Sunday, November 30, 2008

Perang Salib (Bagian Kedua)


Pada tanggal 15 Mei 1174, Nuruddin wafat karena serangan jantung di usianya yang ke 60. Nuruddin telah mengilhami kesetiaan besar dan memiliki banyak pengikut yang setia. Di Suriah, kebanyakan amir mendukung Al-Shalih, putra Nuruddin yang masih berusia sebelas tahun. Para amir marah begitu mendengar Saladin yang seharusnya menjadi wali Al-Shalih. Saladin kemudian memulai kampanye panjang dengan penuh kesabaran untuk memenangkan dukungan rakyat sebagaimana yang pernah dilakukan oleh Nuruddin. Saladin menggunakan metode yang sama dan secara bertahap mampu meyakinkan rakyat, hingga kemudian rakyat menganggap bahwa Saladin adalah seorang pewaris yang paling pantas walaupun sebagian orang menganggap Saladin tak lebih seorang pengkhianat.


Saladin di mata rakyatnya adalah seorang pemimpin yang taat beribadah, yang melaksanakan Islam secara kaffah. Bahkan dalam beberapa hal, Saladin melampaui sifat-sifat kesarjanaan dan kepejuangan Nuruddin yang saleh. Saladin bukan hanya hidup sederhana dan banyak memberi sedekah seperti halnya Nuruddin, tapi Saladin lebih dekat dengan rakyatnya karena ia membuka lebar-lebar istananya sehingga rakyat mudah menjangkaunya. Walau tak diragukan akan kesalehannya, Nuruddin terkesan agak resmi dan berjarak dengan rakyatnya sehingga menimbulkan rasa segan. Ini adalah kebalikan dari sikap Saladin sehari-hari. Saladin memberi contoh bagaimana seharusnya seorang pemimpin Islam. Sikapnya informal dan selalu menganggap dirinya sama dengan rakyat kebanyakan. Saladin selalu makan bersama dengan para prajuritnya dan hanya undur diri ketika akan sholat. Ia tak pernah minta diperlakukan secara istimewa, bahkan ia membiarkan dirinya diperintah oleh bawahannya yang rewel untuk menandatangani beberapa surat padahal ia sudah sangat kelelahan. Bahauddin, si penulis biografi Saladin, seringkali terkejut dengan sikap keseharian Saladin.


Karena keseharian yang sederhana, Saladin sangat dicintai oleh rakyatnya. Istana Saladin bersifat revolusioner pada jamannya, yaitu bersifat informal sekaligus kembali pada prinsip-prinsip fundamental Islam. Saladin terkenal dengan sifat welas asih, bahkan kepada musuhnya. Ia pernah menangis tersedu-sedu ketika seorang perempuan Kristen datang kepadanya dengan depresi karena putrinya diculik oleh seorang prajurit muslim dalam sebuah penyerbuan. Saladin memerintahkan untuk mencari putrinya seantero negeri, dan kemudian dikembalikan kepada ibunya.


Dalam masa awal pemerintahannya, Saladin membuat propaganda yang amat sukses, jauh melebihi kesuksesan Nuruddin. Saladin menyadarkan masyarakat bahwa jihad adalah sesuatu yag sangat penting bagi integritas seorang muslim. Ia melakukan pendidikan agama yang intensif di seluruh negeri, termasuk di kalangan prajuritnya. Untuk pertamakali dalam sejarah Islam, hadis dibacakan kepada pasukan ketika mereka siap bertempur, dan lebih banyak lagi pembacaan dan diskusi agama dilakukan ketika pasukannya menunggangi sadel kuda dan bergerak maju ke arah musuh. Tak ada amir lain waktu itu yang menunjukkan semangat besar untuk berjihad, sebagaimana semangat jihad Nuruddin yang juga dicintai rakyatnya.


Jika di pihak kaum Muslim mengalami kebangkitan yang luar biasa untuk berjihad, kebalikannya pihak Kristen justru mengalami kemunduran. Kerajaan Yerusalem sepenuhnya terisolasi dari luar karena ulah mereka yang menimbulkan kebencian walaupu dilakukan atas nama agama mereka. Tak hanya orang Muslim yang mulai bangkit untuk berjihad mengusir mereka, tapi orang-orang Kristen barat ini juga menimbulkan kebencian orang Yunani Ortodoks, kaum Jakobi, kaum Koptik dan kaum Kristen Armenia yang dianggap sebagai bidah. Dengan anggapan seperti itu, orang Kristen Barat ini secara efektif mengasingkan diri mereka dengan sekutu-sekutu mereka sendiri, yang sangat berharga jika terjadi kemelut. Orang Kristen Barat ini sepenuh menggantungkan harapan dengan bantuan tentara salib dari para Paus dan para raja yang berada di Eropa.


Tak hanya itu, orang Kristen Yerusalem ini terpecah menjadi dua kubu yang selalu berseberangan, yaitu kelompok elang dan merpati. Kelompok merpati adalah kelompok yang percaya bahwa sebaiknya tidak memprovokasi Saladin dan cenderung untuk mengadakan perdamaian. Mereka menganggap penting hubungan baik dengan orang Muslim karena pertimbangan perhitungan kekuatan yang tidak seimbang. Kebanyakan dari mereka lahir di Yerusalem dan biasa bergaul dengan orang Muslim. Kelompok ini lebih mirip dengan orang timur daripada orang barat. Kelompok merpati ini dipimpin oleh Raymund dari Tripoli.


Sementara itu, kelompok elang menyakini bahwa berkompromi dan berdamai dengan orang Muslim adalah hal yang tidak terhormat dan tidak sesuai dengan agama Kristen. Kelompok kabanyakan terdiri dari para imigran baru yang terdorong untuk berimigrasi ke Yerusalem karena fanatisme beragama intoleran yang berkembang di Eropa. Ketika mereka sampai di Yerusalem, mereka merasa muak dan terkejut melihat hubungan baik antara orang Kristen dan Muslim yang mereka temukan di Yerusalem. Menurut mereka, ini tidak sesuai dengan tuntunan agama Kristen.


Pimpinan kelompok elang ini adalah Reynauld dari Chatillon yang terkenal karena kejahatannya. Ia datang ke timur tak lama setelah kejatuhan Edessa pada tahun 1147. Ia serakah akan emas dan haus akan darah orang Muslim. Renauld menikahi janda Raymund dari Antiokhia dan mengambil alih pemerintahan perwakilan Antiokhia. Selama sepuluh tahun, Reynauld melakukan banyak kekejaman brutal yang memunculkan sikap bermusuhan para penduduk setempat. Tahun 1156, ketika Reynauld sedang berseteru dengan Kaisar Byzantium, ia menyiksa Uskup Agung dari Antiokhia, menyirami luka-luka sang Uskup Agung dengan madu dan menjemur tubuhnya diterik matahari sehingga tubuh itu kemudian diserang oleh berbagai macam serangga. Uskup Agung itu kemudian menyerah dan memberikan uang kepada Reynauld yang kemudian dipakai untuk menyerang Pulau Siprus milik Byzantium.


Pulau itu dijarah oleh Reynauld dengan sangat biadab sehingga pulau itu tak pernah pulih hingga sekarang. Ia membantai ribuan lelaki, perempuan dan anak-anak. Reynauld mengumpulkan para pendeta Yunani dan memotong hidung mereka dan kemudian para pendeta ini dikirim ke Konstantinopel. Reynauld tidak pernah merasa bersalah melukai sesama orang Kristen, seorang tipikal Tentara Salib yang memandang bahwa Kristen Timur adalah bidah.


Reynauld juga menjarah ke wilayah Muslim dan pernah tertangkap pada tahun 1157 di sebuah daerah dekat Aleppo di masa pemerintahan Nuruddin. Pada tahun 1175 Reynauld dilepaskan oleh Al-Shalih yang waktu itu sedang berseberangan dengan Saladin. Reynauld lari bergabung dengan tentara salib Yerusalem dan menjadi pembenci paling depan orang-orang Muslim.


Pemimpin kelompok elang lainnya adalah Gerard dari Ridfort yang merupakan pimpinan dari Ordo Kstaria atau Knights of Templar dan Guy dari Lusignan. Mereka sangat membenci kelompok merpati seperti Raymund dari Tripoli, apalagi orang-orang Muslim.


Selama masa pemerintahan Raja Lepra Baldwin, kelompok merpati bekerja keras untuk menjaga perdamaian dengan orang Muslim. Raymund dari Tripoli yang menjadi pimpinan kelompok merpati memandang bahwa orang muslim adalah manusia biasa, bukan musuh Tuhan yang menakutkan. Ia ingin Yerusalem tetap berdiri dan tidak ingin mebahayakan keamanannya dengan menjadikan Kerajaan Yerusalem sebagai garda depan agresivitas Kristen. Untuk sementara, Saladin belum kuat untuk mengadakan serangan besar-besaran ke Yerusalem. Walau begitu, Raymund tetap waspada.


Pada tahun 1177, Raja Lepra Baldwin sepenuhnya menjadi raja Yerusalem. Dalam trasisi kekuasaan tersebut, Saladin secara mengejutkan mengadakan serangan ke Yerusalem. Ini adalah keputusan buru-buru yang tak lazim dilakukan oleh Saladin. Saladin kalah telak, tapi kaum Muslim dengan semangat yang membara meluluhlantakkan daerah pedesaan di sekitar Yerusalem. Serangan itu menimbulkan teror yang luarbiasa bagi orang Kristen Yerusalem sehingga Raja Lepra Badwin menawarkan gencatan senjata kepada Saladin yang diterima dengan perasaan lega. Panen tahun itu sungguh buruk sehingga Saladin belum cukup kuat untuk mengadakan perang yang berskala besar. Saladin merasa harus lebih bersabar.


Meskipun gencatan senjata sangat merugikan, mau tak mau Saladin harus menjaga situasi damai. Di sini bisa kita lihat perbedaan esensial antara kaum Kristen dan kaum Muslim dalam mensikapi perang suci ini. Al Qur’an telah mengatur bahwa dalam situasi perang, jika musuh mengajukan gencatan senjata atau meminta berunding, dan gencatan ini tidak merugikan Islam maka kaum Muslim diperintahkan untuk bekerja sama. Walau begitu, gencatan ini tak boleh melampaui waktu 10 tahun (Q.S. Al-Anfal: 62-63). Sedangkan kaum Kristen –apalagi kelompok elang- tidak mau berdamai karena menganggap bahwa gencatan senjata tidak sesuai dengan integritas religiusnya. Jadi di sini terlihat bahwa kaum Kristen ini berperang atas nama agama mereka. Mereka menganggap bahwa kaum Muslim adalah kaum yang harus diperangi karena ini adalah perintah agama.


Walaupun Saladin sangat ingin mengusir tentara Salib dari Palestina, ia tidak dapat menolak permintaan gencatan senjata dari musuhnya karena Saladin orang yang saleh dan menolak menandatangani gencatan senjata berarti tidak melaksanakan perintah Allah seperti yang tertulis dalam Al Qur’an. Selama hidupnya, Saladin tidak pernah sekalipun melanggar perjanjian gencatan senjata.


Pada tahun 1181, Reynauld memandang rombongan kafilah Muslim yang melewati rute perdagangan yang menuju ke Mekkah. Reynauld kemudian menyerang rombongan tersebut yang diikuti oleh kelompok jamaah haji yang akan menunaikan ibadah haji. Tak berhenti di sini, Reynauld dan pasukannya bahkan berniat untuk menyerang kota suci Madinah. Untung saja Farukh Shah, keponakan Saladin, bergerak cepat dengan memukul mundur pasukan Reynauld ke kota Moab.


Rangkaian insiden ini sangat provokatif dan telah membebaskan Saladin dari perjanjian gencatan senjata. Dengan mengancam Madinah dan menyerang jamaah haji, Reynauld jelas-jelas menyerang eksistensi Islam. Pada diri Reynauld kita dapat melihat bahaya kaum ektremis Kristen yang sekarang mengejawantah ke orang Israel masa kini, yang juga berpikir bahwa berdamai dengan orang Islam adalah dosa. Mereka menganggap dirinya melakukan perang suci melawan kaum Muslim. Reynauld menolak mengakui kesalahan dan meminta maaf. Dia melakukan ini karena perintah agamanya. Raja Lepra Baldwin tak mampu mengambil barang rampasan yang diambil Reynauld dari rombongan tersebut. Ketika Saladin membalas dengan menangkap 150 peziarah Kristen, Reynauld masih bersikeras menolak pengembalian barang rampasan tersebut.


Pelanggaran ini sudah membatalkan gencatan senjata. Kaum Muslim mulai menyerbu wilayah-wilayah Kristen. Desa-desa dan ladang-ladang di Galilea sudah jatuh ke tangan kaum Muslim. Kota Beirut dikepung. Benteng Kristen Habis Jaldack di daerah seberang sungai Yordan telah jatuh ke tangan kaum Muslim. Penyerangan ini juga meningkatkan wibawa Saladin di mata seluruh dunia Islam, karena Reynauld telah menunjukkan bahwa kaum Kristen adalah musuh yang berbahaya bagi kaum Muslim dan Islam sebagai agama. Semakin banyak orang yang mendukung jihad.


Sementara kaum Muslim makin bersatu dan makin kuat, orang Kristen nyaris mengalami perang saudara. Persaingan kelompok elang melawan kelompok merpati makin meruncing. Kelompok elang secara terang-terangan mendukung Reynauld. Pada tahun 1181, Reynauld melakukan sebuah serangan yang paling provokatif kepada kaum Muslim, sebuah serangan yang berbeda dengan sebelumnya. Reynauld bergerak untuk menaklukkan Mekkah dan akan membumihanguskan Ka’bah. Untuk penyerangan ini, Reynauld membuat sebuah armada yang terdiri dari kapal-kapal yang dapat dibongkar pasang. Pasukan Reynauld mencoba kapal ini di laut mati, kemudian membongkar dan membawanya ke pelabuhan Eilat di teluk Aqaba melalui Nejef. Selanjutnya mereka berlayar di Laut Merah. Di sepanjang Laut Merah, Reynalud membuat kerusuhan di berbagai pelabuhan kaum Muslim hingga akhirnya sampai di Rabiqh, dekat Mekkah.


Untungnya Sayfuddin Al-Adil, saudara Saladin, bergegas berangkat dari Mesir untuk menyelamatkan keadaan. Sayfudding Al-Adil berhasil menghancurkan pasukan Kristen dan membawa para tawanan ini ke Madinah untuk kemudian dieksekusi mati. Tapi Reynauld sekali lagi berhasil lolos dan kembali ke Moab. Dengan adanya serangan Reynauld ini, jihad makin dipandang penting oleh kaum Muslim karena kaum Kristen sudah menunjukkan sifat aslinya. Tak ada satupun orang Muslim yang dapat mengabaikan serangan yang mengarah ke Mekkah. Mereka mungkin tak semuanya akan berangkat berjihad, tapi semuanya pasti akan memberikan dukungan secara terbuka kepada jihad yang melawan musuh-musuh Islam seperti Reynalud ini.BEBASNYA PALESTINA

Pada tahun 1183, Saladin memulai gerakannya untuk membebaskan Palestina dari tentara Salib. Pasukan Saladin menyeberangi Yordania dan menyerbu Galilea. Guy dari Lusignan, yang kini menjadi wali Kerajaan Yerusalem, segera saja memobilisasi tentaranya. Kedua pasukan kemudian berkemah berhadap-hadapan di kolam Goliath. Kelompok elang mendesak untuk segera menyerang. Usulan kelompok elang ini ditentang oleh Baldwin yang memerintahkan untuk bertahan. Tindakan menyerang Saladin lebih dulu adalah konyol mengingat jumlah pasukan Saladin yang jauh lebih besar dibandingkan tentara Salib. Walau menang jumlah, Saladin tidak akan mampu mempertahankan keberadaan pasukannya dalam waktu lama di lingkungan yang tidak ramah. Para tentara Muslim ini harus pulang untuk memanen hasil pertaniannya. Saladin sebenarnya sudah memancing tentara Kristen untuk bertempur, tapi mereka tetap tenang sehingga memaksa Saladin dan pasukannya untuk mundur.


Karena dinilai terlalu pasif dalam menangani kepungan kaum Muslim, Guy kemudian dicopot jabatan wali dan kemudian mengangkat kembali Raymund dari kelompok merpati. Raja Lepra Baldwin membuat wasiat yang mengangkat Raymund menjadi wali kerajaan jika penggantinya, Baldwin V, masih berumur di bawah 10 tahun ketika Raja Lepra Baldwin meninggal.


Pada tahun 1185, Raja Baldwin IV meninggal karena penyakit lepranya. Wasiatnya segera berlaku. Baldwin V yang masih berumur 7 tahun mewarisi tahta dan Raymund menjadi walinya. Sebagai wali kerajaan, Raymund meminta Saladin untuk melakukan gencatan senjata selama 4 tahun. Saladin pun menyetujui gencatan senjata tersebut. Dalam masa gencatan senjata Kerajaan Yerusalem berusaha membangun kembali aktifitas perdagangan dan, yang terpenting, membujuk Eropa untuk melancarkan perang salib.


Secara mengejutkan, Baldwin V meninggal di Acre. Setelah upacara pemakaman Baldwin V, Joscelin –salah satu menteri- menyarankan Raymund untuk segera ke Tiberias, menyiapkan suksesi sesuai dengan wasiat Baldwin IV. Tapi ternyata itu semua telah diatur sedemikian rupa. Ketika Raymund tengah berada di Tiberias, telah terjadi sebuah kup. Di Makam Suci, Uskup Agung Heraclius menobatkan Guy dan Sibylla sebagai raja dan ratu Kerajaan Yerusalem. Ini adalah kemenangan besar kelompok elang atas dominasi kelompok merpati selama ini.


Dengan Guy menjadi raja, kebencian Reynauld seakan-akan terbebaskan. Hanya beberapa minggu setelah kup, Reynauld menyerang rombongan pedagang dan jamaah haji ketika mereka sedang menuju ke Mekkah. Reynauld membantai seluruh laki-laki dan menawan sisanya di kastil miliknya. Salah seorang tawanannya adalah saudara perempuan Saladin. Menanggapi hal ini Saladin mengatakan, jika Reynauld membebaskan tawanan dan mengembalikan barang jarahannya, maka Saladin masih akan menghormati perjanjian gencatan senjata. Ternyata Reynauld menolak dan Saladin bersumpah akan membunuh Reynauld dengan tangannya sendiri.


Saladin kemudian menyerukan jihad besar-besaran melawan kaum Kristen. Saladin merasa sudah saatnya kaum Kristen diusir dari tanah Muslim. Seruan Saladin mendapat sambutan yang luarbiasa. Ribuan kavaleri dan infanteri membanjiri Damaskus dari seluruh penjuru kerajaan. Damaskus penuh sesak oleh prajurit-prajurit dan bendera-bendera yang berkibar, dikelilingi oleh ribuan tenda yang menjadi tempat berteduh para prajurit. Untuk pertamakali selama berabad-abad, kaum Muslim memobilisasi secara penuh untuk jihad dengan efektif. Kaum Muslim terlihat siap dan mampu untuk menghancurkan pasukan Kristen.


Raymund merasa kehancuran Kerajaan Yerusalem sudah di depan mata. Raymund membuat sebuah perjanjian rahasia dengan Saladin yang berjanji tidak akan menyerang Tripoli dan Galilea. Mendengar hal ini, meluaplah kemarahan kelompok elang dan mendesak Guy untuk mengirimkan pasukan untuk menghajar Raymund. Melihat ini, Balian dari Ibelin mengingatkan Guy bahwa bahaya besar mengancam jika menyerang Raymund karena ini akan mengundang pasukan Saladin yang berjumlah besar untuk menyerang karena adanya perpecahan. Atas pertimbangan inilah, Guy kemudian memerintahkan untuk membatalkan serangan ini.


Pada tanggal 30 April, anak Saladin, Al-Afdlal, mendatangi Raymund mengajukan sebuah permintaan untuk mengirim kelompok penyelidik melalui Galilea. Raymund mengijinkannya asalkan tidak merusak satupun kota atau desa yang dilewati dan harus kembali lagi sebelum malam. Al-Afdlal setuju dengan syarat Raymund. Raymund memerintahkan agar semua orang di Galilea untuk tetap di rumah pada esok harinya. Keesokan hari, tanggal 1 Mei, Raymund menyaksikan 7000 pasukan muslim berbaris melalui kastilnya di Tiberias menuju Galilea. Sore harinya, sesuai kesepakatan, pasukan muslim tersebut meninggalkan wilayah Kristen dengan membawa kepala-kepala para Ksatria Kuil (Knight of Templar) dan Ksatria Ordo Hospitaler.


Rupanya ketika Gerard dari Ridfort mendengar perintah Raymund untuk tidak keluar rumah menghindari pasukan Muslim, hatinya tidak dapat menerima perintah yang keluar dari seorang pengkhianat pengecut. Gerard justru memerintahkan seluruh Ksatria Kuil yang berada di wilayah itu untuk bergabungnya. Sebanyak 90 ksatria dari Ksatria Kuil ditambah 40 ksatria sekuler dari Nazaret bergabung dengan Gerard. Kelompok kecil Kristen ini berkeliling untuk mencari tentara Muslim. Saat mereka memberi minum kuda di mata air Cresson, mereka melihat jumlah pasukan Muslim yang besar. Secara logika James Maily, komandan Ksatria Kuil, ingin mundur dan menghindar pasukan Muslim. Tapi Gerard bersikeras untuk tetap menyerang dan menghina James: “Kau terlalu mencintai kepala pirangmu itu.” James yang telah bersumpah untuk patuh menjawab: “Aku akan mati dalam pertempuran layaknya seorang pemberani. Sedangkan kau akan kabur layaknya seorang pengkhianat.” Tentara Kristen itu kemudian menyerang pasukan Muslim yang berjumlah ribuan. Semua tentara Kristen ini kemudian terbunuh kecuali 3 orang, dan salah satunya adalah Gerard dari Ridfort.


Dengan adanya bencana ini, Raymund kemudian menjadi bahan cacian bagi kaum Kristen. Raymund sendiri telah terguncang dengan peristiwa ini sehingga dia akhirnya menyerahkan semua pasukannya menjadi di bawah kendali Raja Yerusalem. Orang Kristen mulai mengadakan mobilisasi pasukan. Semua pasukan berkumpul di Acre kemudian berbaris ke Sephoria secara ogah-ogahan. Mereka mengalami demoralisasi. Sebaliknya justru terjadi di pihak Muslim. Pasukannya mulai tak sabar untuk memulai jihadnya. Saladin sendiri menyimpulkan bahwa kesempatan ini tak akan disia-siakan. Pertempuran ini harus dilaksanakan sebelum musim gugur karena tentara mereka harus kembali untuk memanen lahan pertaniannya.


Saladin kemudian memasang jebakan dan berdoa agar kaum Kristen bisa masuk dalam perangkapnya. Pada tanggal 1 Juli, Saladin membawa pasukannya melalui Yordania menuju Galilea. Setengah pasukan berkemah di dekat danau dan setengahnya lagi menyerang Tiberias yang dapat direbut hanya dalam waktu 1 jam pertempuran. Saat itu Raymund dan anaknya tengah berada di Sephoria, sedangkan istrinya masih di rumahnya di Tiberias. Para pimpinan orang Kristen di Sephoria berdebat, apa yag harus mereka lakukan. Kelompok elang mengusulkan untuk langsung menyerang dan kelompok merpati yang dipimpin oleh Raymund mengusulkan untuk bertahan. Raymund tahu rencana Saladin. Walaupun Tiberias adalah kotanya sendiri, Raymund rela kehilangan untuk sementara waktu. Raymund juga tidak mengkhawatirkan keselamatan istri dan penduduk Tiberias karena perilaku Saladin yang penuh welas asih. Paling-paling mereka dibawa ke Damaskus dan bisa ditebus di lain hari. Seperti biasa, Raja Guy bimbang memutuskan jalan mana yang harus ditempuh. Guy kemudian mendengarkan Gerard yang berhasil melarikan diri dari serangan bodoh bunuh dirinya di Cresson. Gerard mencerca Raymund yang sudah dianggapnya sebagai pengkhianat. Guy memerintahkan pasukannya untuk berbaris menuju Tiberias. Orang Kristen sudah masuk jebakan yang dipasang oleh Saladin.


Tentara Kristen berjalan menyeberangi lembah-lembah Galilea dalam musim panas yang terik. Mereka terbebani oleh pakaian dan peralatan tempur yang berat. Perjalanan yang seharusnya memakan waktu beberapa jam akhirnya harus ditempuh seharian. Saladin mengirimkan pemanah-pemanah jitu untuk mengikuti mereka dari kejauhan, mengincar tentara-tentara yang terpisah sendirian. Saladin juga sudah mengeringkan mata air dan sumur yang akan dilewati tentara Kristen sehingga banyak diantara tentara Kristen ini menajdi setengah gila karena kehausan. Akhirnya mereka tiba di Galilea dengan kondisi yang sangat lelah dan menyadari bahwa perkemahan pasukan Muslim telah menutup akses mereka ke sumber air. Beberapa baron mendesak Raja Guy untuk bergerak merebut danau dari Saladin, tapi rupanya Raja Guy memutuskan berkemah semalam karena merasa kasihan melihat penderitaan prajuritnya seharian. Tentara Kristen berkemah di lereng dekat lembah yang disebut dengan Tanduk Hittin, tempat Yesus mengkhotbahkan agama damai dalam Khotbah Di atas Bukit. Tentara Kristen menyangka akan ada satu mata air di lereng bukit tersebut, tapi sesampainya di sana satu-satunya sumur itu pun sudah kering.


Tak hanya itu, penderitaan dehidrasi mereka bertambah parah karena pasukan Muslim membuat api unggun yang mengirimkan asapnya ke tentara Kristen yang sedang berkemah. Belum lagi suara sorak sorai dari pasukan Muslim yang makin menambah turunnya mental tentara Kristen. Malam itu adalah salah satu dari 10 malam terakhir Ramadhan, yang bisa saja adalah malam lailatul qodar, malam yang lebih baik dari seribu bulan. Sebelum malam berakhir, Saladin memerintahkan pasukannya untuk menyebar secara diam-diam mengepung perkemahan tentara Kristen. Setelah fajar menyingsing, pasukan Muslim langsung menyerang perkemahan tentara Kristen.


Pasukan infanteri Kristen yang panik dan hanya memikirkan air, bergerak turun setelah melihat kilauan air laut Galilea. Mereka kemudian dihalau oleh pasukan Muslim dan menimbulkan banyak korban yang mati dengan mulut menghitam karena kehausan. Pasukan kavaleri pimpinan Raymund berhasil menembus kepungan pasukan Muslim, tetapi kepungan kembali rapat setelah Raymund berhasil keluar sehingga pasukan kavalerinya terpisah dengan pasukan induknya. Raymund berhasil lolos dan terhindar dari kematian. Balian dari Ibelin juga menjadi salah satu pemimpin Kristen yang lolos. Kavaleri pasukan Muslim terus menyerang perkemahan tentara Kristen dan akhirnya Saladin dan anaknya Al-Afdlal melihat kemah Raja Kerajaan Yerusalem Guy, tempat sang raja berlindung, telah roboh rata dengan tanah. Al-Afdlal berkata, “Ayahku kemudian turun dari pelana kuda dan kemudian bersujud di tanah, bersyukur kepada Allah dengan tangis kebahagiaan.” Tentara Kristen kalah telak, dan Kerajaan Kristen Yerusalem telah tumpas. Saladin berhasil mengusir tentara salib dari bumi Palestina.


Setelah pertempuran berkhir, Saladin mempunyai dua tawanan penting yang langsung dibawa ke tendanya yaitu Raja Guy dan Reynauld. Kedua tawanan itu benar-benar sudah kelelahan dan putus asa karena kehausan. Saladin memberikan sekantung air yang diberi es dari salju gunung Hermon kepada Raja Guy yang kemudian meminumnya. Setelah puas, Raja Guy memberikan kantung air kepada Reynauld. Ketika Reynauld akan meminumnya, Saladin menegaskan bahwa dia tidak mengizinkan Reynauld untuk ikut meminum. Sudah menjadi kebiasaan bangsa Arab waktu itu untuk tidak membunuh lelaki yang telah diberi makan dan minum olehnya.


Teringat akan sumpahnya untuk membunuh Reynauld dengan tangannya sendiri karena begitu banyaknya kejahatan Reynauld terhadap kaum Muslim, Saladin kemudian memenggal kepala Reynauld dan menyeret mayatnya di ke Raja Guy yang ketakutan setengah mati. Kepada Guy, Saladin dengan tersenyum berkata bahwa seorang raja tak akan membunuh raja yang lain. Saladin kemudian menjelaskan dengan baik-baik bahwa Reynauld dipenggal karena kejahatan-kejahatannya yang begitu besar. Raja Guy kemudian dibawa ke Damaskus dan tak lama kemudian dibebaskan.


Kisah ini begitu terkenal karena dengan sempurna menggambarkan sikap Saladin yang penuh welas asih. Ini adalah hal baru dalam sebuah perang suci menurut pandangan orang Kristen. Saladin tidak ingin membantai seluruh orang Kristen tanpa pandang bulu, sebagaimana orang Kristen dengan semangat Yoshua menaklukkan Palestina yang membantai seluruh kaum Muslim. Kejadian ini telah membuktikan bahwa semangat jihad fi sabilillah tidak akan membabibuta membunuh semua musuhnya, bahkan ada aturan-aturan yang sangat ketat di dalamnya. Kejadian ini juga membuktikan bahwa kaum Muslim jauh lebih manusiawi dibandingkan orang Kristen dalam mensikapi perang suci.


Walau tak semua orang Kristen dibunuh, Saladin membunuh semua ksatria dari Ksatria Kuil (Knights of Templar) dan semua ordo-ordo militer karena merekalah yang paling berdedikasi untuk memerangi Islam selama ini. Jika orang-orang seperti Reynauld atau para ksatria ini dibebaskan, mereka pasti akan menghimpun kekuatan untuk kembali berbuat kejahatan terhadap kaum Muslim. Membunuhnya semua adalah sebuah tindakan penyelamatan.


Para ksatria Kristen yang kabur kemudian menghimpun diri di Tirus dengan Conrad dari Montferrat sebagai pemimpin. Banyak di antara mereka langsung menuju kota Yerusalem untuk mempertahankannya dari kaum Muslim. Saat itu pasukan Muslim masih berada di Hittin. Kaum Kristen waktu itu betul-betul putus asa dan ketakutan. Ini cukup masuk akal. Beberapa ribu orang Kristen yang berkumpul di Yerusalem tak akan mampu menandingi kekuatan pasukan Muslim. Apalagi kesatuan-kesatuan militer yang soild sudah dihancurkan di pertempuran Hittin. Kebanyakan dari mereka adalah orang-orang sipil. Orang-orang Kristen sangat ketakutan jika Saladin akan membalas dendam dengan membantai semua orang Kristen seperti halnya Tentara Salib yang membantai habis orang Islam ketika menaklukkan Yerusalem dulu.


Kemudian muncul Balian dari Ibelin, yang berhasil lolos dari pertempuran Hittin. Sebenarnya Balian sudah tak mau terlibat lagi dengan perang salib ini. Dia pergi ke Yerusalem sebenarnya untuk menjemput istrinya dan selanjutnya akan pergi ke Tirus. Balian meminta izin masuk kota dengan sopan kepada Saladin yang sedang mengepung kota Yerusalem. Saladin memberinya izin dengan syarat bahwa Balian hanya akan menginap semalam di kota tersebut. Balian pun bersumpah akan menaati syarat itu.


Begitu Balian masuk ke dalam kota, orang-orang Kristen meminta dengan amat sangat untuk tetap tinggal dan memimpin perlawanan. Balian dalam sebuah dilema, ia punya kewajiban untuk melindungi rakyatnya dan kewajiban religius untuk mempertahankan Yerusalem, tapi di sisi lain dia sudah bersumpah kepada Saladin untuk tidak tinggal di kota ini. Balian kemudian pergi ke Saladin dan menjelaskan posisinya. Saladin memikirkan hal ini dengan sungguh-sungguh. Pada akhirnya Saladin menyimpulkan bahwa karena Balian mempunyai kewajiban religius untuk tinggal maka Saladin pun membebaskan Balian dari sumpahnya. Saladin percaya dengan kesucian sumpah dan secara simpatik mampu memahami posisi Balian, walaupun ini merugikan Saladin sendiri.


Saladin memberikan tawaran kepada kaum Kristen untuk menyerah tanpa syarat, maka tidak akan ada banjir darah. Seperti biasanya, kaum Kristen dengan kepala batu menolak tawaran ini. Dalam situasi genting ini, muncul Balian yang menghadap Saladin dan mengatakan bahwa ada banyak orang yang masih bertempur dengan setengah hati karena mengharapkan Saladin memberikan ampunannya. Tapi jika kematian sudah jeas di depan mata, mereka akan bertempur dengan nekatnya. Saladin berkonsultasi dengan para imam dan fukaha mengenai hal ini. Mereka kemudian memutuskan bahwa sah hukumnya jika Saladin menaklukkan kota ini dengan damai.


Pada tanggal 2 Oktober 1187, Saladin dan tentaranya memasuki Yerusalem sebagai penakluk dan selama 800 tahun kemudian Yerusalem tetap menjadi kota Muslim hingga akhirnya direbut oleh Yahudi di tahun 1967. Kemenangan kaum Muslim ini bertepatan dengan Isra’ Miraj, di mana Rasulllah SAW sholat di masjid Al-Aqsha yang terletak di Palestina atau kota Yerusalem ini dan kemudian terbang ke langit ke tujuh untuk menerima perintah sholat dari Allah SWT langsung.


Dalam penaklukan ini tak seorang Kristen pun yang dibunuh dan tak ada penjarahan samasekali. Tebusan sengaja ditetapkan dengan amat rendah, namun tetap saja ribuan kaum miskin tak bisa membayarnya. Karena terharu akan penderitaan mereka, Saladin banyak membebaskan mereka dengan cuma-cuma yang membuat pencatat keuangan Saladin menderita akibat kemurahan hatinya. Saudara Saladin, Al-Adil meminta seribu orang untuk digunakan sendiri. Setelah diizinkan, Al-Adil yang juga tersentuh dengan penderitaan tawanan ini kemudian langsung membebaskan begitu saja di tempat. Kaum Muslim waktu itu begitu terkejut menyaksikan begitu banyaknya kaum Kristen kaya yang melarikan diri dengan membawa harta benda mereka. Jika dikumpulkan sebenarnya harta itu bisa untuk menebus seluruh tawanan. Ketika Imaduddin melihat Uskup Agung Heraclius kabur dengan membawa kereta yang penuh harta, ia mendesak Saladin untuk menyita hartanya. Tapi Saladin menolaknya karena Al Qur’an menyatakan penting sekali untuk menaati sumpah dan perjanjian. Kata Saladin, “Orang Kristen di mana pun akan mengingat kebaikan yang telah kita lakukan kepadanya.


Begitu ia berada di Yerusalem, Saladin kemudian membersihkan tempat-tempat suci yang telah lama dicemari. Masjid Al-Aqsha selama ini telah dijadikan markas besar Ksatria Kuil (Knights of Templar). Mereka membuat asrama di sekeliling masjid dan menjadi sebagian masjid menjadi gudang dan kakus. Di atas kubah batu, ada sebuah salib emas raksasa yang kemudian segera diturunkan. Ibnu Al-Atsir menulis, “Ketika mereka mencapai puncak, sebuah teriakan keras terdengar. Kaum Muslim meneriakkan Allahu akbar dalam kegembiraan mereka.” Di dalam masjid besar, batu besar tempat Ibrahim as mengikat Ishak dan tempat Rasullah SAW berpijak waktu Isra’ Miraj, ditutupi oleh orang-orang Kristen dengan marmer. Masjid Al-Aqsha sendiri dipenuhi oleh patung-patung dan gambar-gambar berhala, bergambar Yesus dan sebagainya. Masjid dikembalikan ke keadaan semula. Pada hari Jum’at tanggal 9 Oktober, kaum Muslim melaksanakan shalat jum’at berjamaah di masjid Al-Aqsha, menandakan bahwa Islam telah pulih kembali di Palestina.Setelah penaklukan Yerusalem, Bahauddin, sang penulis biografi Saladin, menceritakan pada kita sebuah kisah yang menunjukkan pandangan baru akan orang-orang Kristen. Waktu itu Bahauddin dan Saladin sedang berkuda di sepanjang pantai Palestina, memandang gelombang laut yang liar di musim dingin. Saladin berkata, “Aku pikir ketika Allah memberiku kemenangan atas seluruh tanah Palestina, maka aku akan membagi wilayahku, membuat wasiat untuk menyatakan harapan-harapanku, dan kemudian berlayar ke negeri-negeri mereka yang jauh dan memburu kaum Frank di sana, agar dunia terbebas dari orang-orang yang tak beriman pada Allah.”


Saladin sebenarnya sudah berniat untuk menyeberang ke Eropa dan menegakkan kalimat Allah di sana. Tapi untuk berjihad, Saladin tak perlu pergi ke Eropa karena tak lama setelah kemenangannya di Hittin, Raja William dari Sisilia segera berlayar ke Tirus dengan tujuan segera mengkonsolidasi kekuatan Kristen. Raja Guy dari Lusignan yang dibebaskan oleh Saladin, bukannya berterimakasih, tapi malah ikut bergabung dengan sisa kekuatan Kristen di Tirus dan kemudian berlayar ke Acre untuk mengepung sebuah benteng muslim di kota itu. Tentara Salib dalam jumah besar sedang berlayar dari Denmark dan Frisia untuk membantu Guy mengepung Acre.


Ibu Al-Atsir, sajarahwan muslim, memberikan sebuah pengamatan menarik tentang propaganda Kristen untuk membangkitkan semangat orang Kristen dengan memberikan gambaran yang salah dan fitnah besar tentang kaum Muslim serta agama Islam:

Untuk memancing rakyat agar membalas dendam, mereka membawa lukisan Mesiah, damai sejahtera atasnya, yang berdarah dilukai seorang Arab yang menyerangnya. Mereka akan berkata, “Lihat, ini sang Mesiah, dan ini adalah Muhammad, Nabi kaum Muslim, memukulinya hingga mati!”


Namun tentara salib yang menanggapi seruan perang salib jilid tiga yang dilontarkan oleh Paus Gregory III, tidak terlalu semangat dalam menanggapinya. Baru pada 1191, hampir 4 tahun setelah perang Hittin, tentara salib yang utama sampai di Acre. Keterlambatan ini sebenarnya dikarenakan mereka sedang sibuk dengan masing-masing pertempurannya. Raja Philip Agustus dari Perancis dan Raja Henry II dari Inggris saling menyerbu tiada henti. Pada 6 Jui 1189 Henry II wafat dan Richard The Lion Heart mewarisi kerajaan Inggris.


Setelah wafatnya Henry II, perang pun berhenti dan Richard berkeinginan untuk berangkat ke timur sebagai tentara salib. Sebenarnya keinginan Richard bukan berdasarkan motivasi religius. Karena Richard adalah seorang prajurit, perang salib memberikan tantangan yang menggairahkan sebagai prajurit. Sedangkan Philip Agustus jauh ebih tidak bersemangat menanggapi perang salib, tapi ia sadar bahwa jika ia tidak mengikuti opini pubik dengan menunda keberangkatannya lebih lama, maka itu akan menjadi sebuah kesalahan politik yang cukup fatal. Philip Agustus dan Richard The Lion Heart sepakat untuk berdamai secara resmi dan berangkat bersama meninggalkan Eropa menuju Acre pada tahun itu.


Sebelum keberangkatan tentara salib pimpinan Richard dan Philip ini sebenarnya telah berangkat lebih dahulu sebuah armada besar tentara salib yang dipimpin oleh Kaisar Romawi Suci Frederick Barbarossa dari Jerman. Frederick berangkat bersama 50.000 pasukan kavaleri dan 100.000 pasukan infanteri. Mereka memandang dirinya sebagai pasukan dai Kaisar Terakhir yang akan menaklukkan timur dan memaksa kembalinya Kristus kemudian datanglah hari akhir dunia. Mereka memandang merekalah yang akan memenuhi nubuat kuno tersebut. Maka mereka pun memilih jalur darat seperti halnya Charlemagne leluhur mereka.


Tapi kemudian ada sebuah kejadian yang tak terduga muncul. Allah berkehendak menghancurkan pasukan itu tanpa sebuah peperangan. Rute darat terbukti membuat banyak pasukan menggila. Pada tanggal 10 Juni 1190, rombongan tentara salib ini telah tiba di sungai Calycadnus di dataran Seleucia. Dengan baju besi lengkap, Frederick dengan tiba-tiba melompat ke arah arus sungai yang deras. Entah apa tujuannya. Mungkin untuk mendinginkan baju besinya atau sekedar memamerkan keberanian seorang tentara salib. Seketika juga, Frederick Barbarossa, seorang Kaisar Romawi suci, meninggal karena tenggelam. Tanpa kaisar mereka, orang-orang Jerman ini kehilangan minat mereka berperang menuju timur. Sebagian besar orang meninggalkan pasukan dan hanya sebagian kecil saja yang terseok-seok terus berjalan hingga Antiokhia.


Gerak maju kedua raja, Richard dan Philip, sangatlah lambat. Berangkat dari masing-masing negerinya, kedua raja ini sepakat untuk ketemu di Sisilia. Rencana mereka akan berlayar menuju Acre dan tidak menempuh jalur darat yang berbahaya. Walau begitu, sesampainya di Sisilia, kedua raja ini menghabiskan banyak waktu untuk menuntaskan perselisihan di antara mereka hingga kemudian datanglah musim dingin. Mereka kemudian memutuskan untuk menunggu cuaca yang lebih ramah untuk keberangkatan pasukannya. Baru pada musim semi 1191 mereka berlayar menuju Acre.


Philip sampai lebih dulu dan langsung mengatur pasukannya untuk mengepung Acre. Sedangkan Richard tertunda kedatangannya karena asih harus merebut Siprus dan menyerang sebuah kapal logistik kaum Muslim. Baru pada 6 Juni Richard sampai di Acre dan langsung ikut membantu pengepungan Acre.


Pengepungan Acre adalah sebuah pengepungan yang berkepanjangan dan membuat semua orang putus asa. Di dalam kota, pasukan Muslim berjaga-jaga dan kaum sipil menderita akibat pengepungan yang telah berlangsung 2 tahun. Di sekeliling benteng kota tentara salib berkemah mengepung. Sementara itu, di sekeliling kemah tentara salib, berkemahlah ribuan prajurit Muslim Saladin. Di dalam perkemahan tentara salib merebak wabah penyakit dan perseteruan politik antara Richard melawan Philip. Kondisi ini yang membuat mereka tak mampu menaklukkan Acre dengan cepat.


Tentara salib kali ini sangatlah berbeda dengan tentara salib sebelumnya yang sangat termotivasi dengan semangat kristus. Tentara salib pimpinan Richard dan Philip ini sangat sekuler dan terlihat sangat duniawi. Mereka sangat bersemangat ketika Richard menawarkan kepingan emas untuk setiap orang dalam pasukan yang dapat mengambil bongkahan batu dari benteng kaum Muslim. Ini berkebalikan dengan yang terjadi dalam pasukan Muslim, di mana setiap orang bertempur berlandaskan jihad membela agama. Saladin tetap mempertahankan kebiasaannya untuk membacakan hadist-hadist Rasulullah SAW di depan pasukannya sehingga motivasi jihad pasukannya tetap terjaga.


Setelah pengepungan panjangnya, akhirnya kota Acre jatuh ke tangan tentara salib. Ketika melihat bendera Kristen dikibarkan dari benteng kota Acre pada tanggal 12 Juli, Saladin menangis bagaikan seorang anak-anak. Acre kemudian dikepung rapat oleh Saladin dari segala penjuru. Dan tentara salib ingin berunding dengan Saladin.


Dalam perundingan itu disepakati bahwa Acre akan diserahkan terhadap kaum Kristen bersama 15.000 orang Kristen yang menjadi tahanan Saladin. Begitu kesepakatan terjadi, Philip merasa telah selesai tugasnya dan kembali ke Perancis. Sedangkan Richard, yang kini menjadi pimpinan tentara salib satu-satunya, tetap tinggal di Acre dan mulai merencanakan operasi-operasi militer baru untuk melawan kaum Muslim. Karena merasa terbebani dengan besarnya jumlah tahanan, Richard menggiring keluar dari benteng 2700 orang Muslim termasuk anak-anak dan perempuan, untuk kemudian dibantai dengan darah dingin. Peristiwa ini -sekali lagi- membuktikan bahwa tak akan ada perdamaian jika yang menguasai wilayah adalah kaum Kristen. Tindakan Richard –orang yang sangat dikagumi di Eropa dan dianggap sebagai pahlawan besar- sangtlah kejam dan sangat berbeda jika dibandingkan apa yang dilakukan Saladin. Ketika Saladin memiliki terlalu banyak tahanan, ia membebaskannya begitu saja, walaupun Saladin tahu bahwa mereka akan berkonsolidasi untuk melawannya lagi.


Peperangan-peperangan terus berlanjut. Para tentara salib tak terbiasa dengan hawa panas dan terik matahari yang begitu menyengat yang membuat mereka tidak sadarkan diri, terjatuh dari kuda bahkan banyak di antara mereka yang mati di pembaringan. Walau begitu Richard dan tentara salib masih bertahan di spenjang pantai Kaisarea. Tentara salib bahkan berhasil menguasai Arsuf walau dengan menguras amat banyak energi. Kedua pihak mulai kelelahan dan Richard meminta sebuah perundingan baru. Saladin pun mengiyakan.


Dalam perundingan tersebut Richard meminta sesuatu yang tak mungkin dipenuhi oleh Saladin. Richard meminta pengembalian seluruh wilayah tanah suci termasuk Yerusalem. Tentu saja permintaan ini ditolak mentah-mentah oleh Saladin. Saladin berkata ke Richard,

Yerusalem adalah milik kami seperti juga milik kalian: bahkan kota itu lebih bermakna suci bagi kami daripada bagi kalian karena Yerusalem adalah tempat Nabi kami menyelesaikan pejalanan malamnya sekaligus tempat komunitas kami akan berkumpul kelak pada hari kiamat. Jangan bayangkan bahwa kami dapat meninggalkan kota ini atau bimbang dalam masalah ini. Tanah itu semua memang milik kami, sementara kalian hanya baru saja tiba dan telah mengambilnya karena kelemahan kaum muslim yang tinggal di sana waktu itu.


Richard dan Saladin tak pernah bertemu karena menurut Saladin tidak pantas bila dua raja saling bertemu ketika mereka dalam peperangan. Al-Adil-lah yang menjadi penghubung kedua raja ini.


Selanjutnya Richard mengusulkan sesuatu yang luarbiasa mengejutkan di kedua belah pihak. Richard mengusulkan agar saudara perempuannya, Joanna, menikah dengan Al-Adil dan pasangan tersebut akan memerintah Palestina sebagai Raja Muslim dan Ratu Kristen. Tentu saja usul ini ditolak oleh Saladin dan menganggapnya Richard berkelakar. Di pihak lain, Joanna secara terus terang menolak menikah dengan orang yang dianggapnya sebagai “najis”. Gagal dengan usulan itu, Richard kemudian meminta kepada Al-Adil untuk menjadi orang Kristen dengan maksud agar perdamaian tercipta. Dengan halus dan sopan, Al-Adil menolak permintaan Richard. Ini adalah sebuah kekonyolan yang diperbuat pahlawan besar Eropa tersebut dan menunjukkan bahwa dia sangatlah duniawi, yang hanya memikirkan kemenangan politik maupun militer.


Walau menolak permintaan Richard, Al-Adil mengundang Richard untuk makan malam di Lydda. Perjamuan itu sukses luar biasa walaupun tak ada satu pun kesepakatan yang ditandatangani. Kaum Muslim dan Kristen saling memberi hadiah dengan suasana ramah. Richard sangat menyadari bahwa perang ini hanyalah membuang-buang waktu dan tidak artinya. Richard menulis surat untuk Saladin; “Kaum Muslim dan kaum Frank (Kristen) telah menumpahkan darah mereka hingga mati. Negeri ini samasekali dimusnahkan dan barang-barang serta tanah-tanah dikorbankan di kedua belah pihak. Sudah tiba waktunya untuk menghentikan semua.” Saladin setuju dengan isi surat itu untuk menghentikan peperangan. Tapi Saladin jelas tidak setuju dengan tuntutan Ricahrd untuk mengembalikan Palestina ke kaum Kristen. Dia juga tidak menyetujui usulan pernikahan Al-Adil dengan Joanna. Saladin begitu menghormati Richard, tapi dia menganggap Richard terlalu sembrono yang seharusnya tidak dilakukan oleh ksatria macam Richard.


Di penghujung tahun perundingan menemui jalan buntu lagi, sedangkan pertempuran terus berlanjut. Richard berencana untuk merebut beberapa kota lagi di pantai sepanjang Askelon tapi Saladin selalu mampu merebut lagi satu kota ketika Richard baru saja berhasil menaklukkan kota lain. Ini adalah jalan buntu militer.


Sedangkan di pihak kaum Muslim, ada kepanikan yang melanda para amir. Banyak di antara mereka melarikan diri karena ketakutan ketika tentara salib maju hingga Beit Nuba. Saladin begitu terpukul dengan kemelut ini. Saladin sudah merasa kalah. Sepanjang malam Saladin dan Bahauddin memikirkan dan mempertimbangkan segala langkah yang mungkin dilakukan. Namun mereka tidak menemukan solusi dan mulai diliputi rasa putus asa. Akhirnya mereka memutuskan untuk tidur. Baru saja kepala diletakkan di bantal, terdengar sang muazin melantunkan adzan shubuh. Bahauddin dan Saladin kemudian sholat shubuh berjamaah. Di pagi itu, Bahauddin mendapatkan sebuah ide untuk mengatasi kepanikan yang terjadi pada pasukan Muslim. Bahauddin mengusulkan untuk Saladin sholat di Masjid Al-Aqsha tepat di tempat Rasulullah SAW naik ke langit pada malam Isra’ Mi’raj sebagai sebuah acara resmi dan formal kenegaraan. Bahauddin menulis; “Aku melihat dia keletihan, dengan air mata mengalir membasahi janggutnya yang putih dan jatuh di atas sajadahnya, tapi aku tak bisa mendengar yang diucapkannya.” Saladin dan balatentara Muslim telah melakukan semua hal yang mungkin mereka lakukan, yang menguras kemampuan mereka, dan tak ada lagi yang bisa mereka perbuat. Tentu saja mereka harus menyerahkan semua persoalan ini kepada Allah SWT.


Pada hari yang sama, pemimpin garis depan datang membawa kabar baik. Orang-orang Kristen itu telah meninggalkan Beit Nuba dan bergerak kembali ke arah pantai. Bahaya telah berakhir. Richard menarik mundur pasukannya dan tidak jadi menaklukkan Beit Nuba karena penaklukkan Yerusalem dianggap tidak berguna dan justru akan membahayakan bagi orang Kristen yang tinggal di Palestina. Andai saja Yerusalem jatuh ke tangan orang Kristen, lalu para tentara salib pulang lagi ke Eropa, sudah dapat dipastikan bahwa Saladin akan kembali menaklukkan Yerusalem dan juga kota-kota di sepanjang pantai. Lagipula hujan musim dingin turun sangat deras dan bukit-bukit di sekitar Yerusalem tidak dapat dilewati. Richard mundur hingga ke Jaffa.


Seperti Saladin, Richard juga dalam kondisi putus asa. Setelah dua kali pasukannya dipukul mundur menjauh dari Yerusalem, para tentara salib ini marah dan nyaris timbul pemberontakan. Richard juga mendapatkan kabar buruk; Philip –temannya yang juga memimpin tentara salib bersamanya- kini tengah menyerbu tanah kekuasaannya di Perancis. Akhirnya Richard jatuh sakit. Saladin dengan ramah mengirim dokter pribadinya dan memberi hadiah buah-buahan dan es untuk dibuat minuman dingin. Akhirnya pada 2 September Richard menyerah dan sebuah kesepakatan ditandangani yang mengatakan bahwa kedua belah pihak harus berkompromi dalam waktu 5 tahun ke depan. Saladin berjanji tidak akan mengusir semua orang Kristen dan memburunya ke Eropa. Sebagai gantinya akan ada suatu wilayah kecil sepanjang pantai, dari Jaffa hingga Beirut, yang dikuasai sebuah kerajaan Kristen dengan ibukota Acre. Raja kerajaan itu menyebut dirinya sebagai Raja Yerusalem. Sedangkan Ricahrd berjanji untuk tidak menyerang Yerusalem lagi tapi para peziarah Kristen masih diperbolehkan datang ke Yerusalem. Tentara salib pun akhirnya pulang kembali ke Eropa tanpa menaklukkan Yerusalem.


Saladin menghormati Richard dengan sepenuh hati sebagai sesama ksatria. Ada satu kisah yang menggambarkan sikap Saladin. Pada satu peristiwa di pertempuran Jaffa, ketika pasukan kavaleri tentara salib kelelahan, Richard sendiri yang memimpin pasukan tombak. Saat Saladin melihat kuda Richard jatuh, seketika Saladin mengirimkan tukang kuda bersama dua kudanya yang masih segar untuk raja Inggris musuhnya. Ini sekali lagi menunjukkan bahwa seorang Saladin yang sedang berjihad, berjuang di jalan Allah, akan sangat menghormati musuhnya jika musuhnya juga menghormatinya.EPILOG

Setelah Richard The Lion Heart, Raja Inggris, beserta tentara salib yang dipimpinnya mampu diusir oleh Saladin dari Palestina, masih ada saja raja-raja, baron-baron Kristen Eropa yang mengadakan serbuan ke Palestina dan bermimpi untuk bisa menguasai Yerusalem sebagai ekspresi religius mereka. Tapi, alhamdulillah, sejarah mencatat tak satu pun dari mereka yang mampu menaklukkan Yerusalem hingga pada 1967 Palestina jatuh ke tangan orang-orang Yahudi dengan dukungan kuat negara-negara Kristen. Bahkan salah satu jenderal negara-negara Kristen ini menendang makam Shalahuddin Al-Ayubbi atau Saladin, seakan-akan cita-cita perang salib telah tercapai.


Ada keterkaitan yang amat kuat antara perang salib yang terjadi pada abad pertengahan dengan kondisi umat Islam pada jaman modern ini. Imperialisme dan kolonialisasi bangsa Barat, notabene bangsa-bangsa Kristen terhadap negeri-negeri Muslim adalah sebuah bentuk baru perang salib. Begitu juga dengan adanya negara Israel di Palestina adalah bentuk baru kerajaan Yerusalem versi abad modern yang keberadaannya sangat merugikan Islam secara keseluruhan. Hanya saja bedanya adalah, jika di masa abad pertengahan peradaban Islam begitu kuatnya dan maju sedangkan di abad modern ini peradaban Islam benar-benar di bawah kendali peradaban barat yang sekuler.


Bukan kebetulan kalau kaum Muslim menyebut imperialisme Barat modern dengan sebutan Al-Salibiyyah atau tentara salib. Seorang Presiden Amerika Serikat, Jimmy Carter, yang mengaku bukan seorang tentara salib ataupun imperialis mengatakan, “Israel akhirnya kembali ke negeri Al-Kitab, yang dari situ kaum Yahudi telah terusir ratusan tahun yang lalu. Pendirian negara Israel adalah pemenuhan nubuat sesuai dengan Alkitab dan merupakan intisari dari pemenuhan.” Jelas sekali bahwa Carter hanya memandang Palestina sebagai negerinya orang Yahudi sesuai dengan Alkitab-nya. Dan jelas sekali bahwa Carter mengabaikan hadirnya kaum Muslim di Palestina selama 1200 tahun belakangan.


Tapi penerusnya, Presiden Ronald Reagan, terbukti lebih buta lagi terhadap prespektif Islam. Sebagaimana Carter, Reagan suka sekali menggambarkan dirinya sebagai seorang yang pecinta damai. Tapi kontribusinya terhadap upaya penciptaan perdamaian adalah dengan mengadakan pengeboman brutal terhadap Libya pada tahun 1986, yang telah membunuh 71 orang Libya. Reagan juga menjelaskan bahwa dia tidak mendukung adanya negara Palestina yang merdeka.


Secara khusus, Pertempuran Hittin, yang dimenangkan Saladin secara telak dan membuat Yerusalem kembali ke pangkuan orang Muslim, telah menjadi sesuatu yang penting bagi kaum Muslim dan juga orang Yahudi (Israel) saat ini. Orang Muslim menjadikan peristiwa sebagai penyemangat untuk mengusir orang-orang Yahudi yang telah menginjak-injak Masjid Al-Aqsha dengan biadab. Para penyair dan pemimpin Muslim menyerukan untuk bangkitnya Saladin-Saladin baru yang akan mengusir kaum Yahudi dari Palestina dan Al-Aqsha. Sedangkan orang-orang Israel melihat adanya kemiripan yang amat kuat antara situasi sekarang ini dengan situasi yang dihadapi oleh kaum Kristen pada hari-hari menjelang pertempuran Hittin. Sebagian besar orang Israel begitu bersemangat dalam semangat religius mereka yang memusuhi Islam, dan juga tercerai-berai persis seperti kaum Kristen di Kerajaan Yerusalem. Mereka juga melihat kaum religius membangkitkan pemikiran-pemikiran fanatik yang menganggap Islam haruslah dibasmi, serupa dengan situasi di masa Kerajaan Yerusalem. (Dikutip dari www.marhanfaiz.worpress.com)

2 comments:

warmorning said...

awalnya saya fikir sampeyan ini ahli sejarah yg handal,
ternyata cuma kopi paste, toh ? :D
coba nulis dengan gaya sampeyans endiri, pasti lebeh keren :)

Adi Permana bin H Ali Basrah bin Barihun bin Taib bin Katar said...

Saya memang bukan ahli sejarah. Tetapi, sejarah kalau terlalu banyak yang menggubahnya, justru akan semakin membingungkan.......Sejarah itu biar dipublikasikan apa adanya, karena ia merupakan kisah nyata. Yang penting, semangat pendahulu perlu segera kita teladani....ya mas ya......Makanya, copy paste-nya terkesan "segera" disebarkan...