Friday, April 3, 2009

Kasus Penyerobotan Bakal Dipolisikan

BANJARMASIN - Hj Rahmaniah (50), warga Desa Sei Cuka, Kecamatan Kintap, Kabupaten Tanah Laut (Tala), mengaku masih sabar untuk menunggu niat baik dari dua perusahaan pelabuhan khusus (pelsus) untuk membayar ganti rugi lahannya, Rp15.000/meter persegi. Namun, jika tidak, kemungkinan besar, kasus tersebut akan dilaporkan kepada Polda Kalsel.
 "Saya hanya berharap, dua perusahaan, yakni PT Batu Hitam Mulia (BHM) dan PT Alkatara mau kembali meluruskan niatnya yang pada awalnya mau membeli lahan saya. Saya ingin Rp15.000/meter persegi. Namun, kalau tidak, karena mereka jelas-jelas telah menyerobot lahan saya, maka saya akan melapor ke Polda Kalsel," ujar wanita yang didampingi Habib Muhdar ini.
 Menurutnya, pengusaha dari PT Alkatara, yakni Hj Id, pernah berniat membeli lahannya. Bahkan, sempat dicapai kesepakatan harga tanah Rp15.000/meter persegi. Kesepakatan bahkan tertuang dalam kertas, di mana Hj Id akan memberi panjar sebagai uang muka sebesar Rp1 miliar.
 "Namun, hingga sekarang, Hj Id tidak pernah lagi berhubungan, malah perusahaannya sudah menggarap lahan milik saya untuk dijadikan pelsus, tanpa ada ganti rugi sepeserpun kepada saya sebagai pemilik lahan, sebagaimana akta waris dari almarhum orangtua saya," ungkapnya menyesalkan.
 Kasus ini sendiri kabarnya mencuat sejak 2005 lalu. Bahkan, sempat terjadi ketegangan antara buruh pembangunan pelsus dengan keluarga besar Hj Rahmaniah. Dipimpin Habib Muhdar, kegiatan pembangunan pelsus sempat dihentikan lewat aksi blokade, sehingga aktivitas pembangunan sempat terhenti.
 "Namun, belum lagi masalah ini klir, aktivitas pembangunan kembali dilanjutkan beberapa bulan terakhir. Saya hanya meminta keadilan. Saya belum pernah menerima sepeserpun uang dari kedua perusahaan tersebut. Jika masalah ini tidak diselesaikan dengan baik-baik, maka terpaksa saya akan mengadukan hal ini ke Polda Kalsel," bebernya.
 Menurutnya, dirinya pernah membawa masalah ini ke Polsek Kintap maupun Polres Tala. Hanya saja, masalah tersebut tak juga kunjung diusut.
 Sementara itu, Kasat Reskrim Polres Tala, AKP Donny SIK mengaku belum pernah mendengar kasus tersebut. "Ketika saya bertugas beberapa bulan terakhir, saya tidak pernah mengetahui ada berkas kasus ini. Coba nanti saya akan cek lagi," ujarnya.
 Sebagaimana diketahui, Hj Rahmaniah mengaku tanah miliknya sudah digarap tanpa ganti rugi oleh dua pelsus tersebut tersebut, masing-masing PT BHM seluas kurang lebih 40 hektar dan PT Alkatara seluas kurang lebih 20 hektar.
 Dikisahkan, pada 2003, dirinya pernah didatangi kades yang menginformasikan bahwa ada seorang pengusaha, berinisial Hj Id dari PT Alkatara yang berminat memakai lahannya untuk dijadikan pelsus.
 Tiba-tiba, lanjutnya, PT Alkatara mulai membangun pelsus tanpa sepengetahuannya. Setelah dicek, ternyata PT Alkatara mengklaim sudah mengantongi 15 buah segel seluas 20 hektar, yakni berdasar hasil pembelian dari Kades Sei Cuka, H Him. "Padahal, saya sama sekali tidak pernah menjual tanah itu kepada siapa pun juga, kenapa tiba-tiba Pt Alkatara bisa mempunyai segel yang katanya didapat dari H Him," cetusnya.
 Ironisnya, PT BHM yang disinyalir milik R Bng, pengusaha asal Teluk Tiram, Banjarmasin, juga dituding H Rahmaniah telah menduduki lahan miliknya seluas 40 hektar, di mana PT BHM merasa memiliki setelah membeli tanah itu juga dari H Him. adi




No comments: