin menjalani kehidupan yang sederhana di tengah-tengah gemerlapnya hidup di sekitar tempatnya bekerja sebagai wazir. Di akhir hayatnya nanti, Saladin hanya meninggalkan uang 47 dirham walaupun saat itu ia adalah pemimpin yang paling kuat di timur tengah. Saladin membagikan banyak uang untuk kaum miskin sehingga bendaharawan Saladin mau tak mau harus menyembunyikan sebagian harta untuk keperluan darurat. Saladin juga belajar agama secara serius dengan para sarjana muslim terkemuka dan memerintahkan salah seorang sarjana untuk menulis buku tanya jawab soal keimanan untuk dirinya. Setiap kali Saladin tidak sedang bekerja, ia pasti membaca hadist. Saladin selalu shalat shubuh berjamaah serta sering menangis penuh emosi dalam shalat-shalatnya. Airmatanya akan mengalir lagi setiap kali mendengarkan ayat-ayat Al Qur’an yang mengharukan hatinya. Tak mengherankan jika sejak dia menjadi wazir, Mesir mempunyai identitas baru yang berpusat pada iman dan syariah Islam.


Saladin menyakini bahwa Allah telah memilihnya untuk melaksanakan sebuah tugas khusus. Beberapa tahun setelah diangkat menjadi wazir, ia berkata, “Ketika Allah memberiku negeri Mesir, aku yakin Allah juga bermaksud memberiku Palestina.” Saladin merasa wajib untuk berjihad melawan orang Kristen dan mengusir mereka dari Palestina. Ia tumbuh besar di istana Nuruddin dan di sana jihad dipandang bermakna penting bagi umat muslim. Yang menakjubkan adalah komitmen besarnya, yang telah mengubah seorang yang tadinya lembek menjadi seorang yang tangguh. Bahauddin penulis biografinya menulis:

“Perang suci dan segala penderitaan yang ada di dalamnya amat memberatkan hatinya dan seluruh anggota tubuhnya. Ia berbicara hanya tentang perang suci, hanya berpikir tentang peralatan tempur, hanya tertarik pada yang telah angkat senjata, dan hanya sedikit simpati bagi setiap orang berbicara selain itu atau orang berusaha mendorongnya untuk menjalani kegiatan lain. Demi cinta terhadap perang suci dan jalan Allah, ia meninggalkan istri dan anak-anaknya, tanah airnya, semua rumah dan tempat tinggalnya, dan memilih pergi ke dunia luar dan hidup dalam bayangan tendanya, tempat yang selalu ditiup angin dari segala penjuru.”


Tampaknya ketakutan lamanya telah menghilang. Ia tidak pernah meninggalkan garis depan pertempuran, bahkan ketika dia sedang sakit. Selama operasi jihad, Saladin membuat target yang ketat untuk menaklukan paling tidak satu lintasan kemah musuh setiap hari. Untuk menciptakan rasa kebersamaan, Saladin berkuda di antara para prajuritnya dengan hanya ditemani seorang pesuruh di waktu pertempuran sedang terjadi. Perubahan kepribadiannya yang mengarah lebih relijius, telah membongkar kerumitan rasa ngerinya dahulu, dan menyentuh simpanan kekuatan yang tak seorang pun menyadarinya termasuk Saladin sendiri. Yusuf atau Saladin kini telah menjadi seorang yang kuat dan perkasa.


Rasa percaya diri dan perasaan memiliki tujuan hidup ini mewujud dengan cepat. Dalam beberapa bulan pertama masa kepemimpinannya, Saladin meredakan pemberontakan dalam tentara Mesir dan dengan cerdas memukul mundur pasukan Kristen gabungan Yerusalem dan Byzantium. Saladin mematuhi perintah Nuruddin untuk mengganti Syiah menjadi Suni. Ini sangat beresiko karena bisa memancing pemberontakan rakyat Mesir dengan skala luas. Saladin sendiri sebenarnya merasa tak perlu mengadakan operasi militer untuk penggantian ini karena syiah dan suni hanya mempunyai perbedaan secara politis saja, bukan sebuah perbedaan yang bersifat teologis. Ini tidak seperti perbedaan antara Katolik dan Protestan yang lebih bersifat teologis. Saladin sendiri sangat dekat dengan Khalifah Syiah Mesir yang masih muda dan berbudi halus. Mesir kini menikmati rasa aman yang dibangun oleh pemerintahan Saladin. Saladin kini dihormati oleh rakyat Mesir melebihi penghormatan mereka terhadap khalifah, baik di Mesir sendiri maupun Baghdad. (Dikutip dari www.marhanfaiz.wordpress.com)

No comments: