Friday, April 4, 2008

"Belanja Pun Was-was"
ULINA (20), operator telepon Mapolda Kalsel rupanya masih trauma akibat menerima telepon gelap yang isinya ancaman pemboman Mapolda, Kamis (3/4) sekitar pukul 14.00 Wita. "Saya awalnya berencana mau belanja ke Duta Mall. Akibat telepon itu, saya jadi was-was dan membatalkan niat itu," ujarnya, Jumat (4/4).
Bahkan, lanjutnya, selepas menerima telepon dari laki-laki yang tidak dikenal itu, ia ingin cepat-cepat pulang khawatir Mapolda benar-benar akan diledakkan.
"Begitu lagu Mars Bhayangkara terdengar tanda menjelang pulang kantor, saya langsung lega," ucapnya.
Pengantin baru ini pun pulang ke rumahnya di Jl Sutoyo S. "Nah, di rumah saya ceritakan pengalaman ke keluarga. Pas saat itu juga ada acara selamatan mendiami rumah baru. Maka sekalian saja, dibacakan doa selamat supaya tak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan," katanya.
Meski demikian, Ulina mengaku hingga siang kemarin ia tidak dimintai keterangan oleh petugas penyelidikan kasus ancaman bom tersebut. "Sampai sekarang saya belum dimintai keterangan," bebernya.
Diceritakan, ketika menerima telepon tersebut, seorang penelepon laki-laki langsung berkata, "Pak Kapolda, insya Allah, insya Allah, insya Allah akan terjadi pengeboman setelah shalat Isya." Lalu, Ulina dengan sedikit keberanian menanyakan, "Di mana, di mana, di mana."
Di ruang operator, ada juga pegawai lainnya, yakni Parmin, Ifin, Busrani dan Anita. Hal itu kemudian dilaporkan ke Kabid Telematika AKBP Marisan. Marisan lalu mengkoordinasikan ke Wadirintel Polda AKBP Tatang.
Informasi itu lalu diteruskan untuk penanganan lebih lanjut dari Gegana Brimob Polda. Petugas Gegana sempat melakukan penyisiran menggunakan peralatan detektor bom di segenap sudut Mapolda sore itu juga.
Sudah dibentuk tim yang dikoordinir Dansat Brimob AKBP Hari Heriyadi. "Sudah dibentuk tim untuk melacak nomor telepon sekaligus penelpon gelapnya. Tim sudah mengontak pihak Telkom untuk mem-print-out daftar telepon masuk ke Mapolda," ujar Kabid Humas Polda Kalsel AKBP Puguh Raharjo.
Senada, AKBP Hari Heriyadi juga mengakui pihaknya mulai melacak telepon yang berisi ancaman bom tersebut. "Kita minta kerja sama dengan pihak Telkom untuk melacak telepon penelepon gelap itu," bebernya.
Namun, upaya itu diragukan keberhasilannya. Pasalnya, dua ancaman pengeboman Bandara Syamsudin Noor awal Januari lalu hingga kini juga belum terungkap, meski sudah diupayakan kerja sama pelacakan dengan operator telepon kabel dan selular. adi

No comments: